SERANG – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) tahun 2025 melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) di Kampung Seni Yudha Asri, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, pada 15-19 Juli 2025.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari peran pendidikan dalam merawat dan memperkuat identitas lokal melalui pelestarian budaya.
Tema kegiatan ‘Merajut Warisan Budaya Melalui Pendidikan Demi Menjaga Identitas Lokal’ menghadirkan beragam aktivitas tidak hanya aspek edukatif, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya kebudayaan sebagai pondasi sosial.
Selama lima hari, mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal.
Kampung Seni Yudha Asri dipilih sebagai lokasi pengabdian karena karakteristik budayanya yang kuat dan peran aktif masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
Sanggar Seni Yudha Asri menjadi mitra strategis dalam kegiatan ini, memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para pelaku budaya sekaligus berkontribusi dalam menghidupkan tradisi.
“Melalui pengabdian ini, kami ingin membangun jembatan antara dunia pendidikan dan masyarakat. Kebudayaan bukan hanya untuk dipelajari, tapi juga untuk dijaga bersama,” ujar Tarmadi, Ketua Pelaksana kegiatan PPM 2025.
Perwakilan dari pimpinan Kampung Seni Yudha Asri dan Sanggar Seni, Rendi mengapresiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan mahasiswa.
Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Mahasiswa kami anggap sebagai agen perubahan yang membawa semangat gotong royong dan ide-ide baru yang membangun.
Pada acara penutupan, digelar malam puncak yang menampilkan ragam seni tradisional seperti Rampak Bedug, Tari Mojang Peringanan, Tari Ngaruwat Bumi, Bedug Kerok, dan Tari Tujuh Ratu. Penampilan tersebut menjadi simbol dari proses belajar yang saling memperkuat antara mahasiswa dan masyarakat.
Warga Kampung Yudha Asri menyambut hangat kehadiran para mahasiswa. Kesan mendalam dan semangat kebersamaan sebagai penanda pendidikan dan budaya adalah dua hal tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban lokal yang berkelanjutan. (*)













