Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 9 Sep 2020 17:27 WIB ·

Mewariskan Generasi, Ki Kaji Menjadi Girang dengan Wayang Garing (II)


 Mewariskan Generasi, Ki Kaji Menjadi Girang dengan Wayang Garing (II) Perbesar

Apakah proses dakwah Islam menggunakan media wayang bertalian dengan proses islamisasi di Banten? Entahlah. Tapi, saya kira ada. Buktinya, Ki Kajali dan Nur Seha menyebut wayang garing sudah ada sejak zaman Kesultanan Banten. Fungsinya juga sama, sebagai media dakwah Islam.

Gamelan yang identik dengan wayang pun, pernah saya temui kelompok senimannya di daerah Curug, Kota Serang. Konon, dari pengakuan pelaku seni yang saya wawancarai, gamelan itu sudah ada sejak abad ke-16, yakni pada masa Kesultanan Banten. Sama halnya dengan wayang, gamelan itu dulunya secara khusus difungsikan sebagai syiar Islam.

Asumsi ini juga bisa dilihat dari cerita lakon yang dimainkan Ki Kajali dalam wayang garing. Misalnya, cerita Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja dengan tambahan cerita lainnya, tentang isu-isu sosial atau cerita rakyat yang berkembang di Serang.

Jika dalam wayang kulit Jawa ada Punakawan (Semar, Petruk, Bagong, Gareng), yang biasanya muncul pada sesi goro-goro (hiburan), dalam wayang garing kita mengenal lakon Cemuris. Lakon yang dinilai sebagai lakon khusus dalam cerita wayang garing Ki Kajali. Setahu saya, Cemuris adalah anak dari Semar yang mengikuti Abimanyu (anak Arjuna).

Di daerah Jawa Tengah, memang sudah jarang dimainkan. Tapi, informasi obrolan di grup WhatsApp diskusi Girang, Cemuris masih dimainkan di daerah Cirebon, saudara tua Banten. Cikal bakal dari keberadaan Kesultanan Banten melalui proses islamisasi Sunan Gunung Jati atau Syarief Hidayatullah, yang tak lain, ayah dari Sultan Maulana Hasanuddin sebagai sang Wasangkarta, Sultan pertama Banten.

Rasanya, upaya revitalisasi yang sudah dilakukan kantor Bahasa Banten seperti yang disampaikan Nur Seha dalam diskusi Girang, bisa kembali dilanjutkan. Tujuannya adalah menjaga wayang garing tetap eksis. Berkembang sebagai khasanah kebudayaan di Banten. Bukan sekadar sebagai sumber penghidupan Ki Kajali secara pribadi, tapi fungsi lainnya. Yakni, media hiburan, pengenalan budaya Banten, pemertahanan Bahasa daerah, dan pembelajaran tradisi dan sastra daerah Banten.

BACA JUGA   Apresiasi Pemimpin Dunia untuk Presiden Jokowi

Modal dasarnya sudah ada. Wayang garing sudah masuk sebagai warisan tak benda oleh Kemendikbud. Ini berkelindan dengan ditetapkanya wayang kulit Indonesia secara umum sebagai A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh Unesco, pada November 2003.

Penghargaan tersebut, dalam pandangan ahli wayang kulit, Prof Sri Teddy Rusdi, karena wayang bertumpu pada seni oral. Di mana dalang menjadi aktor sebagai centralnya. Itu semua telah sudah ditorehkan Ki Kajali sebagai satu-satunya dalang wayang garing di Serang Banten.

Artikel ini telah dibaca 151 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ansor Banser PAC Serang Gelar Santunan Anak Yatim dalam Peringatan Harlah ke-92 GP Ansor

24 April 2026 - 16:01 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini