Secara mindset, pikiran kita harus pro aktif, bukan reaktif melihat situasi ini. Ketiga faktor di atas harus dilihat secara detail dan menyeluruh sehingga terbentuk analisa kausalitas dan rumusan solutif yang tepat. Dengan demikian, diharapkan langkah yang ditempuh bukan saja untuk mengatasi kesulitan saat ini, bersifat jangka pendek, melainkan agar kita melompat lebih tinggi.
Momentum ini harus dimanfaatkan untuk merestrukturisasi sistem ekonomi Indonesia agar lebih menjanjikan untuk mencapai dua indikator penting sila kelima Pancasila: kemakmuran (tingkat pendapatan tinggi) dan keadilan sosial (pemerataan ekonomi dan kebahagiaan). Fairly, saat ini sistem ekonomi kita terlihat menjauh dari dua indikator di atas, karena kita cenderung terjebak menjadi middle income country dan memiliki kesenjangan sosial-ekonomi tinggi.
Sebelum terlambat, kita harus bertekad keluar dari dua masalah besar itu. Caranya? pertama, lakukan diagnosa ekonomi dan sosial secara menyeluruh. Kita perlu potret kondisi ekonomi dan sosial yang lebih utuh dan detail, dari hulu ke hilir dan melingkupi seluruh aktifitas sosial-ekonomi. Data dan protret utuh sangat dibutuhkan untuk mengambil langkah yang tepat-akurat.
Kedua, kita harus memutuskan dan bertekad menjadi negara produsen. Menjadi negara produsen berarti menjadi negara yang mampu memproduksi barang-barang bagi kebutuhannya sendiri dan juga mampu menjadi bagian penting global supply chain. Dengan kata lain menjadi negara industri.














