Begitulah ide. Semua hal bisa menjadi mahal atau nilai lebih karena kreativitas dan inovasi. Mungkin juga karena faktor tempat atau image, Seperti juga kopi hitam yang mulanya hanya seharga Rp3 sampai Rp5 ribu saja, bisa menjadi Rp 15 sampai Rp 35 ribu, bahkan lebih hanya dengan ganti nama black coffee.
Apalagi, kalau sudah diolah sedemikian rupa dengan tambahan-tambahan toping, yang bagus buat selfie dan diunggah ke Instagram, Twitter atau Facebook. Yang biasa-biasa saja menjadi seolah wah, yang murah bisa jadi mahal. Meski itu cuma “bodin”, kreasi ide dan inovasi: penamaan, penyajian, dan pengemasan tambahan, menjadikannya mahal atau punya nilai lebih.
Bicara soal singkong memang unik. Seringkali dipersepsikan terbalik. Bahkan salah kaprah. Dalam serial film yang tayang di salah satu televisi swasta, singkong digambarkan untuk simbol ke-udik-an. Bahasa yang lebih halus, untuk menyebut orang berlatar belakang dari desa. Biasanya dilawankan dengan keju untuk menggambarkan karakteristik orang kota.
Misalnya, dalam film berjudul “Antara Singkong dan Cinta Dara. Pada intinya, singkong menggambarkan karakter orang desa, lugu, polos, tapi jujur. Sedangkan, keju menggambarkan orang kota yang kelihatan modern, trendy, gaul, dan kadang arogan. Kendati, pada akhirnya singkong bisa memberikan nilai lebih pada jalan cerita sinetron Indonesia yang alurnya mudah ditebak.
Singkong yang identik dengan karakter desa juga tergambar dalam lagu berjudul “Singkong dan Keju” karangan Arie Wibowo. Lagu yang dinyanyikan Bill and Brod, dan populer pada dekade 1980-an itu, bercerita tentang cinta dalam perbedaan status. Liriknya menggambarkan dengan jelas. “Selera kita terlalu jauh, berbeda. Parfummu dari Paris, sepatumu dari Itali. Kau bilang demi gengsi, semua serba luar negeri. Mana mungkin mengikuti caramu…. Aku suka jaipong, kau suka disko. Aku suka singkong, kau suka keju…”
Entah mengapa singkong begitu identik dengan gambaran pedesaan. Padahal, tanaman ini aslinya ya impor dari Amerika Selatan. Orang-orang Portugis-lah yang mendatangkannya melalui daerah Maluku pada abad ke-16. Lalu, merambah hingga Jawa Timur pada sekira 1852-an dan terus meluas ke seluruh ke Kawasan Pulau Jawa.
Lambat laun tanaman singkong mulai merata hampir di seluruh Pulau Jawa pada permulaan abad 20. Konsumsi singkong mulai meningkat seiring juga budidayanya yang semakin meluas. Bahkan, di Pulau Jawa banyak sekali didirikan pabrik-pabrik pengolah singkong.Hindia Belanda (nama Indonesia masa itu) pernah menjadi salah satu pengekspor singkong terbesar di dunia.
Catatan kontrolir Belanda, dalam Handbook of the Nederlands East Indies mencatat, pada 1928 mengekspor 21,9 persen produksi singkong (tepung tapioka) ke Amerika Serikat, 16,7 persen ke Inggris, 8,4 persen ke Jepang. Kemudian, tujuh persen ke Belanda, Belanda, Jerman, Belgia, Denmark, dan Norwegia. Selain untuk bahan makanan, biasanya olahan singkong dimanfaatkan sebagai bahan baku lem, permen karet, industri tekstil dan furniture.














