Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 27 Jan 2026 17:03 WIB ·

Bagaimana Jika Internet dan Listrik Mati?


 Bagaimana Jika Internet dan Listrik Mati? Perbesar

Oleh : Hendra, S.E.

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang masalah internet dan listrik mati atau shutdown, ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab dengan jujur: apakah manusia modern masih dapat hidup tanpa keduanya?

Ada banyak jawaban. Sebagian orang dapat menjalani hidup tanpa banyak gangguan, terutama mereka yang sejak awal menghindari menggunakan internet dan listrik sebagai bagian penting dari aktivitas sehari-hari mereka.

Banyak dari kelompok ini telah mengadopsi gaya hidup yang lebih mandiri, bekerja dengan cara konvensional, dan tidak sepenuhnya bergantung pada sistem digital untuk meningkatkan produktivitas mereka. Namun, ketika pertanyaan itu diajukan kepada kita, keadaan menjadi berbeda.

Kehidupan modern hampir 24 jam digerakkan oleh lingkaran listrik dan internet. Sekarang, listrik dan internet bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan fondasi yang menopang hampir seluruh sektor kehidupan, termasuk ekonomi, pendidikan, layanan publik, dan interaksi sosial. Orang bangun tidur dengan melihat ponsel, bekerja dengan perangkat digital, dan bertransaksi secara online.

Situasi ini sejalan dengan gagasan Daniel Bell tentang masyarakat pasca industri yang bergantung pada sistem berbasis pengetahuan, informasi, dan teknologi. Ketika fondasi ini runtuh, bukan hanya kenyamanan yang runtuh, tetapi juga struktur kerja dan cara masyarakat berpikir. Pada saat ini, penghentian internet dan listrik akan dianggap sebagai gangguan besar yang lebih besar daripada masalah teknis.

Akibatnya, kemampuan bertahan hidup tidak hanya berarti bertahan hidup secara fisik. Menyediakan cara hidup alternatif jauh lebih penting. Memiliki jalur alternatif yang tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi kontemporer diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti bekerja, belajar, berkomunikasi, dan berkomunikasi.

Teori daya tahan menekankan bahwa sistem sosial yang kuat bukanlah sistem yang tidak terpengaruh, melainkan sistem yang mampu beradaptasi dan tetap berfungsi ketika krisis terjadi.

Namun, menjadi adaptif tidak berarti menghindari dampak yang pasti muncul. Jika internet dan listrik tidak dihentikan, akan ada konsekuensi sosial, ekonomi, dan psikologis yang signifikan.

BACA JUGA   Tantangan Kampanye di Media Sosial pada Pemilu 2024

Meminimalkan ketergantungan total, memperkuat kemandirian individu dan komunitas, dan menata ulang cara hidup agar dunia modern tidak sepenuhnya dikendalikan olehnya adalah semua hal yang dapat dilakukan. Oleh karena itu, teknologi masih berfungsi sebagai alat dan bukan faktor penting untuk keberlangsungan hidup manusia.

Dampaknya

Mari kita lihat masalah ini dari perspektif ekonomi. Karena kehidupan modern berfungsi bersama, dampak dari penghentian internet dan listrik tidak dapat dipahami secara terpisah. Teori Sistem Sosial-Ekonomi yang dikembangkan oleh Talcott Parsons menunjukkan bahwa masyarakat adalah sistem yang saling bergantung.

Sebagai subsistem integrator, listrik dan internet berfungsi sebagai semacam penghubung tak kasat mata yang membuat seluruh bagian sistem berjalan selaras. Subsistem lain terpengaruh oleh kerusakan satu subsistem. Dalam ekonomi kontemporer, kedua hal ini telah berkembang dari fasilitas pendukung menjadi kebutuhan vital.

Douglass North (1990) mengungkapkan New Institutional Economics, yang mengatakan bahwa institusi kontemporer seperti perbankan, pasar, dan logistik bergantung pada teknologi daripada berdiri sendiri. Ketika teknologi terganggu, institusi tidak dapat melakukan tugas rutinnya. Dalam kenyataannya, kondisi ini terasa langsung pada tingkat individu.

Transaksi ekonomi melambat secara signifikan, investasi di platform online tidak dapat dilakukan, dan sistem keuangan digital berhenti beroperasi. Karena distribusi barang tidak lagi terkoordinasi dengan baik, rantai pasokan juga terganggu. Situasi ini dapat menyebabkan inflasi dalam jangka pendek karena kelangkaan barang konsumsi, terutama kebutuhan pokok, yang sangat bergantung pada sistem logistik modern.

Sektor pendidikan juga terkena dampak serupa. Jika internet dan listrik diputuskan, pembelajaran formal akan terganggu, terutama di sistem pendidikan yang sangat bergantung pada teknologi digital. Banyak metode pembelajaran saat ini bergantung pada platform daring, media digital, dan akses instan ke informasi.

Menurut Teori Konstruktivisme Vygotsky, interaksi sosial adalah cara pembelajaran terjadi. Interaksi masih dapat terjadi tanpa teknologi, tetapi ruang, media, dan sumber belajar menjadi jauh lebih terbatas. Belajar terus terjadi, tetapi dengan ritme yang berbeda dan lebih luas.

BACA JUGA   Operasi Zebra Maung 2024 Polda Banten Berlangsung Dua Pekan, Ini Target dan Sasarannya 

Dalam konteks filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara, situasi ini menarik karena memberikan kesempatan untuk berpikir kembali. Ia menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses menuntun anak-anak ke kodrat melalui relasi manusiawi, bukan ketergantungan pada alat.

