SERANG – Ketua GP Ansor Provinsi Banten, Tb Adam Ma’rifat, menegaskan bahwa Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk mengingat kembali peran besar kaum santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Menurutnya, santri telah menjadi kekuatan moral, spiritual, dan sosial yang menjaga keutuhan negeri sejak masa penjajahan hingga kini.
“Peringatan Hari Santri merupakan momentum pengingat bahwa santri selalu mempunyai peran penting untuk bangsa Indonesia ini, dari dulu hingga sekarang, sesuai kebutuhan zaman,” ujar Tb Adam Ma’rifat, Rabu, 22 Oktober 2025.
Adam menjelaskan, pada masa penjajahan, para santri ikut turun langsung ke medan tempur karena panggilan jihad melawan penjajah.
“Dulu santri diminta angkat senjata karena bangsa ini memanggil. Dengan segala kemampuan sipil yang dimiliki, semangat heroik, dan iman di dada yang kuat, santri ikut fatwa jihad membela tanah air oleh kiai untuk melawan penjajah yang datang kembali melalui Surabaya,” katanya.
Namun, ia menyesalkan bahwa peran besar santri itu sempat dihapus dari narasi sejarah resmi. Dalam buku pelajaran sekolah maupun narasi umum masyarakat, peristiwa 10 November hanya diidentikkan dengan arek-arek Suroboyo dan Bung Tomo, tanpa menyebut peran pesantren.
“Selama puluhan tahun, peran santri itu ‘dihilangkan’ dari sejarah. Framing-nya hanya menyebut 10 November sebagai hari pahlawan tanpa menyebut peran santri, pesantren, dan kiai. Ini ketidakadilan sejarah,” ujar Adam.
Menurutnya, santri adalah kelompok yang selalu setia kepada negara, bahkan ketika berada di bawah tekanan politik pada masa Orde Baru.
“Selama bangsa ini berdiri, santri tidak banyak menuntut. Saat era Orde Baru, kalangan pesantren justru dipinggirkan oleh kekuasaan. Tapi santri terus berlaku baik, tidak pernah ada cerita pemberontakan, bahkan dalam pikiran,” katanya.
Adam menilai sikap itu tidak lepas dari ajaran para kiai yang menanamkan nilai kesabaran, syukur, dan nasionalisme yang kuat.
“Alih-alih melakukan demonstrasi, pesantren terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Seperti kaidah yang diajarkan di pesantren, memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik,” ujarnya.
Dalam pandangannya, santri kerap menjadi game changer dalam perjalanan bangsa. Ia mencontohkan bagaimana semangat santri pada 22 Oktober 1945, lewat fatwa jihad, menjadi pemicu perlawanan rakyat yang berujung pada peristiwa 10 November di Surabaya.
“Santri terbukti mampu membawa angin perubahan sehingga bangsa ini bisa membasmi penjajah secara kaffah. Bahkan di masa kini, santri juga memberi pengaruh besar dalam dinamika nasional, termasuk dalam dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto yang dekat dengan kalangan pesantren,” ujarnya.
Kini, kata Adam, pesantren tidak hanya menjadi tempat pengajaran ilmu agama, tetapi juga lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kalau dulu pesantren hanya mengaji, sekarang pesantren cukup serius membaca perubahan zaman. Banyak pesantren yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum bahkan keterampilan hidup (lifeskill),” tuturnya.
Meski begitu, ia menilai santri masih menghadapi tantangan baru dalam bentuk pelabelan negatif di media massa.
“Kalau dulu santri pernah ‘dihilangkan’ sejarah, kini santri bahkan diframing secara keji oleh media sekecil Trans7. Tapi santri tetap menanggapinya dengan adab, tanpa kebencian,” kata Adam.
Menurutnya, karakter itu menjadi bukti bahwa pesantren tetap menjadi benteng moral bangsa.
“Santri selalu mengutamakan adab di atas segalanya. Bahkan ketika diperlakukan tidak adil, mereka tetap menempuh jalan hikmah dan kesabaran. Itulah kekuatan sejati santri,” katanya. (*)












