Karena sebagaimana rute perjalanan yang lain, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan dengan menjadikan pernikahan sebagai sebuah rute perjalanan, kita tidak akan merasa harus melakukannya sebagaimana jika menganggapnya sebagai sebuah pencapaian. Sebagaimana selera tentang buku, musik, dan film.
Tidak ada selera yang benar dan salah. Karena selera itu pengalaman pribadi. Hanya karena kita menyukai Jazz, bukan berarti kita lebih baik daripada yang menyukai dangdut koplo. Begitupun dengan pernikahan. Hanya karena kita memilih untuk menikah (lebih dulu), bukan berarti kita lebih baik daripada yang belum menikah atau memilih untuk tidak menikah.
Menikah atau tidak itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kita merasa berhak untuk mengomentari apalagi mengatur hidup orang lain berdasarkan nilai dan standar hidup yang kita pegang. Karena pada akhirnya, hidup adalah perjalanan.
Ada banyak sekali rute dan cara menikmati perjalanan dalam hidup ini. Ada yang memilih menikmati perjalanan dengan berkeluarga, ada yang memilih menikmati perjalanan seorang diri, ada yang memilih menikmati perjalanan dengan berkeliling dunia, ada yang memilih menikmati perjalanan dengan berinteraksi bersama keluarga di rumah saja. Dan semua sah-sah saja. Tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lainnya.
Perempuan terlahir bukan untuk menjadi mesin penghasil anak dan babu rumah tangga. Berabad-abad pola pikir patriaki selalu menjadikan perempuan kelas nomor dua, di mana perempuan harus terus hidup dibawah bayang-bayang stigma.
Beberapa waktu lalu, saya kembali bertemu dengan seorang ibu yang dibayangi kekhawatiran karena putrinya belum kunjung menikah. Beliau mulai bercerita betapa ia stress dengan usia putrinya, bahkan membandingkan dengan teman-temannya yang juga memiliki anak perempuan.
Ini kebiasaan kita sebagai manusia bukan? Senang membandingkan diri kita dengan yang lain. Senang membandingkan penderitaan dengan yang lain. Ga heran! Ini sifat alamiah manusia toh
Perempuan sejatinya sangat bertalenta, smart dan mandiri. Bahkan dalam usia yang sangat muda perempuan dapat meraih banyak penghargaan. Yang (seharusnya) lebih membahagiakan, ia begitu menikmati kehidupannya. Namun semua berubah ketika sang ibu mulai menjadi Predator, yang meneror bputrinya dengan mengatakan bahwa ia adalah perawan tua dan harus segera menikah.