Dalam situasi krisis, peran guru kembali pada esensinya sebagai pendidik dan pembimbing, bukan sekadar operator teknologi. Tidak hanya pembelajaran menjadi lebih mudah, tetapi juga lebih kontekstual dan individual.

Problem ini tidak dapat dilepaskan dari sektor sosial baik dalam pendidikan maupun ekonomi. Tatanan sosial juga terguncang ketika internet dan listrik dihentikan secara mendadak.

Teori Anomie dibuat oleh Emile Durkheim untuk menjelaskan bahwa kebingungan dan kecemasan kolektif dapat disebabkan oleh gangguan struktur sosial yang signifikan. Dalam situasi seperti ini, konflik dan kericuhan sosial dapat muncul di berbagai tempat, terutama di tempat-tempat di mana keamanan dan keamanan masyarakat terancam.

Namun, manusia tidak hanya dikenal karena mudah panik. Naluri bertahan hidup sangat efektif saat menghadapi krisis. Menurut Durkheim, konsep Solidaritas Mekanik menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, orang cenderung kembali ke ikatan sosial yang terdiri dari kedekatan, gotong royong, dan kesamaan nasib.

Hubungan antara orang-orang menjadi lebih sederhana dan berguna. Gagasan di Sapiens oleh Yuval Noah Harari sejalan dengan pola ini, yang menunjukkan bahwa manusia telah menemukan cara untuk bertahan hidup melalui kerja sama sosial sepanjang masa.

Oleh karena itu, penutupan internet dan listrik dapat menyebabkan krisis multidimensi. Namun, keadaan ini mengungkapkan satu hal penting: manusia masih memiliki modal sosial, kemampuan adaptasi, dan kemampuan kolektif untuk bertahan hidup di tengah sistem modern yang rapuh. Dinamika sosial manusia tetap hidup meskipun teknologi berhenti.

Solusinya

Kreativitas sangat penting untuk bertahan hidup dalam situasi di mana internet dan listrik tidak dapat diakses. Orang-orang akan dipaksa untuk kembali membaca lingkungan mereka. Belajar bercocok tanam adalah keterampilan dasar dan bukan lagi sekadar hobi.

BACA JUGA   Pemutakhiran DPB sebagai Momentum Ibadah di Bulan Ramadhan

Memahami jenis tanaman apa yang dapat ditanam di pekarangan, kapan waktu yang tepat untuk menanam, dan cara mudah menyimpan hasil panen sangat penting. Ketika akses distribusi modern terganggu, komoditas lokal seperti singkong, jagung, sayuran daun, atau tanaman obat keluarga dapat membantu menjalani kehidupan sehari-hari.

Di saat yang sama, kehidupan sosial mengalami transformasi yang signifikan. Ruang pertemuan antarmanusia justru lebih luas ketika internet dan listrik tidak ada lagi. Sekarang interaksi terjadi secara langsung daripada melalui layar.

Orang lebih sering berbicara, bekerja sama, dan bantuan satu sama lain. Pola ini menekankan kembali fakta bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain untuk hidup.

Ini sejalan dengan ide Solidaritas Mekanik Émile Durkheim, yang mengatakan bahwa orang-orang dalam situasi sederhana atau krisis cenderung memiliki kesamaan pengalaman dan kebutuhan. Tidak ada ikatan sosial yang dibentuk oleh pembagian pekerjaan yang kompleks; lebih banyak ikatan sosial terbentuk oleh rasa senasib dan keinginan untuk tetap hidup. Kepercayaan sosial, kerja kolektif, dan gotong royong adalah pilar penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Untuk memahami keadaan ini, juga penting untuk mempertimbangkan perspektif ekologi sosial. Menurut teori ini, lingkungan dan manusia adalah satu kesatuan yang saling memengaruhi. Ketika teknologi kontemporer tidak lagi mendominasi, orang terdorong untuk menyesuaikan diri dengan alam, memanfaatkan sumber daya lokal secara bijak, dan membangun pola hidup yang lebih berkelanjutan. Hubungan antara manusia dan lingkungannya menjadi lebih jelas dan signifikan.

Pada akhirnya, tidak hanya kekurangan internet dan listrik merupakan keterbatasan tetapi juga kesempatan untuk mengubah cara hidup. Pola kehidupan yang lebih manusiawi terdiri dari kreativitas dalam bertahan hidup, kedekatan sosial, dan kesadaran ekologis.

Dalam hal ini, hakikat manusia sebagai makhluk sosial jelas terlihat: mereka bekerja sama, bergantung satu sama lain, dan belajar beradaptasi dengan keterbatasan.

Penulis adalah Guru SMPN 4 Wanassalam, Kabupaten Lebak

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ramadan dan Ikhtiar Menumbuhkan Kesalehan Sosial

1 Maret 2026 - 19:42 WIB

KKM Berdampak

3 Februari 2026 - 08:00 WIB

Polri, Mendagri, dan Batas Sehat antara Politik dan Hukum

26 Januari 2026 - 22:27 WIB

Emas dan Perampasan Paksa Oleh Negara

25 Januari 2026 - 13:22 WIB

Pemilu oleh DPR: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat

2 Januari 2026 - 15:47 WIB

Menata Hati, Menjaga Negeri, Tafsir Futūḥ al-Rabbānī dalam Etika Publik

26 Desember 2025 - 18:55 WIB

Trending di Opini