Saya cukup penasaran. Ini sangat menarik pikir saya waktu. Kebetulan, wayang sendiri salah satu kesenian yang cukup saya minati sejak kecil. Saya pun merasa familiar dengan wayang yang diceritakan berulang-ulang oleh orang-orang tua di kampung halaman. Juga mengingatkan masa kecil yang begitu antusias dan girang saat ada pementasan wayang sendiri.
Meski seringkali ketiduran saat datang ke pertunjukkan wayang, setidaknya itu lebih baik. Jika tidak, ya siap-siap saja, akan jadi kambing congek karena tidak bisa nyambung dengan obrolan teman-teman di sekolah.
Terlebih lagi, saya pernah punya obsesi menjadi dalang. Sayangnya, karena satu-dua hal, obsesi itu tak pernah kesampaian. Kecuali, hanya bisa menjadi pendengar dan pembaca hal-hal terkait wayang. Mungkin, lebih tepatnya penikmat wayang, yang ceritanya selalu memikat hati dan melambungkan imajinasi.
Ah, tapi nasibmu kini wayang. Kau dianggap terlalu kuno oleh orang-orang yang mengaku modern. Padahal dalam jalinan ceritamu, menampilkan perwatakan manusia dan pesan-pesan universal yang dapat menemukan konteks maknanya dalam setiap babak kehidupan ini.
Kembali ke perihal Ki Kajali. Setelah berkali-kali bertanya, saya akhirnya bisa menemukan alamat rumahnya. Kebetulan, Ki Kajali sedang bersantai di halaman rumahnya bersama sang istri.
Senang rasanya, ia dan istrinya menyambut penuh ramah. Secangkir kopi hitam pun, menjadi sajian obrolan menjelang senja waktu itu. Penuh antusias, ia berkisah, menunjukkan beberapa koleksi wayang yang sudah menjadi darah daging dan sumber penghidupannya.
Banyak hal saya dapatkan. Tak hanya informasi seputar wayang, tetapi juga proses dan perjalanan hidup seorang Ki Kajali dalam menekuni dunia seni dan hiburan. Saya berani sebut, Dialah sang maestro Wayang Garing. Seni pertunjukan asli milik warga Serang-Banten. Kendati, tak bisa dilepaskan dari pertalian dengan wayang kulit dari Jawa atau Bali sekalipun, Wayang Garing adalah hasil kreasi tersendiri di tanah Banten.














