Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 9 Sep 2020 17:27 WIB ·

Mewariskan Generasi, Ki Kaji Menjadi Girang dengan Wayang Garing (II)


 Mewariskan Generasi, Ki Kaji Menjadi Girang dengan Wayang Garing (II) Perbesar

Sang Maestro Dalang

Atas dedikasinya, Ki Kajali berhasil mendulang banyak penghargaan. Yang disebut Nur Seha, penetapan wayang garing sebagai warisan tak benda dari Kemendikbud. Penghargaan dari Gubernur Banten (2008) atas dedikasi memajukan seni budaya Banten. Penghargaan sebagai pelestari nilai tradisi di Universitas yang diberikan oleh Prof. Agus Munandar (2012). Pengisi acara komunitas Tionghoa di Jakarta. Pengisi acara pagelaran Cipta Budaya di Plaza Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2012). Dan, pengisi acara Jakarta Internasional Theater Festival (JITval; 2013).

Menurut hemat saya, Ki Kajali juga telah mempraktikan makna dalang sebagaimana tertulis dalam Serat Centini jilid 6-9. “Dalang iku pat prakara kudu gambuh, dhihin jejanturan, kapindho gendhing kakawin, ping tri mbanyol, kaping pate sesabetan.” Dalang itu harus menguasi empat macam hal: mampu memberikan deskripsi, mengerti tentang gendhing, mampu melucu, dan menguasai gerak-gerak wayang.

Dalang yang dalam Bahasa Prof Teddy, adalah seniman sekaligus juru suluh, juru dakwah, juru hibur, komunikator sosial, dan pelestraian budaya. Mampu mendudukan wayang sebagai wewayangane ngaurip atau simbol kehidupan. Lelakon wayang yang menampilkan tingkah polah manusia dengan berbagai dinamikanya.

Secara sederhana, Ki Kajali berkata kepada saya, kalau bicara materi tidak ada habisnya. “Satu-satunya semangat, saya ingin melestarikan budaya. Kalau saya berhenti, tidak ada yang melestarikan wayang kuno di Banten. Makanya, sampai mati saya akan memainkan wayang ini.”

Dan bagi saya, Ki Kajali telah memenuhi syarat untuk disebut sebagai maestro dalang wayang. Dialah artefak hidup dari berlanjut atau tidaknya wayang garing sebagai warisan budaya di tatar Banten.

***

*Penulis adalah jurnalis – esais dan Koordinator Journalist Lecture di sela waktunya melanjutkan studi magister Ilmu Komunikasi Untirta.

BACA JUGA   Penanganan Pandemi Covid-19 Tahun 2022 Diyakini Lebih Baik
Artikel ini telah dibaca 151 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ansor Banser PAC Serang Gelar Santunan Anak Yatim dalam Peringatan Harlah ke-92 GP Ansor

24 April 2026 - 16:01 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini