Singkong memang komoditas ekspor, tapi pamor-nya belum bisa menggantikan beras. Sampai masanya, pasokan beras anjlok. Pertumbuhan pendudukan di Pulau Jawa, tidak berbanding lurus pertumbuhan beras. Ditambah lagi, beras terlambat dipanen. Bahkan gagal panen.
Singkong mulai jadi alternatif. Apalagi, penanamannya relatif mudah, dan dapat dipanen kapan saja. Pertumbuhannya juga dapat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Singkong pun menggantikan beras di berbagai bagian Jawa Tengah yang mulai paceklik beras.
Singkong menjadi sumber pangan tambahan yang disukai masa itu. Dari pertumbuhan tersebut muncul istilah anak singkong. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosantoso dalam Sejarah Nasional V, menamakan peristiwa istilah “anak singkong” sebagai perumpamaan anak yang lahir karena suburnya sang orangtua. Anak yang tumbuh dengan alam. Istilah yang juga dipakai anak-anak bumiputera sebagai lawan “anak keju” atau anak-anak Belanda.
Sampai masa kini, komoditas singkong sebenarnya cukup potensial. Kompas pada September lalu memberitakan, Indonesia peringkat keempat di dunia penghasil singkong. Tertinggal dari Nigeria, Thailand, dan Brasil. Jumlah yang dihasilkan per tahun Nigeria berkisar 57 juta ton. Diikuti Thailand dengan kisaran 30 juta ton, dan Brasil dengan kisaran 23 juta ton. Indonesia sendiri memproduksi sekitar 20-21 juta ton singkong.
Hanya saja, singkong masih menjadi dilema masyarakat. Singkong masih dipandang sebelah mata, masih menjadi komoditas kelas kesekian. Pada satu sisi, Indonesia malah melakukan impor singkong dari negara lain, seperti Thailand.
Belum lagi efek politisasi beras mengubah cara pikir sebagian besar masyarakat. Kita seolah-olah berpikiran hanya beras satu-satunya makanan utama sumber karbohidrat. Kita pun sering kali mendengar istilah, “belum makan kalau belum makan nasi. Sekalipun sudah makan roti, atau makan berkarbohidrat lainnya.”
Apalagi, kalau cuma makan singkong. Komoditas yang reputasinya di kalangan pakar ekonomi pertanian pun, masih belum sepadan dengan padi. Bahkan, pengonsumsinya masih dipandang sebagai tanda kemiskinan.
Padahal, di tengah pandemi Covid-19, singkong bisa menjadi makanan alternatif. Pengganti beras di masa krisis. Apalagi, jika benar-benar paceklik akibat pandemi. Kita bisa menanamnya dengan memanfaatkan pelataran atau pekarangan rumah. Toh, lagi marak-maraknya orang hobi menanam semasa pandemi ini.
Teman saya, Hanief Assabib Rosyid, jauh-jauh hari pernah ngomong. “Tadi pas rapat di Masjid, aku terbesit gagasan soal preventif cegah covid dengan bingkai sosial,” katanya via pesan WhatsApp, awal-awal kita lagi parno-parnonya soal Covid-19.
Ia mencontohkan langkah gerakan itu lewat program “jimpitan” di desanya. Buat yang belum tahu, “jimpitan” ini, kita menaruh uang receh Rp 500 sampai Rp 2 ribu atau seikhlasnya. Uang itu ditaruh pada kaleng atau wadah di depan rumah. Nantinya, warga yang ronda keliling akan mengambilnya. Uang itu sebagai uang rokok, atau kopi. Bebas saja sesuai keperluan yang meronda.














