Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 22 Jul 2023 20:43 WIB ·

DPR Apresiasi Keseriusan Pembebasan Pilot Susi Air


 DPR Apresiasi Keseriusan Pembebasan Pilot Susi Air Perbesar

Oleh : Alvaro Hukubun

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) memberikan apresiasi dengan sangat tinggi terkait dengan bagaimana strategi dan keseriusan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi selama ini dalam misi pembebasan Pilot Susi Air. Bahkan pemerintah sendiri pun menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam saja.

Sejauh ini, memang pihak Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan dibantu oleh pihak lain yang terkait seperti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga hingga seluruh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) hingga Badan Intelijen Negara (BIN) terus mengupayakan misi evakuasi dan penyelamatan Pilot dari maskapai penerbangan Susi Air dengan sangat optimal.

Maka dari itu, dengan berbagai langkah yang sudah sangat tepat dan cermat dilakukan oleh pemerintah tersebut, menjadi tidak heran hal itu mendapatkan banyak sekali apresiasi tinggi dari berbagai pihak dan kalangan.

Termasuk, salah satu apresiasi sangat tinggi datang dari Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar), Bobby Rizaldi menyambut dengan sangat baik bagaimana bukti nyata dari keseriusan dan komitmen kuat yang dimiliki oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengenai bagaimana upaya pembebasan Kapten Philips Mark Mehrtens.

Anggota DPR RI tersebut jelas sekali melihat bahwa terlihat dengan sangat nyata bagaimana kesungguhan dan juga keseriusan yang dimiliki oleh pemerintah serta Kepala Negara untuk bisa sesegera mungkin menyelesaikan kasus penyanderaan yang dilakukan oleh KST Papua pimpinan Egianus Kogoya itu.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, pemerintah juga telah melakukan berbagai macam cara dan pendekatan, yang mana tentunya masih dalam rangka menjunjung tinggi asas humanisme, yakni dengan menggunakan pendekatan membuka ruang dialog serta negosiasi kepada gerombolan separatis yang menyandera pilot berwarganegaraan Selandia Baru tersebut.

BACA JUGA   KORPRI Kota Serang Diminta Berinovasi

Beberapa cara yang terus dilakukan oleh pemerintah dalam hal membuka ruang dialog tersebut adalah dengan mengajak banyak sekali seluruh lapisan elemen di masyarakat untuk ikut serta dan berperan aktif dalam melaksanakan dialog atau negosiasi kepada KST Papua penyandera Pilot Susi Air.

Pemerintah telah meminta bantuan kepada banyak pihak, bukan hanya mengandalkan aparat keamanan dari pasukan gabungan saja seperti TNI, Polri hingga BIN, namun juga menggandeng banyak tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama setempat dan termasuk juga menggandeng pihak Penjabat (Pj) Bupati Nduga hingga menggandeng pihak keluarga Kogoya sendiri.

Tentunya prinsip yang selama ini dipegang oleh Pemerintah RI adalah bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan satu nyawa yang berharga dan juga di sisi lain, tetap terus berusaha untuk tidak menggunakan cara-cara yang justru berpotensi untuk menambah korban jiwa. Maka dari itu, pendekatan secara militer sama sekali tidak digunakan.

Kemudian, harapan besar pula kepada seluruh masyarakat di Tanah Air agar bisa terus dan senantiasa mendukung penuh apapun langkah hingga cara yang dilakukan oleh Pemerintah RI dan Presiden Jokowi dalam misi pembebasan Kapten Philips Mark Mehrtens agar bisa berjalan dengan lancar, aman dan damai.

Di sisi lain, menurut Anggota DPR RI Fraksi Golkar itu, dirinya sangat meyakini bahwa pihak KST Papua sama sekali tidak akan berani untuk benar-benar membunuh dan menghabisi nyawa dari sandera mereka tersebut, yakni Pilot Susi Air meski belakangan ini sempat beredar adanya video ultimatum dan ancaman dari gerombolan separatis pimpinan Egianus Kogoya untuk segera melakukan pembunuhan.

Pihak Kelompok Separatis dan Teroris di Bumi Cenderawasih itu sendiri di sisi lain pasti tidak akan langsung mengambil sebuah tindakan yang gegabah dan merugikan mereka, yakni dengan langsung membunuh sang pilot karena keberadaan Philips Mark Mehrtens bagi mereka adalah sebuah keuntungan untuk bisa terus memberikan ultimatum dan mengancam kepada pemerintah. Sehingga mereka juga tidak akan ingin kehilangan sandera berharganya tersebut.

BACA JUGA   Lionel Messi Cs Gulung Kroasia 3-0, Melenggang Ke Final Piala Dunia 2022 Qatar

Sementara itu, Presiden RI ketujuh, Joko Widodo sendiri juga dengan sangat tegas menyatakan bahwa pihak Pemerintah terus berupaya dengan semaksimal mungkin dan seoptimal mungkin untuk misi pembebasan Pilot Susi Air dari tangan KST Papua ini.

Kepala Negara bahkan menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidaklah tinggal diam saja ketika menghadapi persoalan serius yang sangat menyangkut adanya hak asasi manusia (HAM) ini. Maka dari itu segala daya upaya sudah dilakukan dengan amat sangat serius beserta komitmen yang kuat.

Seluruh strategi hingga keseriusan dan komitmen sangat kuat yang dimiliki oleh Pemerintah dan Presiden Jokowi sendiri dalam menghadapi KST Papua, dalam rangka untuk bisa melakukan misi pembebasan Pilot Susi Air dengan lancar, aman dan damai tersebut memang patut untuk diberikan apresiasi yang sangat tinggi. (*)

*) Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Jakarta

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Kepemilikan Media dan Dukungan Politik

15 Maret 2026 - 19:26 WIB

Trending di Opini