Bahkan mayoritas responden yang dalam survei memilih salah satu nama yang ada di urutan 3 besar yaitu Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto masih memiliki keraguan tokoh yang dipilihnya merupakan sosok yang tepat dalam empat hal yang kami jadikan tolok ukur yaitu ; Polarisasi Masyarakat , Pemulihan Ekonomi , Pemberantasan Korupsi serta Peran Indonesia di Level Internasional.
Menurut Aditya data mengenai persepsi ini seringkali terlewatkan padahal bisa menjadi masukan berharga untuk nama-nama baru untuk melejit ataupun nama-nama pemuncak klasemen survei untuk memperkuat persepsi publik terhadapnya.
Direktur Riset dan Program ALGORITMA Fajar Nursahid memberikan penjelasan lebih jauh mengungkapkan dinamika politik terkait sosok yang akan diusung di Pilpres 2024 sangat mungkin terjadi. Hal itu menurutnya didukung oleh situasi partai yang sekalipun sudah mulai berkoalisi namun belum menentukan figur yang diusung.
Selain itu menurutnya berdasarkan hasil survei ALGORITMA publik kian rasional dalam menentukan pilihannya. Publik tetap sadar bahwa figur yang dipilihnya memiliki beberapa kekurangan dalam empat isu besar yang kami jadikan tolok ukur.
“Fenomena temuan dalam survei ini kami pandang sebagai hal yang positif karena setidaknya dua hal. Pertama, rakyat Indonesia kian realistis dalam menilai kemampuan dan potensi sosok yang dipilihnya. Sosok yang dipilih tidak dianggap sebagai sosok yang bisa melakukan segalanya,” katanya.
“Yang kedua , kami melihat sangat besar peluang untuk menculnya capres alternatif karena masih ada gap yang cukup besar baik dari pemilih yang belum menentukan pilihan maupun keyakinan akan kemampuan sosok-sosok yang namanya sudah beredar, ” tambah Fajar.
Fajar menambahkan, temuan-temuan spesifik seperti ini yang perlu menjadi bahan pertimbangan para figur yang namanya memuncaki bursa capres – cawapres. Menurutnya temuan terkait gap dari sisi persepsi publik terhadap kemampuan capres maupun cawapres bisa dimanfaatkan minimal untuk tiga hal.
“Bisa dimanfaatkan untuk minimal tiga hal, yaitu ; Pertama , menjadi masukan bagi partai politik peserta pemilu dalam memilih bakal calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung pada Pilpres 2024,” katanya.
“Kedua, masukan bagi capres yang namanya sudah beredar terkait gap persepsi publik terhadap performanya , serta ketiga, mendorong dan menggali lebih jauh jika ada capres capres yang belum muncul ke publik agar lebih dimunculkan ke hadapan publik , ” tambah Fajar.
Survei ALGORITMA ditujukan terhadap 1.206 responden di seluruh Indonesia mewakili pendapat pemilih secara nasional. Margin of error diperkirakan +/- 3 perse pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan pada 23 Juli sampai dengan 05 Agustus 2022 melalui wawancara telepon menggunakan kuesioner. (rls)














