Sang Maestro Dalang
Atas dedikasinya, Ki Kajali berhasil mendulang banyak penghargaan. Yang disebut Nur Seha, penetapan wayang garing sebagai warisan tak benda dari Kemendikbud. Penghargaan dari Gubernur Banten (2008) atas dedikasi memajukan seni budaya Banten. Penghargaan sebagai pelestari nilai tradisi di Universitas yang diberikan oleh Prof. Agus Munandar (2012). Pengisi acara komunitas Tionghoa di Jakarta. Pengisi acara pagelaran Cipta Budaya di Plaza Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2012). Dan, pengisi acara Jakarta Internasional Theater Festival (JITval; 2013).
Menurut hemat saya, Ki Kajali juga telah mempraktikan makna dalang sebagaimana tertulis dalam Serat Centini jilid 6-9. “Dalang iku pat prakara kudu gambuh, dhihin jejanturan, kapindho gendhing kakawin, ping tri mbanyol, kaping pate sesabetan.” Dalang itu harus menguasi empat macam hal: mampu memberikan deskripsi, mengerti tentang gendhing, mampu melucu, dan menguasai gerak-gerak wayang.
Dalang yang dalam Bahasa Prof Teddy, adalah seniman sekaligus juru suluh, juru dakwah, juru hibur, komunikator sosial, dan pelestraian budaya. Mampu mendudukan wayang sebagai wewayangane ngaurip atau simbol kehidupan. Lelakon wayang yang menampilkan tingkah polah manusia dengan berbagai dinamikanya.
Secara sederhana, Ki Kajali berkata kepada saya, kalau bicara materi tidak ada habisnya. “Satu-satunya semangat, saya ingin melestarikan budaya. Kalau saya berhenti, tidak ada yang melestarikan wayang kuno di Banten. Makanya, sampai mati saya akan memainkan wayang ini.”
Dan bagi saya, Ki Kajali telah memenuhi syarat untuk disebut sebagai maestro dalang wayang. Dialah artefak hidup dari berlanjut atau tidaknya wayang garing sebagai warisan budaya di tatar Banten.
***
*Penulis adalah jurnalis – esais dan Koordinator Journalist Lecture di sela waktunya melanjutkan studi magister Ilmu Komunikasi Untirta.














