Oleh : Muhammad Jaiz
Berita tentang Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) sebagai pusat penanganan penipuan transaksi keuangan, yang menerima 67.866 laporan termasuk tentang pinjaman online (pinjol), sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 12 Maret 2025 (infobanknews.com, 21/3). Semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa literasi keuangan digital bagi masyarakat semakin diperlukan.
Bunga Tinggi dan Teror
Sebagian besar pengaduan atas praktik pinjol umumya karena kasusnya masyarakat terjerat bunga tinggi yang ditawarkan pinjol ilegal. Dari laporan Statistik P2P Lending yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada April 2024 ada sekitar 2 juta orang Indonesia yang bermasalah dalam membayar cicilan pinjaman online (pinjol).
Menurut NoLimit Indonesia dalam laporan Perkembangan Isu Pinjaman Online di Media Sosial (2021) risiko yang paling sering terjadi dari menggunakan jasa pinjol ilegal adalah teror tiada henti terhadap peminjam dan keluarganya.
NoLimit Indonesia, seperti dikutip kompas.com (8/10/23), pernah melakukan riset dengan memantau pembahasan terkait pinjol di media sosial sepanjang 11 September -15 November 2021. Mereka menggunakan kata kunci “pinjol”, “pinjaman online”, dan “pinjaman ilegal”, kemudian menemukan ada 135.681 perbincangan.
Dari data tersebut, diketahui mengapa seseorang bisa terjerat pinjol. Alasan paling banyak adalah membayar utang lain yang sudah ada sebelumnya.
Alasan kedua adalah latar belakang ekonomi menengah ke bawah, diikuti dengan sifat pinjol yang bisa mencairkan dana dengan cepat. Pada angka keempat, kebutuhan mendesak juga menjadi alasan.
Hedonic Treadmill
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, seperti dikutip cnnindonesia.com (30/10/23), mengungkapkan banyak orang kena pinjol ilegal karena untuk memenuhi gaya hidup. Mereka biasanya juga sudah mempunyai utang sebelumnya. Jadi mereka menggunakan pinjol ilegal ini untuk membayar utangnya. Istilahya gali lubang tutup lubang.
Perilaku konsumtif ini yang menurut Kiki perlu diwaspadai dari masyarakat. Apalagi sekarang ada muncul istilah hedonic treadmill.
Istilah ini dikenal di dunia psikologi, yakni bagaimana seseorang menginginkan gaya hidup yang lebih dan lebih lagi. Jadi, berapapun penghasilan seseorang itu akan habis untuk mengikuti gaya hidup hedonik mereka. Menurut dia, inilah yang kemudian akan menyebabkan masyarakat terjerat pada utang.
Ia pun menyoroti fenomena-fenomena FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once) hingga FOPO (Fear of People’s Opinion) yang tak jarang dialami anak muda. Hal-hal ini, menurut Kiki, menyebabkan generasi muda tak menikmati hidup karena banyak mendengarkan pendapat orang lain.
Pentingnya Literasi
Fenomena terlilit utang pinjol dapat juga terjadi karena rendahnya literasi keuangan digital dari masyarakat.
Literasi keuangan digital sangat penting karena membantu individu memahami dan menggunakan layanan keuangan digital dengan aman dan bijak. Ini juga membantu individu mengelola keuangan dengan lebih baik, membuat keputusan investasi yang tepat, dan menghindari risiko penipuan online.
Menurut Rahim (2024), literasi keuangan digital bukan hanya sekadar tahu cara menggunakan aplikasi perbankan atau dompet digital. Lebih dari itu, literasi ini mencakup pemahaman tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi, memanfaatkan peluang investasi, memahami risiko layanan keuangan digital, hingga melindungi data pribadi di dunia maya.
Generasi muda yang memiliki literasi keuangan digital yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi masa kini dan masa depan, serta memiliki kemampuan untuk mencapai kemandirian finansial.
Masih menurut Rahim, kurangnya literasi keuangan digital tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada ekonomi secara keseluruhan. Generasi muda yang tidak memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan dengan bijak akan lebih rentan terhadap masalah finansial, seperti kebangkrutan atau ketergantungan pada utang.
Dalam skala yang lebih luas, rendahnya literasi keuangan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi karena masyarakat tidak mampu memanfaatkan layanan keuangan secara optimal.
Untuk meningkatkan literasi keuangan digital, menurut Rahim, peran pendidikan sangat penting. Materi tentang literasi keuangan seharusnya menjadi bagian dari kurikulum, sehingga generasi muda dapat memahami pentingnya mengelola keuangan sejak dini.
Selain itu, perusahaan teknologi finansial (fintech) juga dapat berkontribusi dengan menyediakan fitur edukasi dalam aplikasinya. Konten-konten edukasi di media sosial, seminar, dan pelatihan juga menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan informasi tentang literasi keuangan digital.
Ke mana?
Untuk menjadi melek keuangan digital, beberapa cara dan tempat literasi bisa masyarakat ikuti, misalnya acara seminar, talkshow, hingga kegiatan yang memanfaatkan media digital seperti platform online dan aplikasi.
Banyak universitas, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan yang aktif menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan digital. Kini banyak pula tersedia berbagai platform online yang menyediakan materi dan kursus literasi keuangan digital.
Aplikasi keuangan digital seperti perbankan online, dompet digital, aplikasi investasi, dan aplikasi asuransi online juga dapat menjadi sumber informasi. Selain itu beberapa perpustakaan daerah juga menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga kini fokus pada pengembangan literasi keuangan digital dan menyelenggarakan berbagai kegiatan. Terakhir, tidak ada salahnya coba ikuti media sosial dan grup diskusi terkait literasi keuangan:
Semoga dengan cara-cara ini, kita menjadi generasi produktif yang semakin melek keuangan digital.
Penulis adalah Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta)














