Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Hukum & Kriminal · 3 Jan 2022 09:07 WIB ·

Mendukung Peran Milenial Mencegah Radikalisme


 Mendukung Peran Milenial Mencegah Radikalisme Perbesar

Oleh : Cindy Ramadhani

Masyarakat mendukung milenial untuk terlibat aktif dalam mencegah radikalisme. Kelompok milenial dianggap lebih kreatif dan paham teknologi sehingga bisa mencegah radikalisme dengan cepat.

Beberapa tahun ini kita seolah dihantui oleh terorisme dan radikalisme, yang mengganggu ketenangan sosial di Indonesia. Kaum radikal ingin menancapkan kukunya dan mengubah bentuk pemerintahan menjadi khilafah, tetapi sayang tidak bisa karena melanggar pancasila dan UUD 1945. Mereka jadi marah dan memusuhi pemerintah serta memprovokasi masyarakat agar ikut-ikutan.

Padahal jika radikalisme dibiarkan saja maka akan sangat berbahaya karena mereka melakukan berbagai cara kekerasan untuk mewujudkan mimpinya. Kita tentu tidak mau Indonesia jadi kacau gara-gara pengeboman dan teror lainnya bukan? Oleh karena itu pemerintah ingin sesegera mungkin mencegah perluasan radikalisme, salah satu caranya dengan menggandeng kaum milenial alias anak-anak muda.

Mengapa harus anak muda? Penyebabnya karena kaum milenial memiliki citra lebih terdidik, terbuka, dan paham teknologi. Kemandirian generasi muda dalam memanfaatkan teknologi akan mendorong mereka menuju moderasi beragama, terutama dalam mengajukan pertanyaan dan berpikir kritis. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Subag TU Puslitbang BALK Kemenag RI Rizky Riyadu Topek.

Mengapa harus moderasi beragama? Penyebabnya karena moderasi beragama membuat seseorang beragama tidak secara ekstrim baik kanan maupun kiri, sehingga terhindar dari fanatisme. Jika kaum milenial sudah memahami moderasi beragama maka mereka tidak akan terjebak fanatisme yang akhirnya berujung pada radikalisme. Penyebabnya karena kebanyakan yang fanatik akan tertarik dengan paham radikal.

Rizky menambahkan, kita menyongsong era beragama yang lebih humanis dan universal. Dalam artian, kita tidak bisa serta-merta menyebarkan ajaran dengan cara kuno. Akan tetapi bisa dengan jalan humanis, misalnya dengan rajin berderma dan mengadakan penggalangan dana dan menghormati sesama manusia (walau berbeda akidah). Dengan pendekatan humanis maka akan terlihat betapa agama mengajarkan untuk cinta damai.

BACA JUGA   Studi Multikultural; Perspektif Pendidikan dan Budaya Masyarakat Adat Baduy dalam Menghadapi Kemajuan Teknologi

Dengan beragama yang lebih humanis maka banyak orang yang paham bahwa agama adalah cara untuk mencapai kedamaian hati dan bukan dengan cara kekerasan dan pengeboman yang dilakukan selama ini oleh kelompok radikal. Jika dicontohkan oleh kaum muda maka masyarakat akan tahu cara beragama yang menyentuh hati tanpa harus menyakiti orang lain, sehingga mereka paham bahwa radikalisme itu berbahaya.

Hubungan interreligius akan lebih positif di masa depan. Dalam artian, anak-anak muda memang lebih toleran dan mereka akan mengkampanyekan pluralisme serta toleransi dalam berhubungan dengan sesama manusia. Termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan. Ketika ada perbedaan dalam hari raya maka biasa saja, tidak ada aksi saling mengejek atau permusuhan lainnya.

Kaum milenial yang paham teknologi akan menggunakan kecerdasannya dalam menyebarkan moderasi beragama yang cinta damai dan anti radikalisme. Misalnya dengan membuat poster yang menjelaskan bahwa memiliki keyakinan itu baik tetapi terlalu ekstrim dan fanatik, serta terlibat radikalisme itu sangat tidak baik.

Poster itu akan di-upload di media sosial seperti Facebook dan Instagram sehingga makin banyak yang melihat dan memviralkannya. Dengan begitu, kaum milenial menjadi motor penggerak dalam gerakan anti radikalismje sekaligus mempromosikan moderasi beragama.

Peran milenial dalam mencegah radikalisme dan terorisme di Indonesia amat besar. Mereka bisa dimotivasi untuk memahami moderasi beragama dan cinta damai, sehingga bisa menyebarkan cara beragama yang humanis. Selain itu, mereka bisa memberangus radikalisme di negeri ini dengan berkampanye di dunia maya.

)* Penulis adalah Kontributor Pertiwi Institute

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda 

10 Maret 2025 - 02:20 WIB

Pemuda Pancasila Cipocokjaya Advokasi Warga Tak Mampu Bersama Kelurahan 

24 Februari 2025 - 14:17 WIB

Kawanan Curanmor Gasak Dua Motor di Perumahan BSD Walantaka, Tinggalkan Uang Rp2.000

17 Februari 2025 - 11:15 WIB

Kritik KPA Banten Terhadap Putusan Bebas Pelaku Kekerasan Seksual Kepada Anak Kandung

17 Januari 2025 - 16:17 WIB

Badan Penerimaan Negara, Asa yang Tertunda?

2 November 2024 - 17:21 WIB

Operasi Zebra Maung 2024 Polda Banten Berlangsung Dua Pekan, Ini Target dan Sasarannya 

15 Oktober 2024 - 12:03 WIB

Trending di Hukum & Kriminal