SERANG – Wali Kota Serang, Budi Rustandi, secara resmi membuka Diklat Kader Kerukunan Umat Beragama yang digelar oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang.
Kegiatan perdana FKUB ini selama tiga hari berlangsung di Kebun Kebangsaan, Walantaka, Kota Serang, 24-26 Oktober 2025.
“Hari ini saya membuka acara diklat kader kerukunan agama, dan ini baru pertama kali dilaksanakan di Kota Serang pada pemerintahan saya. Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar,” ujar Budi Rustandi, Jumat 24 Oktober 2025.
Budi mengapresiasi FKUB sebagai garda terdepan menjaga kedamaian wilayah. Pemerintah Kota Serang mendukung penuh upaya tersebut agar Kota Serang menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh warga.
“Tidak ada kota yang maju tanpa adanya kenyamanan dan kedamaian. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kita menjadikan Kota Serang sebagai kota yang damai dan maju,” kata Wali Kota.
Ia menegaskan harapannya agar masyarakat hidup rukun dan saling menghargai tanpa membeda-bedakan mayoritas maupun minoritas.
“Kota yang kondusif akan cepat maju. Kita ingin menjadikan Kota Serang sebagai kota yang damai, sejahtera, dan terbuka bagi semua,” tegas Budi.
Selain itu, Wali Kota juga menyatakan dukungannya pada kegiatan lintas agama dan budaya yang bisa memperkuat harmonisasi sosial dan menarik wisatawan.
“Kalau semua budaya ditampilkan, ini bisa menjadi daya tarik tersendiri. Ke depan, kita mendukung adanya event budaya lintas agama sebagai bentuk persatuan,” jelasnya.
Menurut Budi, acara semacam ini juga berpotensi meningkatkan perekonomian daerah lewat sektor wisata dan UMKM.
“Saya ingin pengunjung dari luar daerah datang ke Kota Serang, menginap, dan berbelanja di sini. Itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” tambahnya.
Ketua FKUB Kota Serang KH. Matin Syarkowi menjelaskan bahwa diklat ini sebagai tanggung jawab moral umat beragama menjaga harmonisasi sosial.
“Agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga hubungan antarsesama tanpa melihat latar belakang suku, etnis, maupun agama. Dalam konteks kemanusiaan, kita harus mampu menciptakan harmonisasi,” paparnya.
KH. Matin mengingatkan sejarah Kota Serang sebagai pelabuhan internasional sejak masa kesultanan dengan karakter masyarakat Banten yang terbuka dan toleran.
“Sejak dulu, Sultan Banten sudah menunjukkan sikap terbuka terhadap keberagaman. Itu yang membuat Banten maju, dan nilai itu harus terus kita jaga,” ujarnya.
Tantangan terbesar menurutnya adalah saat agama dipahami secara emosional, bukan berdasarkan ajaran ilahiah.
“Agama harus dipahami berdasarkan wahyu, bukan nafsu atau kepentingan pribadi,” tegas KH. Matin.
Kata dia, FKUB juga tengah mempersiapkan Pesta Budaya Lintas Agama yang akan digelar Januari 2026 bertepatan Hari Amal Bakti.
“Konsepnya kolaborasi budaya antarumat beragama. Setiap agama bisa menampilkan seni dan budayanya masing-masing, sekaligus menjaga satu sama lain dalam menjalankan ibadahnya. Ini bukan mencampuradukkan ajaran, tapi memperkuat rasa saling menghormati,” jelas KH. Matin.
Acara tersebut akan dimeriahkan pawai, pertunjukan seni budaya, hingga bazar UMKM sebagai wujud persaudaraan dan identitas Kota Serang sebagai kota damai dan inklusif. (*/rls)














