Menu

Mode Gelap
Lantai Tiga Mapolda Banten Terbakar, Ini Kata Wakapolda  Presiden Prabowo Subianto Lantik Penasehat Khusus, Utusan Khusus dan Staf Khusus Presiden Presiden Prabowo Lantik Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto Lantik Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo Subaianto-Gibran Rakabuming Raka Resmi Jabat Presiden dan Wakil Presiden RI

Opini · 8 Agu 2025 08:05 WIB ·

Membangun Kesadaran Politik Perempuan di Era 2025


 Novita Kurniawati. (Ist) Perbesar

Novita Kurniawati. (Ist)

Oleh: Novita Kurniawati, SE., MM

Di tengah geliat perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, peran perempuan dalam kehidupan sosial dan politik semakin relevan untuk diperkuat. Namun, hingga kini, keterlibatan perempuan dalam ranah politik masih belum mencerminkan potensi dan jumlah mereka dalam populasi.

Salah satu faktor mendasarnya adalah terbatasnya akses terhadap pendidikan politik yang menyentuh kebutuhan dan pengalaman perempuan secara nyata.

Pendidikan politik tak sekadar menyampaikan teori tentang sistem pemerintahan atau pemilu. Ia harus menjadi proses pemberdayaan yang mendorong kesadaran akan hak-hak sipil, keberanian bersuara, dan kemampuan membaca situasi sosial secara kritis.

Perempuan yang paham konteks politik akan lebih siap mengambil peran dalam pengambilan keputusan—baik di tingkat lokal maupun nasional.

Saat ini, banyak kebijakan publik menyentuh aspek kehidupan yang paling dekat dengan perempuan—mulai dari kesehatan, pendidikan anak, hingga kesejahteraan keluarga.

Tanpa keterlibatan langsung perempuan dalam proses politik, kebijakan-kebijakan tersebut kerap tidak mencerminkan kebutuhan riil di lapangan.

Sayangnya, masih berkembang anggapan bahwa politik itu “keras”, “kotor”, atau bahkan “bukan ranah perempuan”. Pemikiran seperti ini mengakar tidak hanya di kalangan laki-laki, tapi juga di benak sebagian perempuan sendiri.

Maka, pendidikan politik perlu dirancang agar lebih inklusif, kontekstual, dan membumi—tidak melulu formal, tetapi hadir dalam bentuk diskusi komunitas, media digital, hingga literasi di ruang-ruang keluarga.

Era digital memberi peluang besar. Platform online bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan isu-isu publik, mempertemukan perempuan lintas latar belakang, dan membuka ruang dialog yang sebelumnya tertutup.

Namun, akses saja tidak cukup. Konten yang disajikan harus relevan, berkelanjutan, dan mampu membangun kepercayaan diri perempuan untuk aktif menyampaikan gagasan.

Menguatkan pendidikan politik bagi perempuan bukan hanya soal mencetak pemimpin perempuan masa depan. Ini soal membangun masyarakat yang lebih setara, demokratis, dan responsif terhadap persoalan sehari-hari.

BACA JUGA   Relawan Jaga Banten Meminta Mabes Polri Segara Tangkap Pelaku Pembegalan Warga Baduy

Ketika perempuan melek politik, mereka tidak mudah termakan janji manis kampanye, tidak apatis terhadap keputusan publik, dan mampu menjadi penggerak perubahan di lingkungan terdekat.

Kini saatnya mengubah pendekatan. Politik bukan ruang eksklusif. Ia adalah milik semua warga negara—termasuk perempuan. Pendidikan politik adalah jembatan untuk memastikan bahwa suara perempuan tidak hanya terdengar, tapi juga diperhitungkan. (*)

Penulis adalah Praktisi Literasi

Artikel ini telah dibaca 92 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kota Serang Jenguk Warga Sakit di Puri Citra Pipitan

29 April 2026 - 11:09 WIB

Eksotisme, Alami dan Memikat; Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

11 April 2026 - 22:35 WIB

BLT Ditengah Bisingnya Informasi

5 April 2026 - 12:02 WIB

BBM dan Kendaraan Listrik: Antara Transisi Energi dan Beban Publik

3 April 2026 - 13:01 WIB

Menata Ulang Cara Pandang Komunikasi dalam Penanganan Bencana dan Kebijakan Bantuan di Sumatera

27 Maret 2026 - 08:46 WIB

Bias Algoritma dan Polarisasi Digital

24 Maret 2026 - 11:34 WIB

Trending di Opini