Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Daerah · 26 Okt 2022 17:03 WIB ·

Studi Multikultural; Perspektif Pendidikan dan Budaya Masyarakat Adat Baduy dalam Menghadapi Kemajuan Teknologi


 Studi Multikultural; Perspektif Pendidikan dan Budaya Masyarakat Adat Baduy dalam Menghadapi Kemajuan Teknologi Perbesar

Hal ini ditandai dengan setiap perilaku masyarakat yang berpusat pada kebutuhan masyarakat tersebut. Pada Society 1.0 ditandai dengan kegiatan berburu guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Society 2.0 masyakarat sudah mengenal tanam dalam memenuhi kebutuhan hidup. 

Pada Society 3.0 masyarakat mulai mengenal dan mendalami dunia industri yang dipercaya dapat mempermudah setiap kegiatan guna memenuhi kebutuhan.  Teknologi mulai diterapkan dan diguanakan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh informasi pada Society 4.0.

Salah satu topik yang menarik untuk dikaji adalah perbedaan pandangan masyarakat Baduy terhadap pendidikan. Padangan tokoh adat dan kokolotan masyarakat Baduy tentang pendidikan sangat beragam dan belum mengarah pada satu titik kesepahaman apakah pendidikan formal (bersekolah) bagi warga Baduy adalah hal yang sangat dilarang? Apakah dengan adanya pendidikan formal (sekolah) di Baduy akan sangat merugikan dan merusak masa depan warga Baduy?

Jika bersekolah itu dilarang, mengapa beberapa di antara warga masayarakat adat baduy ditemukan memiliki kemampuan membaca, menulis, dan menghitung sehingga mampu untuk berkomunikasi, berinteraksi, bahkan memiliki jaringan usaha yang luas? Jika Pendidikan formal memang dilarang, dari mana kemampuan sebagaian kecil warga masayarakat adat baduy belajar membaca, menulis dan menghitung, serta bentuk sanksi apa yang akan diberikan? (Kurnia, 2010).

(Kartawinata, 2012), menyatakan bahwa dari beragam tulisan lepas dan buku yang mengisahkan budaya Baduy, hanya sedikit tulisan lepas dan buku yang disusun berdasarkan suatu kajian mendalam yang mengungkapkan hal-ihwal alam budaya dan alam sosial di kawasan Desa Kanekes sejak jaman Indonesia sebelum merdeka sampai hari ini. Buku yang ditulis N.J.C Geise yang berjudul Badujs en Moslems in Lebak Parahiang, Zuid-Banten (1952), sebagai karya etnografi dari segi metodologi dan teoretik.

BACA JUGA   RKUHP Upaya Bebaskan Indonesia dari Nuansa Kolonial

Karya ini yang dijadikan pijakan dalam menyelidiki kehidupan orang Baduy dan hubungannya dengan muslim yang ada di sekitar Desa Kanekes. Demikian juga, buku Orang Baduy karya Judistira K. Garna yang berjudul Tangtu Telu Jaro Tujuh Kajian Struktural Masyarakat Baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia, merupakan karya etnografi Baduy yang mengungkapkan seluk beluk kehidupan orang Baduy untuk menjaga keberlanjutan kebudayaannya dari sisi pandangan orang Baduy itu sendiri (Kartawinata, 2020).

Hal diatas sedikit menjelaskan bahwa pergeseran perubahan pola pikir tiap generasi dalam masyarakat Baduy sendiri terus berkembang karena dibarengi dengan semakin besarnya kesadaran dalam memenuhi kebutuhan dan kemajuan zaman. Selain itu, dengan adanya persaingan yang semakin besar maka generasi muda Baduy membutuhkan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan keterampilan (life skill) agar mampu bersaing dalam mempertahankan kehidupannya, utamanya adalah kemampuan dalam hal pemanfaatan teknologi.

Menurut adat, orang-orang Baduy melarang masyarakatnya untuk bersekolah. Mereka meyakini bahwa pendidikan formal akan menjadikan mereka pintar, namun orang pintar hanya akan merusak alam sehingga akan mengubah semua aturan yang telah ditetapkan oleh karuhun (Kiling & Bunga, 2014).

Meskipun tidak berpendidikan formal, orang Baduy ada yang mengenal baca, tulis dan berhitung karena mereka belajar dari orang luar yang datang ke lingkungannya. Penolakan Suku Baduy terhadap pendidikan formal dan modernitas dapat dikatakan sebagai salah satu strategi mereka untuk menegakkan ajaran Sunda Wiwitan yang mereka pegang teguh dari generasi ke generasi. Lalu, apa sebenarnya Sunda Wiwitan?

Menurut P. Djatikusumah dalam Ira Indrawardana (Indrawardana, 2014) istilah Sunda dimaknai dalam tiga kategori konseptual dasar. Pertama secara filosofis, Sunda berarti bodas (putih), indah, bersih, cantik, bagus dan seterusnya. Kedua dari sisi etnis, Sunda merujuk pada komunitas masyarakat suku bangsa Sunda yang Tuhan ciptakan seperti halnya suku bangsa lain di muka bumi.

BACA JUGA   Mengenal Baduy Lewat FISIP Explore goes to Baduy 2022

Ketiga secara geografis, Sunda mengacu pada penamaan suatu wilayah berdasarkan peta dunia sejak masa lalu terhadap wilayah Indonesia (Nusantara), yaitu sebagai tataran wilayah ‘Sunda Besar’ (The Greater Sunda Islands). Sedangkan arti dari Wiwitan sendiri yaitu awal, permulaan, jati, asal, pokok, pertama (Wahid, 2016). Sunda Wiwitan dapat dikatakan sebagai kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (dinamisme dan animisme) terdahulu (Hasyim, 2017).

Kemampuan tradisional masyarakat adat baduy dinilai telah dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka walau tanpa teknologi, karena pendidikan dan pengunaan mesin teknologi modern tidak diperkenankan hadir dan berkembang dalam kehidupan masyakat baduy, tetapi masyarakat baduy telah sejak lama memanfaatkan pengunaan alat tradisional sebagai media pemenuhan kehidupan yang diambil dari sumber daya alam sekitar seperti pemanfaatan pohon hutan, pertanian, irigasi persawahan, sistem sanitasi atau pengelolaan air hingga sistem konstruksi rumah masih mempertahankan alat tradisional.

Contohnya terlihat pada sistem pengairan lahan pertanian masyarakat baduy masih mengunakan saluran air dari bambu yang dihubungkan kepada sumber mata air tanpa mengunakan mesin sebagai pendorong tetapi memanfaatkan arus air pegunungan.

Hal menarik lain yang dapat kita temukan dari masyarakat baduy adalah, pada masa pandemi covid-19 terjadi di Indonesia bahkan mewabah hingga di seluruh penjuru dunia, dan berdampak pada kondisi kehidupan masyarakat dunia, masyarakat baduy seolah tidak terdampak sedikitpun, dari data Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan Satgas Covid-19 menunjukan tidak ada satu pun anggota masyarakat baduy yang terpapar covid-19 atau dengan kata lain nol kasus. Hal ini menunjukan bahwa kehidupan adat dan budaya masyarakat baduy, tidak hanya mampu menolak kehadiran teknologi tetapi juga menangkal masyarakatnya dari kondisi darurat Kesehatan pandemi covid-19.

BACA JUGA   Aturan Turunan UU Cipta Kerja Membawa Kemudahan bagi UMKM

Masyarakat baduy merupakan masyarakat yang mampu dengan gigih memegang budaya dan adat istiadat selama ratusan tahun lamanya, baduy memang menentang kehadiran pendidikan formal dan teknologi tetapi mereka terbuka dan tidak menentang kehadiran mayarakat luar untuk dapat berkunjung dan berinteraksi.

Masyarakat baduy begitu terbuka, menghargai perbedaan dan multikultural, hal ini tergambar dari jumlah wisatawan yang diterima dan hadir setiap tahunnya ke tanah kanekes terus meningkat.

Diperlukan peran pemerintah agar dapat menerapkan peraturan-peraturan daerah yang jelas dan tegas untuk dapat menjaga kelestarian adat masyarakat baduy, juga pemahaman kepada masyarakat secara umum tentang ekslusivisme adat atau ketertutupan masayarakat adat baduy pada teknologi bukanlah merupakan penolakan terhadap multikultural, tetapi bagian dari lingkup multikultural itu sendiri.

Referensi :

Carayannis, E. G., & Morawska-Jancelewicz, J. (2022). The Futures Of Europe: Society 5.0 And Industry 5.0 As Driving Forces Of Future Universities. Journal Of The Knowledge Economy, 1-27.

Artikel ini telah dibaca 380 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

KSMI Banten dan Kota Serang Gelar Konsolidasi, Perkuat Arah Pengembangan Mini Soccer

25 April 2026 - 10:00 WIB

Dinkes Kota Serang Intensifkan Intervensi, Tekan Angka Stunting Bertahap

16 April 2026 - 10:19 WIB

UPA Perpustakaan Untirta Gelar Bedah Buku ‘Baduy Masyarakat 1001 Tabu’ Karya Uday Suhada

16 April 2026 - 08:21 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Trending di Ekonomi