Menikahlah jika engkau siap untuk menikah, bukan karena stigma dianggap sudah tua, bahkan tidak laku. Untuk apa menikah jika engkau hanya dibonsai dan dipadamkan potensinya?
Miris bukan? Tapi ini terjadi. Saya melihat sangat banyak contoh, di mana para perempuan bertahan pada pernikahannya hanya karena malu apa kata orang, uang, dan status sosial. Sementara jiwanya tersiksa dan terpenjara.
Ladies.
kita ini makhluk yg diciptakan dibekali otak, potensi, dan kepandaian yang setara dengan laki-laki. Kenalilah potensi itu, galilah hingga kita mampu menjadi dampak.
BACA JUGA : Kebersamaan dan Gotong Royong dalam melakukan Vaksinasi menjadi Social Responsibility
Bisa jadi Anda akan sangat diperhitungkan, baik dalam hal materi, kualitas, bahkan jabatan.
Keluarlah dari kotakmu, agar tidak lagi menjadi katak dalam tempurung korban stigma patriaki. Pernikahan bukan sebuah pencapaian tertinggi dalam hidup ini. banggalah ketika kamu bisa menjadi dampak, bukan karena gaya hidup yang hura-hura namun minim prestasi. (*)
*) Penulis adalah Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya














