Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 10 Jun 2022 17:45 WIB ·

Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik


 Menjadi  Pribadi Yang Lebih Baik Perbesar

Berani Menjadi Panutan

Menjadi anutan bukanlah hal mudah. Bila seseorang sudah berani menjadi anutan, ia tidak boleh gegabah dalam melangkah-dan yang terpenting adalah tidak boleh merasa dirinya telah mejelma menjadi seorang super yang gila hormat.

Inilah yang selalu kita tekankan kepada para peserta didik yang kita bimbing. Hal yang juga selalu kita tekankan adalah onc talk no side talk (kalo ada seorang bicara, yang lain harus mendengarkan dan tidak berbicara sendiri, walaupun berbisikbisik).

Dengan cara ini kita mencoba mengajarkan agar kita terbiasa dan mau menjadi pendengar yang baik, mengingat kebiasaan orang termasuk para pejabat di negeri tercinta ini banyak yang suka berpura-pura budeg atau pura-pura tidak mendengar.

Saling Membutuhkan

Tiga golongan manusia itu adalah mereka yang berhenti (quitters) berkemah (campers) dan mereka yang terus mendaki (climbers). Quitters adalah orang-orang yang sudah takut sebelum melaksanakan sesuatu (memilih menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti). Dalam dunia kompetisi mereka di katakan sebagai orang yang kalah sebelum bertanding.

Orang-orang yang termasuk dalam kelompok ini menolak kesempatan yang di berikan oleh gunung dengan mengabaikan, menutupi,atau meninggalkan dorongan manusiawi untuk mendaki. Oleh karena itu, orang seperti ini lebih senang menjadi pelaksana.

Campers adalah orang-orang yang memutuskan berhenti di tengah jalan dan memilih untuk berteduh atau berkemah karena merasa sudah puas. Bagi kelompok ini tidak ada lagi dorongan untuk terus mendaki ketika di hadapannya sudah terhampar tempat datar yang rata dan nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat. 

Menurut stoltz para campers boleh dibilang setidaknya sudah berusaha untuk mendaki. Tidak mustahil pula untuk mencapai posisi tingkat ‘tertentu mereka telah mengorbankan banyak hal dan telah bekerja dengan rajin untuk sampai ke tempat mereka memilih berhenti iłu.
Inilah fase yang oleh sebagian orang di sebut sebagai suatu kesuksesan, pandangan yang menganggap kesuksesan sebagai suatu tujuan yang harus di capai. Orang-orang yang termasuk dałam kelompok ini adalah mereka Yang tidak mempunyai kegigihan dan kemampuan untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi.

BACA JUGA   UU Cipta Kerja Diapresiasi Pengusaha AS

Cliłnbers adalah mereka yang sepanjang hidupnya terus berusaha untuk mendaki betapapun tau susahnya mencapai puncak, pendakian para climbers tidak akan pernah membiarkan umur, jenis kelamin, rasa, cacat fisik atau mental, atau hambatan lainnya sebagai penghalang pendakiannya. Para climbers tau bahwa banyak imbalan dałam bentuk manfaat jangka panjang.

Langkah-langkah kecil sekarang ini akan membawa mereka pada kemajuan dikemudian hari. Orang- orang yang tergolong kedalam kelompok ini selalu menyambut tantangan-tantangan yang disodorkan kepada mereka. Inilah golongan yang oleh Kelly Pulous disebut mempunyai self leadership.

Para campers merasa cukup bila telah mampu mencukupi kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan, air, rasa aman, tempat berteduh, bahkan rasa memiliki. Kaki “gunung” telah mereka lewati dan dengan memilih berkemah, berarti mereka mengorbankan bagian puncak hierarki Maslow, yaitu aktualisasi diri dan bertahan pada kenyamanan dan rasa takut dari kehilangan tempat berpijak dan mencari rasa aman perkemahan mereka yang kecil dan nyaman. 

Padahal, kita juga semua tahu bahwa Tuhan ikut bekerja mengurai satu demi satu masalah yang kita hadapi, Tuhan tidak pernah membiarkan umatnya untuk berjuang sendiri, semua aktivitas Ya maka dilakukan bila kita sebelumnya meminta redho-Nya, apapun Yang kita lakukan pasti Tuhan akan pertolongan dan perlindungan. 

Atas dnsar inilah kita harus senantiasa dan secara sadnr serta ikhlas untuk selalu mengamalkan tiga kata kunci yaitu; naxs•aitu l’istnillah sebagai niat untuk mengawali segala tindakan), selalu mencari dan berhap perkenaan Tuhan dan setiap akhir dan apapun yang kita dapatkan selalulah bersyukur (Alhamdulillah) sebagai tanda terimakasih atas segala bimbingan, petunjuk dan pemberian-Nya.

Dalam pergulatan menemukan jati diri dikemudian hari, ketiga kata kunci ini sebagai syarat untuk menjadi pribadi unggul, melengkapi lima sikap dasar yang sudah jelaskan pada bab sebelumnya. 

BACA JUGA   Peran Penting Generasi Muda Kampanyekan Pemilu Damai

Melengkapi ketiga syarat itu, bisa ditambahkan tiga cara sehingga menjadi suatu keutuhan sebagai kunci keberhasilan. Ketiga cara itu adalah beribadah, mewujudkan perubahan, serta memberi suri teladan dan siap menjadi panutan. Tiga syarat tersebut diharapkan menjadi suatu yang implisit pada diri kita, sedangkan yang tiga cara perlu secara eksplisit kita wujud nyatakan. 

*) Penulis adalah mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan, Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Artikel ini telah dibaca 65 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

UPA Perpustakaan Untirta Gelar Bedah Buku ‘Baduy Masyarakat 1001 Tabu’ Karya Uday Suhada

16 April 2026 - 08:21 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini