SERANG – Mahasiswa PLP Holistik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyelenggarakan seminar bertema “Urban Farming Berbasis Hidroponik sebagai Solusi Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan” di SMA Negeri 6 Kota Serang pada 14 November 2025.
Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah ini menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami konsep pertanian efisien yang relevan diterapkan di wilayah perkotaan.
Seminar dibuka dengan rangkaian resmi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta. Pembina ekstrakurikuler lingkungan hidup, Sekuati Ardini, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi mahasiswa Untirta.
“Ibu sangat berterima kasih kepada mahasiswa Untirta yang telah menjadi mitra strategis dalam memberikan edukasi lingkungan kepada siswa. Semoga seminar ini dapat menginspirasi mereka untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan berkelanjutan,” ujarnya.
Ketua PLP Holistik SMAN 6 Kota Serang, Muhammad Hatami, menegaskan komitmen sekolah terhadap inovasi ramah lingkungan.
“Kami di SMAN 6 selalu membuka ruang bagi pengembangan ide-ide berkelanjutan. Seminar hidroponik ini menjadi langkah nyata untuk membangun kesadaran lingkungan di kalangan siswa,” kata Hatami.
Materi utama disampaikan oleh akademisi sekaligus praktisi budidaya tanaman, Pipit Marianingsih. Ia memaparkan prinsip hidroponik sebagai metode tanam tanpa tanah menggunakan larutan nutrisi mineral.
“Hidroponik adalah solusi pertanian modern yang memungkinkan tanaman tumbuh optimal meski di lahan terbatas. Sistem ini sangat cocok untuk urban farming,” jelas Pipit.
Ia juga menyinggung tantangan teknis yang perlu dipahami.
“Kendalanya biasanya pada biaya awal dan pengaturan pH serta suhu. Namun, jika pengelolaan tepat, produktivitasnya sangat tinggi,” tambahnya.
Dalam sesi materi, Pipit menjelaskan enam sistem hidroponik, yaitu Wick System, Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Deep Flow Technique (DFT), Drip Irrigation System, dan Aeroponik. Siswa diperkenalkan pada peralatan penting seperti TDS meter, rockwool, netpot, nutrisi AB Mix, dan instalasi sederhana yang dapat dipraktikkan di sekolah.
Tahapan budidaya dipresentasikan secara runtut, mulai dari penyemaian benih, pengaturan nutrisi, pemeliharaan pH, hingga panen tanaman seperti pakcoy, selada, kangkung, bayam merah, sawi, dan tomat. Contoh praktik dari greenhouse FKIP Untirta turut ditampilkan sebagai inspirasi awal.
Seminar juga memuat analisis SWOT usaha hidroponik, termasuk kekuatan produk berkualitas tinggi, peluang pasar urban, tantangan harga jual, serta potensi persaingan pasar. Materi ini membuka wawasan siswa mengenai peluang pertanian kota yang terus berkembang.
Kegiatan ditutup dengan harapan bahwa edukasi hidroponik ini menjadi langkah awal perwujudan urban farming di lingkungan sekolah. Mahasiswa PLP Holistik Untirta menegaskan kembali komitmen mereka untuk terus menghadirkan program edukatif yang berdampak nyata bagi sekolah mitra dan masyarakat. (*/rls)














