Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 14 Apr 2022 21:40 WIB ·

Marriage Is Not The Highest Achievement In Life, Perempuan Hiduplah Lebih dari Sekedar Itu


 Marriage Is Not The Highest Achievement In Life, Perempuan Hiduplah Lebih dari Sekedar Itu Perbesar

Tentu tidak ada salahnya jika banyak orang yang menjadikan pernikahan sebagai sebuah pencapaian. Sebagaimana punya anak. Kalau sebelumnya kita sudah berjuang melalui banyak cara dan menanti bertahun-tahun untuk punya anak, tentu punya anak akan jadi sebuah pencapaian. Iya, kan?.

Dengan kejadian hal itu saya lebih suka menjadikan pernikahan sebagai sebuah rute jalan, bukan pencapaian. Karena jika dijadikan pencapaian, secara tidak sadar kita akan membanding-bandingkan dengan orang lain. Inilah yang kemudian jadi masalah.

Menjadikan standar diri sendiri untuk mengukur dan menghakimi pilihan orang lain. Jadi problemnya sebenarnya bukan karena menganggap pernikahan sebagai pencapaian, tapi mengukur pencapaian orang lain dengan pencapaian diri sendiri. Inilah yang kemudian menjadi pembunuh kebahagiaan.

BACA JUGA : Eksponen Aktivis Banten Nilai Erick Thohir Gagal Jadi Menteri BUMN

Selain itu, menjadikan pernikahan sebagai pencapaian secara tidak langsung juga membuat banyak orang menganggap pernikahan sebagai sebuah solusi hidup. Ditambah banyaknya kampanye selebgram untuk nikah muda, lengkaplah sudah derita dan tekanan batinmu wahai generasi Millenial yang belum nikah. Seakan-akan menikah itu semudah membalik telapak tangan.

Padahal di sana ada tanggung jawab yang luar biasa. Maka dari itu, dibutuhkan modal mental, spiritual, dan finansial yang cukup agar pernikahan bisa bertahan. Bagaimana mungkin cinta bisa bertahan sementara perut terus keroncongan?

Berangkat dari itu semua, saya lebih memilih memahami pernikahan sebagai rute perjalanan, bukan sebagai pencapaian. Karena jika dipahami sebagai rute perjalanan, pernikahan tidak akan dibanding-bandingkan.

BACA JUGA   Promosi Perkawinan Anak dan Siri Meresahkan
Artikel ini telah dibaca 113 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ansor Banser PAC Serang Gelar Santunan Anak Yatim dalam Peringatan Harlah ke-92 GP Ansor

24 April 2026 - 16:01 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini