Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 23 Okt 2020 05:03 WIB ·

Meraih Kesempurnaan Hidup Ala Socrates


 Meraih Kesempurnaan Hidup Ala Socrates Perbesar

Renungan Karut Marut Demokrasi

Oleh : Agus Hiplunudin 

Socrates hidup (470-399 SM) pada masa Atena sedang mengalami masa keemasan dengan sistem pemerintahan demokrasi. Orang-orang Atena pada masa itu hidup dalam kesejahteraan berkecukupan. Minat orang-orang Atena terhadap ilmu begitu mengesankan sehingga berkembang pesat lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan pengajaran berbagai macam gendre keilmuan.

Mereka orang-orang Atena belajar pada guru-guru yang dinamai oleh Plato sebagai kaum Sofis. Para guru Sofis memberi pengajaran dengan memungut imbalan tertentu, kasarnya mereka memberi ilmu atas motivasi materi—semakin berharga ilmunya maka tarifnya pun semakin tinggi.

Para guru Sofis memiliki watak arogan—tinggi hati karena merasa diri tahu segalanya. Juga dalam transfer keilmuan kaum Sofis tidaklah bersandar pada pencarian hakikat kebenaran. Misalnya; ketika dua orang memperdebatkan sesuatu hal maka yang dianggap benar adalah yang menang dalam perdebatan tersebut—dalam pandangan guru Sofis kebenaran merupakan milik pemenang.

Apa lagi dalam konteks politik menurut guru Sofis dalam politik dibolehkan menghalalkan segala cara yang penting keluar sebagai pemenang. Untuk menjadi pemenang diperlukan ilmu, dan para guru Sofislah sebagai pengajarnya.

Hal inilah yang kemudian dikiritik oleh Socrates; menurutnya para guru Sofis telah salah memahami hakikat kebenaran, kebenaran bukan sekedar bicara kalah atau menang. Namun, kebenaran memiliki hakikat untuk mengungkap rahasia kehidupan, jika orang ingin bahagia maka ia harus mengungkap rahasia kehidupan tersebut. Kaum Sofis telah menjauhkan manusia dari kebahagiaan.

Jika rahasia kehidupan telah terungkap maka dia akan menemukan arete (keutamaan) jika keutamaan telah didapatkan maka dia akan menemukan kebahagiaan. Prasarat hidup bahagia seseorang harus memiliki pengetahuan. Socrates pada setiap harinya pergi ke alun-alun kota Atena, ia mengejari orang untuk berpengetahuan namun Socrates berbeda dengan kaum Sofis—jika guru Sofis mengutip bayaran dari para muridnya sedangkan Socrates tidak mengharapkan imbalan sepeserpun pada para muridnya.

BACA JUGA   Diusulkan Nyalon Wali Kota Serang, Berikut Profil Budi Rustandi  

Menurut Socrates proses melahirkan pengetahuan sama halnya dengan proses melahirkan anak dengan bantuan seorang bidan. Melahirkan merupakan perjalanan panjang, melelahkan, dan menyakitkan disinilah seorang bidan dengan ketekunan dan kesabarannya membantu proses kelahiran tersebut (begitulah seorang guru bertindak sebagai bidan dalam proses melahirkan pengetahuan bagi muridnya).

Sungguh ironi Socrates yang giat memberi pengajaran pada muridnya namun ia begitu terkenal dengan ungkapannya; “Yang saya ketahui bahwa saya tidak tahu apa-apa.” Ungkapan Socrates tersebut sebenarnya sebuah kritik pedas pada guru Sofis yang merasa tahu segalanya. Selain itu, Socrates juga memberi isyarat bahwa arogansi tidak akan melahirkan keutamaan dan karenanya tidak akan mewujudkan kebahagiaan.

Menurut Socrates kebahagiaan akan terwujud manakala pengetahuan sejati dimiliki. Socrates terkenal dengan metodenya dengan metode dialog atau dialektika (metode tanya jawab). Ada beberapa langkah untuk mendapatkan ilmu ala-Socrates 1) berangkat dari ketidak tahuan, 2) ironi, 3) konfutasi dan 4) proses kebidanan—melahirkan ilmu.

