Bukan hanya akan menjadi panggung unjuk gigi dari Indonesia untuk dunia saja, melainkan dengan adanya IKN juga akan bisa berkontribusi dalam rangka memitigasi dampak perubahan iklim global, yang bahkan sampai detik ini masih sangat banyak diperbincangkan dalam berbagai macam forum dunia dan terus diupayakan untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut.
Karena bagaimanapun, krisis perubahan iklim global juga akan banyak sekali berdampak bahkan secara multidimensional bagi keberlangsungan dunia, utamanya bagi ekosistem dunia dan juga kesehatan lingkungan.
Sehingga jelas saja apabila tidak segera dicarikan solusinya, maka dunia sendiri akan semakin terpuruk dan mengalami banyak masalah di kemudian hari.
Lebih lanjut, Bambang Susantono sendiri menjelaskan bahwa dengan adanya kajian yang digagas oleh Pemerintah RI bersamaan dengan ADB tersebut akan langsung menciptakan sebuah momentum emas dan juga sekaligus memperjelas arah bagi pembangunan IKN, utamanya dalam rangka menjadikan IKN sebagai kota netral karbon yang pertama di Indonesia pada tahun 2045 mendatang.
Pasalnya, upaya untuk bisa menjadi sebuah kota yang netral karbon tersebut adalah jika semuanya sudah selesai diterapkan, maka Nusantara sendiri menurutnya akan bisa menjaga hingga sebanyak 65 persen dari kawasannya sebagai kawasan yang dilindungi dengan melalui segenap proses restorasi dan juga rehabilitasi.
Nantinya, ketika seluruh proses restorasi dan rehabilitasi tersebut telah dilaksanakan, maka secara otomatis pula IKN akan mampu meningkatkan kemampuannya dalam penyerapan karbon dan bahkan akan mungkin menyerap karbon lebih banyak lagi dari yang dilepaskan (net sink) pada sebelum tahun 2030, yang kemudian nantinya pada tahun 2045 akan benar-benar menjadi sebuah kota yang berposisi sebagai netral karbon.
Dengan adanya pembangunan IKN yang digagas oleh Pemerintah RI dengan menggandeng sejumlah pihak dan terus mengupayakan adanya pembangunan yang berkelanjutan dengan lingkungan hijau yang terus hidup berdampingan dengannya, termasuk pula menjadi langkah konkret dari Nusantara untuk meningkatkan kontribusinya pada target pencapaian nol emisi karbon Indonesia bahkan pada tahun 2060 mendatang.
Sementara itu, Wakil Presiden Urusan Asia Tenggara, Asia Timur dan Pasifik, Ahmed M. Saeed menyatakan bahwa partisipasi aktif dari semua pihak, termasuk diantaranya adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten atau kota memang menjadi garda yang berada pada barisan paling depan untuk bisa mengimplementasikan kebijakan nasional terebut dalam rangka mendukung pencapaian komitmen kuat yang sudah dilakukan oleh pemerintah pusat mengenai kesepakatan Paris.
Indonesia akan segera memiliki negara dengan kota yang netral karbon pertama di dunia, yakni pada tahun 2045 mendatang. Hal tersebut akan ditujukan dengan pembangunan IKN yang berada di Kalimantan Timur dengan banyaknya kajian dengan paradigma environmental ethics, termasuk juga menjadi semangat untuk semakin mempertegas komitmen pemerintah RI pada Kesepakatan Paris. (*)
*) Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara














