Tentu tidak ada salahnya jika banyak orang yang menjadikan pernikahan sebagai sebuah pencapaian. Sebagaimana punya anak. Kalau sebelumnya kita sudah berjuang melalui banyak cara dan menanti bertahun-tahun untuk punya anak, tentu punya anak akan jadi sebuah pencapaian. Iya, kan?.
Dengan kejadian hal itu saya lebih suka menjadikan pernikahan sebagai sebuah rute jalan, bukan pencapaian. Karena jika dijadikan pencapaian, secara tidak sadar kita akan membanding-bandingkan dengan orang lain. Inilah yang kemudian jadi masalah.
Menjadikan standar diri sendiri untuk mengukur dan menghakimi pilihan orang lain. Jadi problemnya sebenarnya bukan karena menganggap pernikahan sebagai pencapaian, tapi mengukur pencapaian orang lain dengan pencapaian diri sendiri. Inilah yang kemudian menjadi pembunuh kebahagiaan.
BACA JUGA : Eksponen Aktivis Banten Nilai Erick Thohir Gagal Jadi Menteri BUMN
Selain itu, menjadikan pernikahan sebagai pencapaian secara tidak langsung juga membuat banyak orang menganggap pernikahan sebagai sebuah solusi hidup. Ditambah banyaknya kampanye selebgram untuk nikah muda, lengkaplah sudah derita dan tekanan batinmu wahai generasi Millenial yang belum nikah. Seakan-akan menikah itu semudah membalik telapak tangan.
Padahal di sana ada tanggung jawab yang luar biasa. Maka dari itu, dibutuhkan modal mental, spiritual, dan finansial yang cukup agar pernikahan bisa bertahan. Bagaimana mungkin cinta bisa bertahan sementara perut terus keroncongan?
Berangkat dari itu semua, saya lebih memilih memahami pernikahan sebagai rute perjalanan, bukan sebagai pencapaian. Karena jika dipahami sebagai rute perjalanan, pernikahan tidak akan dibanding-bandingkan.














