Kita mungkin agak sulit membayangkan, betapa daratan Indonesia dipenuhi oleh lautan hijau berupa lahan pertanian, yang bisa jadi memikat perhatian dunia internasional, untuk membidik negeri ini sebagai Tanah Masa Depan untuk cadangan kebutuhan generasi mendatang.
Hal ini sejalan seperti yang diungkap oleh Noval Yuah Harari dalam bukunya ‘Homo Deus’ bahwa negeri – negeri yang memiliki kekayaan alam adalah negeri yang mampu bertahan diera yang akan datang.
Harari dalam bukunya lebih jauh mengulas soal bagaimana mental personality dapat dibangun terlebihdahulu sebelum kita memasuki era 4.0. Sebab, kekayaan sumber daya alam pada hakikatnya benda mati yang mesti dikelola secara arif dan bijaksana oleh manusia sebagai pewaris alam abad dua puluh satu.
Harari mencoba merefleksi hasil risetnya tentang manusia Tuhan. Dimana ia menyebut masa depan umat manusia ditentukan oleh apa yang hendak dieksekusi untuk sebuah tatanan baru, kebudayaan baru, dan kehidupan baru yang diimajenasikan oleh fikiran manusia tentang masa depan.
Dengan kata lain, manusia sebenarnya memiliki potensi-potensi luar biasa yang sanggup memecahkan problematika kehidupan umat manusia dimasa depan, dengan gerakan inovasi dan lompatan teknologi yang tak terbayangkan sebelumnya.
Argumen Harari tentang ‘manusia’ sepertinya masih koheren dengan apa yang disebut sebagai manusia Micro Cosmos, dalam kajian filosofis disebut sebagai manusia adalah semesta mini yang terdiri dari berbagai element.














