Berani Menjadi Panutan
Menjadi anutan bukanlah hal mudah. Bila seseorang sudah berani menjadi anutan, ia tidak boleh gegabah dalam melangkah-dan yang terpenting adalah tidak boleh merasa dirinya telah mejelma menjadi seorang super yang gila hormat.
Inilah yang selalu kita tekankan kepada para peserta didik yang kita bimbing. Hal yang juga selalu kita tekankan adalah onc talk no side talk (kalo ada seorang bicara, yang lain harus mendengarkan dan tidak berbicara sendiri, walaupun berbisikbisik).
Dengan cara ini kita mencoba mengajarkan agar kita terbiasa dan mau menjadi pendengar yang baik, mengingat kebiasaan orang termasuk para pejabat di negeri tercinta ini banyak yang suka berpura-pura budeg atau pura-pura tidak mendengar.
Saling Membutuhkan
Tiga golongan manusia itu adalah mereka yang berhenti (quitters) berkemah (campers) dan mereka yang terus mendaki (climbers). Quitters adalah orang-orang yang sudah takut sebelum melaksanakan sesuatu (memilih menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti). Dalam dunia kompetisi mereka di katakan sebagai orang yang kalah sebelum bertanding.
Orang-orang yang termasuk dalam kelompok ini menolak kesempatan yang di berikan oleh gunung dengan mengabaikan, menutupi,atau meninggalkan dorongan manusiawi untuk mendaki. Oleh karena itu, orang seperti ini lebih senang menjadi pelaksana.
Campers adalah orang-orang yang memutuskan berhenti di tengah jalan dan memilih untuk berteduh atau berkemah karena merasa sudah puas. Bagi kelompok ini tidak ada lagi dorongan untuk terus mendaki ketika di hadapannya sudah terhampar tempat datar yang rata dan nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat.
Menurut stoltz para campers boleh dibilang setidaknya sudah berusaha untuk mendaki. Tidak mustahil pula untuk mencapai posisi tingkat ‘tertentu mereka telah mengorbankan banyak hal dan telah bekerja dengan rajin untuk sampai ke tempat mereka memilih berhenti iłu.
Inilah fase yang oleh sebagian orang di sebut sebagai suatu kesuksesan, pandangan yang menganggap kesuksesan sebagai suatu tujuan yang harus di capai. Orang-orang yang termasuk dałam kelompok ini adalah mereka Yang tidak mempunyai kegigihan dan kemampuan untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi.
Cliłnbers adalah mereka yang sepanjang hidupnya terus berusaha untuk mendaki betapapun tau susahnya mencapai puncak, pendakian para climbers tidak akan pernah membiarkan umur, jenis kelamin, rasa, cacat fisik atau mental, atau hambatan lainnya sebagai penghalang pendakiannya. Para climbers tau bahwa banyak imbalan dałam bentuk manfaat jangka panjang.
Langkah-langkah kecil sekarang ini akan membawa mereka pada kemajuan dikemudian hari. Orang- orang yang tergolong kedalam kelompok ini selalu menyambut tantangan-tantangan yang disodorkan kepada mereka. Inilah golongan yang oleh Kelly Pulous disebut mempunyai self leadership.
Para campers merasa cukup bila telah mampu mencukupi kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan, air, rasa aman, tempat berteduh, bahkan rasa memiliki. Kaki “gunung” telah mereka lewati dan dengan memilih berkemah, berarti mereka mengorbankan bagian puncak hierarki Maslow, yaitu aktualisasi diri dan bertahan pada kenyamanan dan rasa takut dari kehilangan tempat berpijak dan mencari rasa aman perkemahan mereka yang kecil dan nyaman.
Padahal, kita juga semua tahu bahwa Tuhan ikut bekerja mengurai satu demi satu masalah yang kita hadapi, Tuhan tidak pernah membiarkan umatnya untuk berjuang sendiri, semua aktivitas Ya maka dilakukan bila kita sebelumnya meminta redho-Nya, apapun Yang kita lakukan pasti Tuhan akan pertolongan dan perlindungan.
Atas dnsar inilah kita harus senantiasa dan secara sadnr serta ikhlas untuk selalu mengamalkan tiga kata kunci yaitu; naxs•aitu l’istnillah sebagai niat untuk mengawali segala tindakan), selalu mencari dan berhap perkenaan Tuhan dan setiap akhir dan apapun yang kita dapatkan selalulah bersyukur (Alhamdulillah) sebagai tanda terimakasih atas segala bimbingan, petunjuk dan pemberian-Nya.
Dalam pergulatan menemukan jati diri dikemudian hari, ketiga kata kunci ini sebagai syarat untuk menjadi pribadi unggul, melengkapi lima sikap dasar yang sudah jelaskan pada bab sebelumnya.
Melengkapi ketiga syarat itu, bisa ditambahkan tiga cara sehingga menjadi suatu keutuhan sebagai kunci keberhasilan. Ketiga cara itu adalah beribadah, mewujudkan perubahan, serta memberi suri teladan dan siap menjadi panutan. Tiga syarat tersebut diharapkan menjadi suatu yang implisit pada diri kita, sedangkan yang tiga cara perlu secara eksplisit kita wujud nyatakan.
*) Penulis adalah mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan, Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.














