Buku-buku penting hasil pemikiran Tan Malaka dan Soekarno dalam kondisi yang tidak enak tetap membumi dan menjadi refensi sekaligus bukti bahwa Tan Malaka adalah pencetus gagasan Indonesia Merdeka jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.
Perlu di ingat bahwa kedua tokoh revolusioner ini sebagai pejuang kemerdekaan ketika mencari inspirasi dan literasi keilmuan serta fatwa perlawanan selalu berdiskusi dan tetap meminta pendapat sebagai upaya tambahan khasanah keilmuan kepada Khadarus Syeh KH. Hasyim Asy’ari tokoh kemerdekaan pendiri Indonesia dan Muasis NU dengan haluan berdimensi Islam Aswaja yang Moderat dan Rahmah.
Sosok Khadratus Syeh Kiai Haji Hasyim Asyari adalah ulama pejuang kemerdekaan yang di jadikan sumber inspirasi, sebagai rujukan bagi pejuang kemerdekaan lainnya dalam melakukan perlawanan terhadap penjajajah dan kolonialisme Belanda, Inggris dan Jepang
Selain ulama, Kiai Hasyim juga sebagai pemikir kebangsaan dengan puncak dari pemikirannya adalah hasil proses ijtihadiyahnya yang berdampak luas bagi bangsa Indonesia adalah tentang fatwa Hubull Wathon Minal Iman [mencintai tanah air adalah sebagian dari iman] dan mewajibkan pagi umat atau fardu a’in membela tanah air ini.
Nah, berangkat dari hal tersebut penulis bukan sedang sok-sokan atau metasbihkan diri sebagai pemikir atau penulis seperti para pejuang kemerdekaan itu. tidak sama sekali. Hanya saja penulis merasa terpanggil untuk melakukan refleksi kemerdekaan pada sudut pandang berkaitan teladan para pejuang kemerdekaa yang selama inin di abaikan oleh entitas bangsa sehingga bukan memaknai kemerdekaan secara kaffah tapi menciptakan adanya penjajahan medel baru pada kebebesan pemikiran kegamaan di tengah kita sedang menyerukan kemerdekaan substansial segala dimensi, terutama kemerdekaan tentang pemikirian keagamaan.
Penjajahan pemikiran dan sikap keagamaan ini adalah hal yang paling berbahaya bagi keberlangsungan sebuah negara bangsa merdeka dan beragama untuk terus dilawan agar bangsa ini pula merdeka dalam kebebasan keagamaan. meskipun itu memerlukan perjuangan panjang dan lebih sulit, karena Soekarno sendiri telah memberikan nasehat bahwa kedepan musuhmu akan lebih sulit karena saudaramu sendiri.
Saat ini, ada fenomena penjajahan baru pada pemikiran dan sikap keagamaan umat oleh kelompok kegamaan yang mencoba mereduksi komitmen kebangsaan atau menjauhkan agama dengan kebangsaan. Padahal selama ini Indonesia adalah negara kebangsaan yang tidak lepas dari nilai agama sebagai guidence dalam mengisi kemerdekaan hasil konsensus para pejuang kemerdekaan. Konsensus kebangsaan ini telah di bangun oleh para the founding fathers yang beragam agama, suku, bahasa, adat dan kepercayaan dengan ikatan perasaan senasib untuk merdeka.
Fenomena penjajahan model ini bisa di istilahkan sebagai despotisme agama yang muncul setelah kaum agama melakunan show force mengelilingi monas sebagai klaim Bela agama akibat Ahok keceletot omong tetang Al quran. Sesungguhnya Ahok sendiri tak etis bicara agama orang lain, apalagi terkesan menistakan agama, namun, apalah daya semua itu telah terjadi dengan divonsinya ahok sebagai penista agama oleh prosed pradilan.














