Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 14 Apr 2022 21:40 WIB ·

Marriage Is Not The Highest Achievement In Life, Perempuan Hiduplah Lebih dari Sekedar Itu


 Marriage Is Not The Highest Achievement In Life, Perempuan Hiduplah Lebih dari Sekedar Itu Perbesar

Karena sebagaimana rute perjalanan yang lain, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan dengan menjadikan pernikahan sebagai sebuah rute perjalanan, kita tidak akan merasa harus melakukannya sebagaimana jika menganggapnya sebagai sebuah pencapaian. Sebagaimana selera tentang buku, musik, dan film.

Tidak ada selera yang benar dan salah. Karena selera itu pengalaman pribadi. Hanya karena kita menyukai Jazz, bukan berarti kita lebih baik daripada yang menyukai dangdut koplo. Begitupun dengan pernikahan. Hanya karena kita memilih untuk menikah (lebih dulu), bukan berarti kita lebih baik daripada yang belum menikah atau memilih untuk tidak menikah.

Menikah atau tidak itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kita merasa berhak untuk mengomentari apalagi mengatur hidup orang lain berdasarkan nilai dan standar hidup yang kita pegang. Karena pada akhirnya, hidup adalah perjalanan.

BACA JUGA : Prospek Agenda Reformasi : Amandemen UUD 1945 di Indonesia dalam Bidang Politik dan Ekonomi Ditinjau Berdasarkan Historis

Ada banyak sekali rute dan cara menikmati perjalanan dalam hidup ini. Ada yang memilih menikmati perjalanan dengan berkeluarga, ada yang memilih menikmati perjalanan seorang diri, ada yang memilih menikmati perjalanan dengan berkeliling dunia, ada yang memilih menikmati perjalanan dengan berinteraksi bersama keluarga di rumah saja. Dan semua sah-sah saja. Tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lainnya.

Perempuan terlahir bukan untuk menjadi mesin penghasil anak dan babu rumah tangga. Berabad-abad pola pikir patriaki selalu menjadikan perempuan kelas nomor dua, di mana perempuan harus terus hidup dibawah bayang-bayang stigma.

Beberapa waktu lalu, saya kembali bertemu dengan seorang ibu yang dibayangi kekhawatiran karena putrinya belum kunjung menikah. Beliau mulai bercerita betapa ia stress dengan usia putrinya, bahkan membandingkan dengan teman-temannya yang juga memiliki anak perempuan.

BACA JUGA   Jepang Tanamkan Investasi di Indonesia hingga Rp 85 Triliun

Ini kebiasaan kita sebagai manusia bukan? Senang membandingkan diri kita dengan yang lain. Senang membandingkan penderitaan dengan yang lain. Ga heran! Ini sifat alamiah manusia toh

Perempuan sejatinya sangat bertalenta, smart dan mandiri. Bahkan dalam usia yang sangat muda perempuan dapat meraih banyak penghargaan. Yang (seharusnya) lebih membahagiakan, ia begitu menikmati kehidupannya. Namun semua berubah ketika sang ibu mulai menjadi Predator, yang meneror bputrinya dengan mengatakan bahwa ia adalah perawan tua dan harus segera menikah.

Artikel ini telah dibaca 113 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ansor Banser PAC Serang Gelar Santunan Anak Yatim dalam Peringatan Harlah ke-92 GP Ansor

24 April 2026 - 16:01 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini