Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Kesehatan · 6 Mei 2021 14:03 WIB ·

Sayangi Keluarga di Kampung dengan Tidak Mudik


 Sayangi Keluarga di Kampung dengan Tidak Mudik Perbesar

Oleh : Zainudin Zidan 

Larangan mudik jelang lebaran tahun 2021 mungkin agak membuat shock karena sama dengan tahun lalu. Masyarakat diminta untuk lebih bersabar karena tidak pulang kampung, karena mobilitas massal bisa meningkatkan penularan corona. Jangan nekat mudik, karena justru dengan menahan diri, Anda menyayangi keluarga di kampung, karena memutus mata rantai penyebaran corona.

Keputusan pemerintah untuk melarang mudik hingga tanggal 16 Mei 2021 membuat geger masyarakat, karena mereka mengira tahun ini akan lebih longgar. Pasalnya, tahun lalu sudah ada larangan keras mudik. Ketika lagi-lagi masyarakat dilarang untuk pulang kampung, banyak yang akhirnya gigit jari.Larangan mudik harap dilihat sebagai sesuatu yang positif, karena tidak berlebaran di kampung justru untuk melindungi keluarga di sana.

Ketika nekat pulang kampung dan ternyata Anda seorang OTG, maka akan langsung menular ke orang tua. Mereka yang telah renta lebih mudah untuk tertular corona dan resiko tertingginya adalah sakit parah yang berujung kematian.

Raden Pardede, Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, menyatakan bahwa larangan mudik lebaran tahun 2021 bertujuan melindungi kesehatan masyarakat. Jangan sampai pasca pulang kampung ada serangan gelombang corona baru.

Pemerintah melarang untuk mudik karena berkaca dari beberapa liburan sebelumnya. Saat ada long weekend, maka jumlah pasien corona melonjak drastis, hingga 2 kali lipat. Penyebabnya karena mobilitas masyarakat membuat penyebaran virus covid-19 makin melebar, apalagi ketika bermukim atau mengunjungi wilayah dengan zona merah.

Raden Pardede melanjutkan, mudik diperbolehkan ketika keadaan sudah mulai aman. Walau belum mengatakan kapan, karena belum ada penurunan jumlah pasien corona secara drastis, tetapi hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintah ingin agar rakyatnya bahagia dengan berlebaran seperti biasa.

BACA JUGA   Pembubaran Deklarasi KAMI di Surabaya Sudah Tepat

Namun karena masih pandemi, maka mereka belum diperbolehkan untuk mudik.Pandemi sudah berlangsung selama 14 bulan dan masyarakat mulai jenuh dengan corona. Meski bosan, tetapi tidak boleh melewatkan fakta bahwa jumlah pasien covid masih tinggi, yakni lebih dari 4.000 orang per harinya. Jika semua orang diperbolehkan mudik, maka dikhawatirkan jumlah pasien akan meroket dan terjadi kasus corona massal.

Kita harus berkaca dari kasus di India saat ada kerumunan dan masyarakatnya tidak mematuhi protokol kesehatan. Akibatnya ada ratusan orang yang meninggal setiap harinya. Dikhawatirkan, ketika mudik tidak dilarang, akan terjadi hal yang serupa. Kita tentu masih sayang nyawa, bukan?

Apalagi tujuan mudik adalah rumah orang tua di kampung. Jika memang Anda bukan OTG, tetapi bisa beresiko kena corona di perjalanan, entah di rest area atau tempat lain. Ketika mudik, maka anda membawa oleh-oleh tak hanya makanan dan pakaian, tetapi juga virus covid-19.

Selain orang tua yang bisa terkena corona, maka tetangga dan saudara sekampung juga bisa terjangkit penyakit berbahaya ini. Maukah Anda dicap sebagai penyebar virus dan membuat banyak orang merana karena menderita dan harus dirawat selama minimal 2 minggu di Rumah Sakit? Jawabannya tidak, bukan? 

Tahanlah keinginan untuk mudik dan berlebaran di rumah saja. Saat ini sudah ada teknologi, bisa dengan telepon, video call, atau meeting online via Zoom. Orang tua Anda bisa memanfaatkannya juga dan melepas rindu walau hanya di dunia maya.

Larangan mudik bukanlah sebuah arogansi pemerintah, melainkan justru bentuk perhtian terhadap rakyatnya. Jangan sampai banyak orang yang pulang kampung lalu menyebarkan corona. Saat banyak yang sakit, maka efek negatifnya adalah pandemi akan terus berlanjut dan kita akan makin menderita di masa depan.

BACA JUGA   Reses Juragan Kambing, Berikan Solusi Atasi Sampah Dengan Cepat

*) Penulis adalah warganet penggiat Kampung Sehat Mandiri

Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dinkes Kota Serang Intensifkan Intervensi, Tekan Angka Stunting Bertahap

16 April 2026 - 10:19 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

Perkuat Ekosistem JKN, BPJS Kesehatan Bangun Sinergi dengan Posbankum

9 April 2026 - 08:16 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Trending di Opini