Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Nasional · 15 Agu 2020 16:12 WIB ·

Indonesia, Mutiara Pemikat Dunia


 Indonesia, Mutiara Pemikat Dunia Perbesar

Tinjauan Historis Era Penjajahan Kolonial

Karena Indonesia telah dikenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah yang bermula dari Malaka, bangsa Eropa mulai mendengar cerita-ceritanya dan menggoda bangsa Portugis untuk berlayar menuju Indonesia. Pada tahun 1511, Portugis menaklukkan Malaka dibawah pimpinan Alfonso de Albuqurque. Tidak hanya Portugis, Belanda juga mulai tertarik untuk memasuki jaringan perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara.

Tetapi pada akhirnya, perdagangan rempah-rempah ke Eropa malah merugikan karena persaingan bangsa Eropa membuat harga rempah di Nusantara menjadi mahal dan harga jual di Eropa menjadi murah. Maka dari itu, Belanda merumuskan untuk menggabungkan semua badan usaha pesaing menjadi satu dengan nama Serikat Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oost Indische Compagnie, disingkat VOC).

 Eksploitasi penjajah pun berlanjut hingga tahun 1619 dimana pendudukan Jawa oleh VOC dan itu menjadi bagian terkelam sejarah Indonesia. Dimulai dari pendirian Batavia, dan setelahnya VOC menjadi sangat berperan dalam politik pulau Jawa dan melakukan perang dengan Mataram dan Banten beberapa kali. Pada tahun 1800, VOC mengalami kebangkrutan dan sempat dibubarkan dan Thomas Stamford Raffles ditunjuk untuk ambil alih.

Pada tahun 1830, Belanda menerapkan Cultuurstelsel dan membawa Belanda dan Indonesia menuju kemakmuran tetapi dihapus pada tahun 1870. Setelah itu, Belanda mulai menerapkan Politik Etis, dimana Belanda memberikan inverstasi bagi Pendidikan orang pribumi, pada tahun 1901 sebagai upaya lainnya untuk merayu masyarakat Indonesia yang masih kurang berpendidikan.

Dengan demikian, Indonesia sejak era perjuangan dan penjajahan, telah menjadi tanah rebutan dari bangsa-bangsa barat (eropa), yang tertarik dengan geografi kewilayahan yang sangat produktif dan  mampu menghasilkan beragam hasil bumi yang tak dimiliki oleh negara-negara lain. Bila kita kembali mencermati lirik lagu “Bukan lautan tapi kolam susu. Kail dan jala menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan  udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surge. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Cuplikan lirik lagu karya Koes Plus tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa negeri Indonesia ini adalah negeri yang sangat kaya, subur dan makmur. Kail dan jala menghidupimu mengandung makna bahwa lautan Indonesia itu luas dan memiliki hasil yang mampu menghidupi segenap bangsa Indonesia. 

BACA JUGA   Kebijakan PSE Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman bermakana bahwa suburnya tanah Indonesia seakan  menjadi tanah surga, ibarat menancapkan sebilah kayu dan seonggok batu pastilah tumbuh tanaman. Sungguh Indonesia adalah tanah surga, sampai bangsa kompeni dan bangsa matahari terbit pun berusaha menguasai sumberdaya alam kita pada waktu itu.

Lalu timbul pertanyanya yang agak krtitis kritis soal Indoensia sebagai tanah surga, apakah sampai saat ini tanah surga itu masih tetap ada?. Saya kira jawaban sederhananya adalah kita perlu mengamati secara lebih serius soal dinamika kebangsaan, keIndonesiaan, dan sederet kebijakan – kebijak stakeholders tentang pembangunan nasional.

Tentang apapun yang berkaiatan dengan spirit pembangunan diInodnesia dari masa kemasa, sehingga dengan demikian, kita mampu memiliki perspektif memahami Indonesia sebagai negeri yang diharapkan kompetitif dalam menghadapi tantangan dan kebutuhan zaman.

Sebagai warga bangsa,  mungkin salah satu yang harus menjadi konsentrasi bersama adalah memupuk kemampuan setiap warga negara dengan format atau formulasi pendidikan yang jauh lebih kreatif serta inovatif.

Hal ini sangatlah penting, sebab Indonesia memiliki kultur masyarakat yang religius dan masih menghargai nilai-nilai local wisdom sebagai ajaran substantif yang masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Warisan karuhun tentang bagaimana menjalani siklus kehidupan, dapat kita temukan pada komunitas masyarakat adat diberbagai belahan daerah diIndonesia. Sebut saja misalnya suku Baduy, sebuah suku yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi sebagai nafas kehidupan bagi mereka.

Suku ini terbilang salah suku tertua dinusantara, mereka sejak ratusan tahun telah hidup menyatu dengan alam, dan salah satu pesan sakral suku Baduy yang paling populer adalah Gunung nteu meunang dilebur. Lebak nteu meunang diruksak. Lojor nteu meunang dipotong. Pendek nteu meunang disambung. Artinya, gunung tak boleh dihancurkan. Lembah tak boleh dirusak. Panjang tak boleh dipotong. Pendek tak boleh disambung.

Artikel ini telah dibaca 104 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

400 Tahun Syekh Yusuf Masuk Agenda UNESCO, AMSY Usulkan Film Layar Lebar

29 April 2026 - 14:52 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Perdagangan Melalui Sistem Elektronik Dominasi Penerimaan Pajak Digital, Setor Rp37,40 Triliun

2 April 2026 - 13:29 WIB

Penerimaan Pajak Kanwil DJP Banten Tumbuh 12,65 Persen hingga Februari 2026

1 April 2026 - 16:19 WIB

Trending di Ekonomi