Apakah proses dakwah Islam menggunakan media wayang bertalian dengan proses islamisasi di Banten? Entahlah. Tapi, saya kira ada. Buktinya, Ki Kajali dan Nur Seha menyebut wayang garing sudah ada sejak zaman Kesultanan Banten. Fungsinya juga sama, sebagai media dakwah Islam.
Gamelan yang identik dengan wayang pun, pernah saya temui kelompok senimannya di daerah Curug, Kota Serang. Konon, dari pengakuan pelaku seni yang saya wawancarai, gamelan itu sudah ada sejak abad ke-16, yakni pada masa Kesultanan Banten. Sama halnya dengan wayang, gamelan itu dulunya secara khusus difungsikan sebagai syiar Islam.
Asumsi ini juga bisa dilihat dari cerita lakon yang dimainkan Ki Kajali dalam wayang garing. Misalnya, cerita Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja dengan tambahan cerita lainnya, tentang isu-isu sosial atau cerita rakyat yang berkembang di Serang.
Jika dalam wayang kulit Jawa ada Punakawan (Semar, Petruk, Bagong, Gareng), yang biasanya muncul pada sesi goro-goro (hiburan), dalam wayang garing kita mengenal lakon Cemuris. Lakon yang dinilai sebagai lakon khusus dalam cerita wayang garing Ki Kajali. Setahu saya, Cemuris adalah anak dari Semar yang mengikuti Abimanyu (anak Arjuna).
Di daerah Jawa Tengah, memang sudah jarang dimainkan. Tapi, informasi obrolan di grup WhatsApp diskusi Girang, Cemuris masih dimainkan di daerah Cirebon, saudara tua Banten. Cikal bakal dari keberadaan Kesultanan Banten melalui proses islamisasi Sunan Gunung Jati atau Syarief Hidayatullah, yang tak lain, ayah dari Sultan Maulana Hasanuddin sebagai sang Wasangkarta, Sultan pertama Banten.
Rasanya, upaya revitalisasi yang sudah dilakukan kantor Bahasa Banten seperti yang disampaikan Nur Seha dalam diskusi Girang, bisa kembali dilanjutkan. Tujuannya adalah menjaga wayang garing tetap eksis. Berkembang sebagai khasanah kebudayaan di Banten. Bukan sekadar sebagai sumber penghidupan Ki Kajali secara pribadi, tapi fungsi lainnya. Yakni, media hiburan, pengenalan budaya Banten, pemertahanan Bahasa daerah, dan pembelajaran tradisi dan sastra daerah Banten.
Modal dasarnya sudah ada. Wayang garing sudah masuk sebagai warisan tak benda oleh Kemendikbud. Ini berkelindan dengan ditetapkanya wayang kulit Indonesia secara umum sebagai A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh Unesco, pada November 2003.
Penghargaan tersebut, dalam pandangan ahli wayang kulit, Prof Sri Teddy Rusdi, karena wayang bertumpu pada seni oral. Di mana dalang menjadi aktor sebagai centralnya. Itu semua telah sudah ditorehkan Ki Kajali sebagai satu-satunya dalang wayang garing di Serang Banten.














