Oleh : Elsa Loenita Damayanti
Nama saya Elsa Loenita Damayanti. Saat SMA, saya mendapat julukan “si paling organisasi”. Hal itu terjadi karena terkenal aktif di beberapa organisasi dan ekstrakurikuler dengan memegang peran sebagai ketua di dua organisasi dan pengurus di tiga ekstrakurikuler sekaligus.
Sehingga hidup saya juga tidak pernah merasa gabut sedikitpun. Bahkan dari Senin sampai Minggu, kebanyakan aktivitas dipenuhi dengan kepentingan organisasi dan ekstrakurikuler.
Memasuki kelas 12, perlahan mulai mengakhiri satu persatu peran di organisasi dan ekstrakurikuler. Hidup berubah drastis, penuh kegabutan dan tak ada lagi yang dilakukan selain hanya belajar, belajar dan belajar.
Semakin lama semakin jenuh dan stress. Mulai mencari cara dan ide hal apa yang bisa dilakukan untuk mengisi kegabutan di sela-sela belajar agar tidak jenuh dan stress.
Suatu ketika sedang jamkos di kelas, perhatian saya tertuju pada sekelompok orang yang sedang membincangkan suatu hal menarik. Salah satu dari mereka mengatakan “Kalo gabut, scroll tik-tok saja, selain bisa menghilangkan stress kita juga bisa mendapatkan rekomendasi fashion atau apapun itu yang sedang trand”. Mendengar hal itu membuat diri ini berpikir sejenak, dan tergerak mencobanya.
Tiba di rumah, aplikasi tik-tok yang sudah lama dihapus di instal kembali dan langsung membukanya. Postingan-postingan yang lewat di fyp sangat relate dengan kehidupan saya.
Sejak kembali menginstal tik-tok, sangat merasa lebih mudah dalam menentukan pilihan dan merasakan kenyamanan disini. Setiap pagi, setiap malam, dan setelah bangun tidur selalu saja langsung scrol tik-tok, melihat apa yang ada dalam fyp.
Setiap ingin makan, minum, memilih baju, hingga cara berpikir, saya selalu mengandalkan dan mengikuti apa yang fyp instrusikan. Sekalipun saya tak suka.
Kini, waktu saya hanya dihabiskan dengan rebahan dan scroll tik-tok. Tanpa disadari saya meninggalkan kegiatan belajar di luar jam sekolah. Dan sekarang kebanyakan bermalas-malasan, hanya berada di depan layar HP setiap harinya.
Algoritma tik-tok ini seolah olah menjadi kompas dalam hidup. Sebagai penentu arah yang harus saya lakukan selanjutnya.
Suatu ketika saya pergi ke sebuah acara di sekolah. Tak sengaja mengamati orang-orang di lingkungan sekitar. Kebanyakan mereka memakai fashion yang sama dan cara berbicara nya pun sama. Anjir, anjay, bjir, atau apalah itu. Gaya berbicara mereka persis seperti apa yang lewat di fyp.
Lalu saya melihat seseorang. Hanya dia yg terlihat berbeda diantara yang lain. Dia tampil apa adanya, bahkan fashion yg di pakai, barang yang di bawa jauh dari tren.
Tetapi, dia terlihat begitu nyaman dengan dirinya sendiri, sementara saya masih terus merasa terjebak dalam tren yang sebenarnya tidak mencerminkan siapa saya.
Pada titik itu, saya mulai bertanya-tanya, apakah saya benar-benar ingin terus hidup mengikuti tren fyp tik-tok. Hingga akhirnya saya tersadar harus kembali ke diri saya yang dulu sebelum terlalu jauh.
Hari-hari berikutnya saya mulai mengurangi waktu di TikTok. Mencoba untuk tidak terlalu bergantung pada apa yang trending, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar suka.
Perlahan-lahan, saya merasa lebih bebas. Tidak harus mengikuti tren membuat saya merasa lebih ringan. Dan Yang paling penting, sekarang saya belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan tidak terlalu keras pada diri ini.
Saya mulai menemukan kebahagiaan dan menikmati waktu untuk diri sendiri. Sekarang, saya tahu bahwa menjadi diri sendiri, terlepas dari apa yang sedang ngetren, adalah kunci untuk merasa bahagia dan puas dengan hidup. (*)
Penulis adalah mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta angkatan 2024.














