Aktivitas itu menurutnya, bisa dikembangkan sebagai sensus kultural. Mudahnya, model sensus harian kesehatan warga. Tujuannya, untuk mendeteksi grafik kesehatan warga setempat. Setidaknya informasi awal yang melibatkan partisipasi warga. Jika ada indikasi tanda-tanda yang mengarah ke covid-19, langsung melapor ke petugas desa atau tim medis puskesmas terdekat.
Yang lebih penting disampaikan Hanief, soal antisipasi dampak sosial, ekonomi, dan pangan. Banyak, sektor usaha yang terhenti terdampak Covid-19. Pendapatan warga anjlok. Sementara, semua masih fokus pada antisipasi penularan. Tapi tidak ada yang berbicara ketahanan pangan jika krisis benar-benar terjadi.
Menurutnya, kearifan lokal bisa menjadi medium gerakan inisiasi. “Aku bayangkan presiden tidak dengan pendekatan anggaran untuk selesaikan kebutuhan, tapi gerakan menanam,” katanya. Lalu membumbui lewat perkataan Soekarno, “bahwa kita bangsa besar, mampu prihatin dan berjiwa besar.”
Kohesi sosial warga kita menjadi modal besar. Aktivitas jimpitan dapat digerakan menjadi forum gerakan sosial warga. Salah satunya gerakan menanam bersama. “Bayangkan jika masing-masing desa menginisiasi tanam polo pendem, sumber karbohidrat.” Gerakan tanam pangan ini, bisa secara perorangan. Tapi, jauh lebih baik, jika digerakan secara kolektif; dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Lahannya bisa pada milik perorangan, atau lahan tidur di desa/kelurahan yang tidak difungsikan.
Yang jelas, gerakan menanam singkong dan polo pendem itu sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya paceklik atau krisis pangan di masa pandemi. Syukur-syukur, bisa berjalan berkelanjutan menjadi agenda sosial. Cita-cita besarnya, tentu saja berdikari dengan pangan, dan jaminan sosial atas pangan warga yang tidak bekerja, atau menambah nilai ekonomis jika pandemi mereda.
Kenapa singkong atau polo pendem yang dipilih? Ya, karena jenis tanaman tersebut familiar. Lagi pula, mudah ditanam, dan tidak memerlukan perlakuan khusus. Bahkan, bisa dipanen kapan saja saat dibutuhkan darurat.
Yuddy Chrisnandi semasa menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, pernah juga pernah bilang pentingnya singkong. Bahkan, dengan mengeluarkan surat edaran bernomor 10 Tahun 2014. Surat itu isinya, agar semua instansi pemerintahan menyediakan makanan lokal, seperti singkong. Hal itu, untuk menghargai petani, dan merangsang orang bercocok tanam. Makan singkong juga tidak berpotensi besar menimbulkan penyakit.
Sayang, surat yang diberlakukan mulai 1 Desember 2014 itu, hanya seumur masa jabatannya. Kini, tidak lagi terdengar keberlanjutannya. Seperti juga program diversifikasi pangan, yang masih sekadar wacana.
Padahal, anak singkong sudah bisa berdamai dengan keju. Singkong sudah menjadi daftar menu kafe-kafe di perkotaan dengan inovasi baru, bernama fried cassava. Monggong disambi singkong dan kopinya, sambil kembali mengingat sepenggal lirik Koes Ploes, bahwa orang bilang, “tanah kita tanah surga, tongkat dan kayu bisa jadi tanaman.” ***
*) Penulis adalah Jurnalis penikmat kopi hitam/Koordinator Journalist Lecture.Dapat dihubungi melalui IG @kensupri, twitter @kensupriy dan FB: Ken Supriyono