Langkah pertama berangkat dari ketidak tahuan, misalnya Socrates bertanya; “Kamu tahu nggak, apa yang dimaksud keberanian?” maka lawan bicara Socrates akan tersenyum mengejek dan menganggap pertanyaan Socrates merupakan pertanyaan yang sangat mudah unutk dijawab, lantas lawan Socrates menjawab; “Keberanian itu jika kau berperang maka dengan gagah kau lawan semua musuh-musuhmu.”Langkah kedua ironi; Mendengar jawaban lawan bicaranya Socrates tersenyum dan mengatakan bahwa jawaban dari lawan bicaranya merupakan jawaban yang luar biasa dan genius—dengan demikian lawan bicara Socrates akan senang bahagia merasa diri pintar.

Langka ketiga konfutasi; Socrates kembali bertanya, dan pertanyaan ini dimaksudkan untuk mencari titik lemah teori tentang keberanian menurut lawan bicaranya tersebut; kemudian Socrates berargumen “Dulu tentara Yunani mundur ketika melawan tentara Persia.

BACA JUGA   Cegah Penyebaran Covid-19 Jangan Memaksakan Mudik

Namun, setelah mundur maju kembali dan Yunani menang melawan Persia.” Socrates menyambung pendapatnya; “Nah kalau begitu definisimu bukan definis keberanian namun definis kekonyolan. Jika dalam suatu perang musuhmu banyak dan kamu seorang diri kemudian kamu melawannya itu bukan berani tapi itu konyol.”.

“Kalau begitu apa definis berani yang benar?”Langkah, keempat proses kebidanan—melahirkan ilmu; Setelah dialog demikian lawan bicara Socrates akan merenung ia mencoba memikirkan kembali definisi keberanian yang selama ini ia yakini.

Akhirnya lawan bicara Socrates sadar bahwa selama ini dirinya tidak pernah tahu makna yang sebenarnya tentang arti keberanian. Jika dialog berhenti sampai di sini metode dialog Socrates telah berhasil membawa lawan bicara Socrates pada sebuah kesadaran ‘bahwa dirinya pun sepertihalnya Socrates tidak tahu apa-apa’.

Namun, jika berhasil membuat rumusan definisi baru tentang keberanian maka itulah yang disebut proses melahirkan ilmu pengetahuan sejati. Misalnya; jadi definisi keberanian itu adalah sebuah strategi untuk melumpuhkan musuh-musuh. Sebab, jika melawan tanpa strategi merupakan sebuah kekonyolan belaka.

Lebih lanjut Socrates menyatakan bahwa orang berpengetahuan tidak akan melakukan kejahatan atau pengetahuan yang baik akan melahirkan perilaku yang baik—sebab dengan pengetahuan manusia akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Orang berilmu tapi masih melakukan kejahatan bagi Socrates berarti orang tersebut ilmunya kurang lengkap. Orang berilmu pikirannya akan panjang, misalnya korupsi; orang yang memiliki ilmu yang utuh tidak akan berani melakukan korupsi sebab ia tahu nikmatnya korupsi tidak sebanding dengan bahayanya korupsi. Korupsi jika terciduk maka nama baiknya akan rusak, diadili masyarakat, dan masuk penjara. Kerenanya orang yang berpengatuan sejati tidak akan melakukan korupsi.

BACA JUGA   Kritik Plato Terhadap Pilkada Serentak 2020

Atas dasar pengetahuan itulah manusia akan mendapatkan keutamaan akalnya (rasio) akan bekerja secara maksimal, dan karena keutamaan itulah manusia menemui kebahagiaan. Menurut Socrates sumber kebahagiaan adanya di dalam jiwa tugas manusia menyelamatkan jiwanya. Agar jiwa selamat maka manusia harus berpengetahuan. (*)

)* Penulis adalah Akademisi STIA Banten

Artikel ini telah dibaca 63 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kota Serang Jenguk Warga Sakit di Puri Citra Pipitan

29 April 2026 - 11:09 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini