Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa wayang garing perlu diselamatkan? Jawabannya sederhana. Ki Kajali adalah maestro dan satu-satunya dalang yang tersisa. Sementara, wayang garing adalah warisan budaya masyarakat Serang-Banten.
Kendati, pertalian wayang garing tidak bisa dilepaskan dari wayang kulit yang berkembang di daerah Jawa (Tengah dan Timur), dan Bali sekalipun. Ki Kajali sendiri pernah sampaikan itu. Bahwa wayang garing sudah ada sejak masa Kesultanan Banten. Fungsinya sebagai media dakwah dan pengajaran Babad Tanah Banten. (Baca: Bagian I).
Pernyataan Ki Kali pun dibenarkan Nur Seha. Ia menyebut, wayang sudah ada di era Kesultanan Banten, dan mendapat subsidi dari Kesultanan. Masa itu, wayang difungsinya untuk menyebarkan agama Islam. Lakonnya menceritakan perjalanan para Sultan. Kemudian, saat peperangan melawan Belanda, eksistensi wayang meredup lantaran hilangnya subsidi untuk kehidupan grup seniman wayang.
Informasi itu bisa menjadi petunjuk awal penyelamatan wayang garing. Kerja akademik menggali dan melihat ulang asal muasal wayang garing. Juga mengapa wayang garing di Serang-Banten punya pola permainan sendiri. Tidak sesuai pakem sebagaimana wayang kulit di Jawa pada umumnya. Bahkan dimainkan tanpa gamelan dan sinden.
“Hadirnya wayang garing yang berbeda dengan pakem wayang di Jawa, bisa jadi format baru yang menjadi ikon wayang di Banten. Atau jangan-jangan bentuk perlawanan terhadap budaya Jawa. selain juga menunjukkan egaliternya orang Banten,” ucap Bambang Qamaruzzaman berseloroh saat sesi diskusi.
Tapi, itu baru asumsi. Identifikasi awal atas perbedaan menyolok dari tata cara wayang garing dipentaskan. Selain tanpa pakem, sinden, dan gamelan, Nur Seha menyebut, wayang garing dimainkan tanpa naskah. Lebih banyak memperlihatkan lawakan ala Ki Kajali dengan menggunakan Bahasa Jawa Serang-Banten.
Ada beberapa ritual sebelum pementasan. Biasanya disediakan purwanten atau sesaji tujuh rupa. Mulai dari buah-buahan, penganan seperti roti dan kopi pahit dan manis. Selain itu, disediakan bakakak ayam, kue, minuman, kembang, kain putih, kemenyan, rokok, 4 buah ketupat, 4 butir telur dan beras seberat 1 fitrah.
Hanya, itu tak bersifat wajib. Dalam pementasan yang dilihat Nur Seha, ritual tersebut juga tidak dilaksanakan. Pertunjukan disajikan secara santai. Ki Kajali lebih banyak berinteraksi dengan penonton menggunakan bahasa daerah (Jawa Serang).
Sentral dari pertunjukan itu adalah dalangnya sendiri. Ia merangkap sebagai pesinden dan perawit. Waditra yang dipergunakan adalah seperangkat wayang kulit; kain putih sebagai layar; batang pisang untuk menancapkan wayang; kotak wayang sebagai alat penyimpanan wayang; cempala dari bahan kayu untuk memukul kotak wayang dalam pertunjukan; kecrek atau keprak dari logam besi atau perunggu sebagai penguat penonjolan gerak wayang; belencong atau lampu sebagai penerang pada pertunjukan di malam hari. Busana, tidak ada busana khusus.














