Oleh : Muhammad Jaiz
Di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, kini semakin menguat tuntutan agar kegiatan kuliah kerja mahasiswa (KKM) tidak terus terjebak dalam stigma “wisata akademik”.
Dulu, publik menilai KKM hanya sebagai kegiatan di mana selama berminggu-minggu, sekelompok mahasiswa datang ke desa, memasang papan nama jalan, mengadakan lomba mewarnai, lalu pulang meninggalkan kenangan foto-foto di media sosial. KKM tidak dikenang sebagai instrumen pemberdayaan yang efektif, hanya sekadar ritual formalitas untuk memenuhi Satuan Kredit Semester (SKS).
Padahal, di tengah tantangan pembangunan yang kian kompleks, KKM diharapkan dapat menjadi inkubator solusi bagi persoalan nyata di tingkat akar rumput. Di tengah tantangan era digital dan perubahan iklim, pengabdian masyarakat juga dituntut lebih dari sekadar perbaikan fisik yang bersifat kosmetik.
KKM Berdampak
Berangkat dari pemikiran bahwa kegiatan KKM perlu berdampak nyata bagi masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada sekira April-Mei 2025 memperkenalkan gerakan KKM Berdampak / Tematik.
KKM Berdampak adalah program pengabdian masyarakat oleh mahasiswa yang berfokus pada hasil nyata dan kontribusi positif. KKM jenis ini menekankan pada pemberdayaan masyarakat, penyelesaian masalah riil, serta memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan tempat mahasiswa bertugas, bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik.
KKM jenis ini dirancang agar perguruan tinggi menjadi pusat solusi sosial, ekonomi, dan lingkungan, contohnya melalui KKM Tematik Literasi atau KKM Tematik Nusantara. Juga ingin mengubah paradigma KKM agar lebih kontekstual, berbasis riset, dan memberikan dampak langsung terhadap pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.
KKM Berdampak merupakan transformasi dari “Kampus Merdeka” ke “Kampus Berdampak” di mana fokus pendidikan tinggi kini bergeser ke “Kampus Berdampak” yang menekankan kontribusi nyata terhadap pembangunan dan ekonomi nasional, bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik.
Gerakan ini sepenuhnya berfokus pada pemberdayaan. Program kerjanya dirancang sesuai kebutuhan masyarakat (misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan) untuk memberikan solusi nyata. Ia juga turut mengupayakan penguatan dan pengembangan potensi lokal.
KKM Berdampak juga sangat memperhatikan aspek keberlanjutan (sustainable). Keberlanjutan di sini bukan berarti mahasiswa harus tinggal selamanya di desa, melainkan bagaimana program yang mereka inisiasi dapat terus berjalan secara mandiri oleh warga lokal setelah mahasiswa ditarik kembali ke kampus. Hasil dari program KKM diharapkan dapat dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu lama oleh masyarakat.
Untuk mahasiswa peserta KKM, mereka diharapkan dapat belajar mengaplikasikan ilmu langsung di masyarakat, meningkatkan keterampilan sosial, empati, dan kemampuan kepemimpinan. Melalui pendekatan multidisiplin, mahasiswa juga belajar berkolaborasi, memimpin, dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah riil. Hal ini membentuk karakter yang tangguh dan siap kerja.
Di Untirta
Untirta (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) sebagai salah satu PTN di Banten, secara rutin sejak 2025 menyelenggarakan KKM Berdampak / Tematik dalam beberapa gelombang setiap tahunnya. Programnya bervariasi, meliputi KKM Tematik, KKN Kemanusiaan, KKN Bilateral, dan KKN Pondok Pesantren.
Mengawali tahun ini, Untirta kembali melepas peserta KKM Tematik Reguler I pada Januari 2026, yang berfokus pada berbagai tema seperti literasi dan kemanusiaan untuk disebar ke beberapa kecamatan di Banten.
Untuk mencegah supaya mahasiswa tidak hanya menjadi tamu yang pasif selama di desa, sebaliknya agar masa pengabdian singkat ini meninggalkan dampak jangka panjang, maka pertama-tama setiap dosen pembimbing lapangan (DPL) di Untirta membekali pola pikir mahasiswa dalam menyusun program kerja (proker).
Mahasiswa sebisa mungkin dilarang membuat program yang bersifat “top-down” tanpa memahami kebutuhan desa. Langkah krusial adalah dengan melakukan pemetaan potensi dan masalah, melalui wawancara dengan tokoh masyarakat serta observasi mendalam.
Ditekankan bahwa program yang ideal adalah program yang mengawinkan disiplin ilmu mahasiswa dengan potensi lokal. Misalnya, mahasiswa Hukum tidak hanya mengajar di sekolah, tapi juga memfasilitasi penyuluhan hukum terkait sertifikasi tanah. Atau mahasiswa Komunikasi yang berbagi literasi digital bagi perangkat desa.
Di era saat ini, digitalisasi desa adalah kebutuhan mendesak. Mahasiswa memiliki peluang besar untuk membantu desa mengoptimalkan potensi wisatanya melalui pembuatan konten media sosial atau membantu publikasi artikel berita mengenai keunggulan desa tersebut.
Salah satu program unggulan yang mulai banyak diadopsi menjadi proker KKM di Untirta adalah digitalisasi desa wisata dan UMKM. Alih-alih hanya membuat plang nama jalan, mahasiswa melatih aparatur desa mengelola website desa atau membantu pelaku UMKM lokal melakukan pemasaran digital melalui media sosial.
Keberlanjutan program ini tercapai ketika mahasiswa memberikan pendampingan teknis dan literasi digital kepada pengelola lokal, sehingga rantai ekonomi tetap berputar tanpa ketergantungan pada kehadiran fisik mahasiswa.
Program unggulan lainnya yang bersifat berkelanjutan adalah pengelolaan limbah, dan pertanian modern. Misalnya, pembuatan rocket stove, yakni kompor pembakaran biomassa (seperti ranting kayu, daun kering, atau limbah organik) yang sangat efisien dan menghasilkan panas tinggi dengan asap minimal.
Lalu pemanfaatan limbah kayu menjadi briket atau edukasi pertanian berbasis eco-enzyme yang murah dan ramah lingkungan. Inovasi seperti ini menjawab masalah nyata di lapangan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Selain itu, pendampingan dalam literasi kesehatan, seperti sosialisasi pemanfaatan BPJS, sangat krusial agar masyarakat desa tidak terpinggirkan dari akses layanan publik.
Untuk itu ditekankan pula bahwa mahasiswa harus aktif berkolaborasi dengan organisasi desa seperti PKK, Puskesmas, Karang Taruna, atau BUMDes. Tanpa partisipasi masyarakat, program sehebat apa pun akan mati segera setelah mahasiswa menarik diri dari lokasi.
Kunci utama keberhasilan program kerja KKM bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan seberapa besar keterlibatan masyarakat (community engagement) dalam prosesnya. Program yang dipaksakan dari “atas” tanpa melihat potensi lokal cenderung akan mangkrak. Sebaliknya, program yang berangkat dari kebutuhan mendesak warga -seperti pelatihan sanitasi atau klinik kesehatan keliling- akan lebih dijaga keberlangsungannya oleh komunitas.
Dengan demikian, KKM yang berdampak mengubah paradigma dari sekadar “kunjungan” menjadi “pemberdayaan” yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Penulis adalah Pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta














