Sebuah Catatan Pemuda Indonesia

0

Refleksi Hari Sumpah Pemuda 2020

Oleh : Suryana Ependi

Pemuda sering kita pahami sebagai generasi penerus bangsa. Karena dalam diri pemuda memiliki kekuatan dalam hal moril maupun materil, yang mampu membawa Indonesia ke dalam perubahan yang sering kita harapkan.

Sudah bukan hal asing kita mendengar dimana para pemuda tempo dahulu merupakan arsitektur nya Indonesia. Ketika lahirnya organisasi nasional pada tahun 1908 yang sering disebut organisasi Budi Utomo.

Merupakan kumpulan para pemuda yang belajar di Stovia walaupun organisasi itu hanya meliputi orang jawa, bukan hanya itu masih banyak organisasi-organisasi yang didirkan oleh pemuda misalnya ketika Hatta muda mendirikan Indische Vereeniging di Belanda pada tahun 1908.

E.F.E Dowes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat yang disebut tiga serangkai mendirikan sebuah organisasi Indische Partij, ketika Soekarno muda juga mendirikan Algemeene Studieclub di tanah Pasundan pada tahun 1926, dan masih banyak organisasi yang lainnya.

Nanti berpuncak pada sebuah kongres pemuda yang akan melahirkan yang sering kita sebut Sumpah pemuda yang merupakan simbol penyatuan dan lahirnya bangsa Indonesia.

Ketika sebelum meletusnya Revolusi Indonesia banyak pemuda yang berperan dalam terlaksananya revolusi Indonesia dan perumusan dasar-dasar kebangsaan misalnya wikana, chairul saleh, syahrir, wahid hasyim dan lain-lain.

Setelah Revolusi Indonesia pemuda juga ikut berperan dalam pengawalan arah bangsa Indonesia. Misalnya, Tragedi 1965 dan yang mengakibatkan penurunan Soekarno dengan tuntutan TRITURA nya, gerakan 1974 atau yang sering disebut gerakan Malapetaka 15 Januari yang terjadi pada tahun 1974.

Kemudian, gerakan 1998 yang berhasil meruntuhkan bangunan tua dan diganti dengan bangunan baru yang sering disebut Reformasi, yang berhasil membawa Indonesia kepada yang lebih baik.

Walaupun bahasa Karlina Supelli dalam pidatonya, Reformasi 1998 itu baru Reformasi Birokrasi dan dimana harus diikuti dengan penguatan masyarakat sipil.
Penulis sengaja untuk pembuka sedikit menceritakan mengenai peran pemuda masa lalu dalam pembangunan bangsa Indonesia, supaya kita mampu menjadikan cermin dalam melakukan perbaikan ke depan.

Karena pada dasarnya setiap peristiwa itu terjadi tidak ada yang alami, jadi suatu keharusan kita mampu memetakan bagaimana Design bangsa Indonesia ke depan.

Pemuda hari ini, menghadapi permasalahan yang begitu kompleks entah permasalahan diciptakan di masa lalu atau pun permasalahan baru-baru ini. Kondisi ini terjadi karena kekeliuran terjadi pada masa lalu. Dalam bahasanya Nurcholis Majid Krisis Multidimensional.

Sehingga harus menjadikan pemuda saat ini mampu berpikir Global dan bertindak lokal, berpikir global menjadikan pemuda memiliki wawasan yang luas dan terbuka, sedangkan bertindak lokal ialah mampu bertindak dengan melihat lingkungan sekitar dimana kita hidup kalau menurut kuntowijoyo ialah dari teks ke konteks.

Karena permasalahan yang sangat kompleks itu maka pemuda dituntut untuk mampu memetakan peradaaban atau menciptakan peradaban. Era sekarang kemajuan tekhnologi begitu melesat kita bisa melihat dari penggunaan media sosial di Indonesia berdasarkan data dari Hootsuite yang merupakaan perusahaan analisis media sosial dari Kanada.

Pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 160 juta atau 59% dari populasi penduduk yang ada di Indonesia. Tapi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2019 mencapai 71,92 (BPS.go.id), bisa disimpulkan kemahiran dalam berdigital tidak menjadi ukuran dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia.

Dilihat dari Skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 40. Khususnya dalam persoalan lingkungan Indonesia masih sangat banyak permasalahan, misalnya Lahan mterbakar dari tahun 2015 sampai 2018 seluas 3.403.000 ha (Hektar) https://www.greenpeace.org/, “Laju deforestasi mencapai 1,8 juta hektar/tahun yang mengakibatkan 21% dari 133 juta hektar hutan Indonesia hilang. 30% dari 2,5 juta hektar terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan.

Bahkan pada 2010, Sungai Citarum pernah dinobatkan sebagai Sungai Paling Tercemar di Dunia oleh situs huffingtonpost.com. World Bank juga menempatkan Jakarta sebagai kota dengan polutan tertinggi ketiga setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City. Ratusan tumbuhan dan hewan Indonesia yang langka dan terancam punah.

Menurut catatan IUCN Redlist, sebanyak 76 spesies hewan Indonesia dan 127 tumbuhan berada dalam status keterancaman tertinggi yaitu status Critically Endangered (Kritis), serta 205 jenis hewan dan 88 jenis tumbuhan masuk kategori Endangered, serta 557 spesies hewan dan 256 tumbuhan berstatus Vulnerable http://badungkab.go.id/.” kita bisa melihat permasalahan yang terjadi dimulai dari kerusakan hutan, terancamnya keanekaragaman hayati, pencemaran udara, air maupun tanah.

Dengan melihat beragan permasalahan yang terjadi maka akan mengancam kehidupan manusia, sama saja dengan mengundang beragam bencana alam maka perlu adanya kesadaran kolektif tentang permasalahan yang ada.

Itu baru sebagian permasalahan yang ada di Indonesia yang perlu direhabiltasi oleh pemuda yang merupakan tonggak kemajuan bangsa, melihat permasalahan yang menumpuk tidak mungkin pemuda mampu mengatasi permasalahan itu tanpa adanya bekal pengetahuan tentang permasalahan itu.

Maka dari itu kita sebagai pemuda kita harus mampu melihat bagaimana realita yang terjadi di tengah masyarakat supaya kita tidak terlalu melangit tapi melupakan bumi yang kita pijak. Persatuan dari pemuda untuk kemajuan sangat dibutuhkan demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur.

Penulis kembali mengingatkan kepada pemuda Indonesia mari sama-sama kita benahi permasalahan yang terjadi di Indonesia dimulai dari hal terkecil yaitu gotong royong bersama tetangga, pemuda juga mempunyai peran untuk menciptakan kesadaran kolektif dan kalau meminjam istilah Kuntowijoyo kembali dari Teks ke konteks. Karena bagaimana pun juga kita sebagai pemuda apalagi yang diberikan kesempatan untuk belajar memiliki kewajiban yaitu mengingatkan kepada masyarakat dan mampu menciptakan kesadaran kolektif tentang segala permasalahan yang terjadi.

Sumber
1. Nurcholis Majid, Indonesia Kita, Gramedia, Jakarta, 2018.
2. Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, Tiara Wacana, Jogjakarta, 2006.
3. https://www.bps.go.id/
4. https://www.greenpeace.org/,
5. http://badungkab.go.id/.

)* Penulis adalah Aktivis Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA).