Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 23 Agu 2020 09:20 WIB ·

Anak Singkong di Masa Paceklik Pandemi


 Anak Singkong di Masa Paceklik Pandemi Perbesar

Singkong memang komoditas ekspor, tapi pamor-nya belum bisa menggantikan beras. Sampai masanya, pasokan beras anjlok. Pertumbuhan pendudukan di Pulau Jawa, tidak berbanding lurus pertumbuhan beras. Ditambah lagi, beras terlambat dipanen. Bahkan gagal panen.

Singkong mulai jadi alternatif. Apalagi, penanamannya relatif mudah, dan dapat dipanen kapan saja. Pertumbuhannya juga dapat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Singkong pun menggantikan beras di berbagai bagian Jawa Tengah yang mulai paceklik beras. 

Singkong menjadi sumber pangan tambahan yang disukai masa itu. Dari pertumbuhan tersebut muncul istilah anak singkong. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosantoso dalam Sejarah Nasional V, menamakan peristiwa istilah “anak singkong” sebagai perumpamaan anak yang lahir karena suburnya sang orangtua. Anak yang tumbuh dengan alam. Istilah yang juga dipakai anak-anak bumiputera sebagai lawan “anak keju” atau anak-anak Belanda. 

Sampai masa kini, komoditas singkong sebenarnya cukup potensial. Kompas pada September lalu memberitakan, Indonesia peringkat keempat di dunia penghasil singkong. Tertinggal dari Nigeria, Thailand, dan Brasil. Jumlah yang dihasilkan per tahun Nigeria berkisar 57 juta ton. Diikuti Thailand dengan kisaran 30 juta ton, dan Brasil dengan kisaran 23 juta ton. Indonesia sendiri memproduksi sekitar 20-21 juta ton singkong. 

Hanya saja, singkong masih menjadi dilema masyarakat. Singkong masih dipandang sebelah mata, masih menjadi komoditas kelas kesekian. Pada satu sisi, Indonesia malah melakukan impor singkong dari negara lain, seperti Thailand.

Belum lagi efek politisasi beras mengubah cara pikir sebagian besar masyarakat. Kita seolah-olah berpikiran hanya beras satu-satunya makanan utama sumber karbohidrat. Kita pun sering kali mendengar istilah, “belum makan kalau belum makan nasi. Sekalipun sudah makan roti, atau makan berkarbohidrat lainnya.”

BACA JUGA   Rumah Pintar Pemilu dan Spirit Ki Mas Jong

Apalagi, kalau cuma makan singkong. Komoditas yang reputasinya di kalangan pakar ekonomi pertanian pun, masih belum sepadan dengan padi. Bahkan, pengonsumsinya masih dipandang sebagai tanda kemiskinan.

Padahal, di tengah pandemi Covid-19, singkong bisa menjadi makanan alternatif. Pengganti beras di masa krisis. Apalagi, jika benar-benar paceklik akibat pandemi. Kita bisa menanamnya dengan memanfaatkan pelataran atau pekarangan rumah. Toh, lagi marak-maraknya orang hobi menanam semasa pandemi ini.

Teman saya, Hanief Assabib Rosyid, jauh-jauh hari pernah ngomong. “Tadi pas rapat di Masjid, aku terbesit gagasan soal preventif cegah covid dengan bingkai sosial,” katanya via pesan WhatsApp, awal-awal kita lagi parno-parnonya soal Covid-19.

Ia mencontohkan langkah gerakan itu lewat program “jimpitan” di desanya. Buat yang belum tahu, “jimpitan” ini, kita menaruh uang receh Rp 500 sampai Rp 2 ribu atau seikhlasnya. Uang itu ditaruh pada kaleng atau wadah di depan rumah. Nantinya, warga yang ronda keliling akan mengambilnya. Uang itu sebagai uang rokok, atau kopi. Bebas saja sesuai keperluan yang meronda.

Artikel ini telah dibaca 94 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Kepemilikan Media dan Dukungan Politik

15 Maret 2026 - 19:26 WIB

Trending di Opini