Si ibu memang produk patriaki, yang terlahir dan memiliki suami dengan produk sejenis. Sungguh miris, di mana ada pemahaman dalam otak bahwa perempuan harus menikah dalam usia belia, lalu menjadi ibu muda dan melayani suami seumur hidup. Kalau bisa cari suami kaya biar bahagia selamanya. Bila telat nantinya akan dianggap mempermalukan keluarga, karena dianggap tidak laku.
Saya menemukan beberapa stigma bahwa:
Ada begitu banyak perempuan yang tidak bahagia dalam pernikahannya.
Namun mereka mau tidak mau menjalankan pernikahannya, hanya karena malu, mikirin apa kata orang, dan membingungkan tentang biaya hidupnya. Dengan kondisi seperti itu, mereka tetap menjadi predator yang gemar membandingkan pernikahannya dengan perempuan lain.
Sorry to say.
Bisa saya pastikan bahwa pada umumnya perempuan patriarki adalah orang-orang yang tidak sependapat dengan hal ini. Bisa jadi mereka mengenyam pendidikan tinggi, namun itu demi formalitas semata. Tidak ada keinginan untuk menggali potensi diri lebih dalam. Akhirnya mereka selalu berpikir dirinya akan berharga jika memiliki suami, anak, rumah mewah, dan sebagainya.
BACA JUGA : Presiden Jokowi Tegaskan Tahapan Pemilu Mulai Juni 2022
Sangat disayangkan jika kita hanya sekadar hidup. Di mana kita dipenjara oleh stigma: saya lahir utk nantinya menikah dan melahirkan lagi. Padahal hidup lebih dari itu.
Ketika Tuhan menciptakan kita, Ia memberi potensi besar dalam diri untuk menjadi pembawa perubahan dan dampak. Beragam potensi pastinya!
Pernikahan yang benar akan memanusiakanmu, memberdayakanmu, dan memberikan dukungan penuh kepadamu utk menjadi dampak. Lelaki yang terancam dgn potensi pasangannya, sudah pasti produk patriaki yang tidak mau mengupgrade diri. Laki-laki ini sudah terlena di zona nyaman, sehingga pasangan jadi ancaman baginya.














