Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 8 Sep 2020 08:50 WIB ·

Ki Kajali, Menjadi Girang dengan Wayang Garing (Bagian I)


 Ki Kajali, Menjadi Girang dengan Wayang Garing (Bagian I) Perbesar

Oleh: Ken Supriyono*

KI KAJALI namanya. Nama yang singkat dan sederhana. Tapi, memiliki dedikasi yang cukup besar terhadap budaya daerah. Dialah, satu-satunya yang masih memainkan Wayang Garing. Warisan budaya sekaligus hiburan yang membuat girang warga di sekitar Serang-Banten.

***

Belum lama ini, Laboratorium Banten Girang mengadakan diskusi Wayang Garing – Ki Kajali, secara virtual. Saya cukup antusias. Karena diskusi itu, mengingatkan kembali ingatan saya pada satu kesempatan mewawancarai langsung Ki Kajali ihwal Wayang Garing.

Kendati, ada kabar yang juga mengejutkan. Diskusi virtual yang menghadirkan narasumber Peneliti Kantor Bahasa Banten, Nur Seha, sekaligus menggalang dana untuk pengobatan Ki Kajali yang terbaring sakit.

Saya berdoa, semoga Ki Kajali segera pulih dan kembali aktif memainkan wayang-wayangnya. Apalagi dialah satu-satunya dalang Wayang Garing yang tersisa di Serang. Bahkan, bisa jadi artefak hidup dari keberlanjutan Wayang Garing itu.

*****

Saya sendiri, merasa masih berhutang kepada Ki Kajali. Sekira tiga tahun lalu, saat saya masih menjadi jurnalis Radar Banten, saya menjumpai Ki Kajali di rumahnya, di Kampung Watgalih, Desa Mendaya, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang. Tujuannya, untuk mewawancarai tentang kiprahnya memainkan Wayang Garing. Salah satu kesenian yang menjadi tulisan feature kebudayaan yang saya tulis tiap pekan.

Sebelum saya pulang, Ki Kajali sempat meminta koran, jika tulisannya sudah diterbitkan. Hanya saja, saat tulisan itu terbit, saya ada tugas keluar kota. Sampai akhirnya, koran yang diminta Ki Kajali tidak saya hantarkan ke rumahnya. Saya merasa berdosa atas ini kepadanya.

Saya tertarik menulis feature Wayang Garing setelah mendapat informasi dari seorang kawan. Ia menyebut, bahwa di Kabupaten Serang ada seorang dalang yang memainkan wayang tanpa sinden dan gamelan. Perlengkapan yang digunakan pun sangat sederhana. Dan, tidak sesuai pakem wayang pada umumnya.

BACA JUGA   Gema MA Tangguh; Merawat persatuan, Merayakan perbedaan, Menuju Indonesia Tangguh
Artikel ini telah dibaca 102 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

UPA Perpustakaan Untirta Gelar Bedah Buku ‘Baduy Masyarakat 1001 Tabu’ Karya Uday Suhada

16 April 2026 - 08:21 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini