Arif dan Bijaksana
Kita memang mempunyai falsafah “jangan menyalahgunakan kesempatan yang ada, tetapi gunakan kesempatan itu demi kebaikan”. Kita meyakini falsafah itu dan tak pernah bosan menekankannya saat mengajar di Lemhannas.
Di lembaga itulah kita semacam mempunyai akses yang begitu luas, akses kepada para peserta Lemhannas yang notabene adalah para calon pejabat tinggi atau bahkan pemimpin nasional;
Kita juga mempunyai akses kepada para pengajar, guru yang juga adalah para pakar. Semua ini kita gunakan dalam pengertian yang menurut kita baik, dan secara konsisten kita mencoba melakukan apa yang kita katakan.
Dalam buku The Seven Spiritual Laws of Succes, Deepak Chopra mengatakan bahwa salah satu hukum tentang sukses adalah hukum sebab akibat. “What you sow is what you reap’, apa yang kau tanam adalah apa yang kau tuai.
Hukum sebab akibat ini terjadi karena setiap aksi akan menghasilkan energi yang akan berbalik lagi kepada kita. Jadi, apabila kita ingin menciptakan kebahagiaan di dalam hiclup, kita harus menanam benih-benih kebahagiaan itü sendiri.
Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan dan, bila disadari, kita tentü akan memilih yang terbaik. Apabila kita hendak melakukan pilihan, jalan lerbaik unluk mengetahui apakah pilihan tersebut meruıpakan pilihan terbaik aclalah dengan mengajukan dua pertanyaan kepada diri sendiri.
(1) “Apakah konsekuensi dari pilihan yang kita buat itu?” Terhadap pertanyaan ini, hali kecil kita tentü akan segera memberikan jawabannya. (2) “Akankah pilihan ini membawa kebahagiaan bagi kita dan sekeliling kita?” Apabila jawabannya adalah “ya”, berarti itulah pilihan yang tepat. Akan tetapj apabila jawabannya “tidak” dan justru membuat kita atau sekeliling kita stres dan resah, berarti itü bukan pilihan yang tepat.
Sebagai contoh, seseorang yang memutuskan untuk korupsi dalam hati kecilnya tentü sudah tahu konsekuensi yang harus ia pikul bila tindakannya itü ketahuan (jawaban atas pertanyaan pertama). la sebenarnya sudah waswas dan khawatir, bahkan mungkin keluarga dan orang-orang terdekatnya (jawaban atas pertaııynan kedua).
Kesadaran dirinya sudah mengingatkan, tetapi karena dorongan nafsunya lebih besar, ia memilih untuk menyalahgunakan kesempatan. Akibatnya, sepanjang hidupnya orang tersebut tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan.
Mengajarkan hal-hal semacam ini tidaklah mudah karena kita harus berhadapan dengan nafsu dan ego manusia yang terkadang sangat kuat menutup hati manusia. Oleh karena itu, tidaklah heran bila di Lemhannas kita dikenal sebagai guru yang galak.
Kita menerapkan beberapa aturan yang juga kita İmplementasikan dalam pelatihan-pelatihan yang kita adakan, Salah satunya adalah prinsip on time yang sangat kita tepati sehingga sebelum waktunya mengajarv kita pasti sudah ada di tempat.
Konsekuensinya, kita juga tidak menolerir orang yang datang terlambat, bahkan kita tidak segan untuk memberi “hukuman” meskipun orang itu berpangkat tinggi. Hukuman apa yang kita terapkan? Kita hanya mengajaknya bicara sambil berdiri sehingga setiap kali mavl duduk, ia terpaksa berdiri Iagi.
Akhirnya, ia menyadari bahwa dirinya sedang di hokum. Cara ini memang tidak popular tetapi cukup efesien untuk menyampaikan pesan yang ingin kita katakana bahwa datang terlambat itu sesuatu yang tidak baik, bahkan secara lugas kita katakana bahwa itu merupakan part of the education untuk menghargai orang lain. Kalau kita datang terlambat, dengn memanggul tas berarti kita tidak menghormati guru atau teman, dan seolah mengabaikan kewajiban untuk datang tepat pada waktunya.














