Puasa Ramadhan; Instrumen Menuju Takwa

0
Efi Afifi, M.Pd.I

Oleh Efi Afifi, S.Pd.I, M.Pd.I

Kita sudah memasuki bulan suci Ramadhan, ditandai hasil ru’yatul hilal bahwa hari Selasa sudah masuk tanggal 1 Ramadhan. Ramadhan mengingatkan kita akan makna atau esensi takwa yang sesungguhnya, karena memang ibadah puasa merupakan instrumen menuju ketakwaan.

Firman Allah SWT: 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).


Dalam ayat tersebut, Allah menceritakan puasa sebagai langkah menuju ketakwaan, sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Para Nabi, Sahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in, Ulama, hingga kini, semua menjadikan puasa sebagai tangga menuju derajat mulia di sisi Allah yakni takwa.

Puasa mengajarkan untuk   الإمساك, menahan, baik dari makan minum dan hal membatalkan, maupun dari perilaku yang tidak terpuji yang dapat membatalkan puasa diantaranya, ghibah (membicarakan keburukan pihak lain), namimah (mengandu domba), Al Kidzbu (berbohong), sumpah palsu dan melihat hal hal yang mengundang syahwat.

Nabi dalam sabdanya mengultimatum bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus, itu karena puasa nya tidak menghadirkan sikap الإمساك dari perilaku tersebut.

Intinya, ibadah puasa dan bulan Ramadhan ini, merupakan tempat trainining-nya kader-kader muttaqin. Hingga para ulama seperti Syaikh Umar bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al Khaubawiy dalam Durrotun Nasihin memaparkan banyak cerita mengenai bagaimana Allah membuat Bulan Ramadhan ini begtu Istimewa.

Mulai dari pengampunan dosa yang begitu luas, hingga seseorang yang selama hidupnya tidak sama sekali melaksanakan sholat dan lain-lain. Ketika datang bulan Ramadhan dan ia memulyakannya, maka ia mendapat tempat mulya di sisi Allah SWT.

Begitupun dengan dia, bulan Ramadhan ini merupakan bulan di bukanya pintu langit, hingga dalam kita tersebut di ceritakan sebuah kisah Nabi Musa As.

Dimana ketika Nabi Musa berbicara dengan Allah (kalamullah) beliau masih dibatasi oleh 70 ribu penghalang, dan penghalang tersebut Allah hilangkan ketika seorang hamba yang berpuasa di Bulan Suci Ramadhan hendak melakukan berbuka puasa.

Kisah-kisah ini dilekatkan dalam Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan, sesungguhnya untuk menjelaskan bagaimana Puasa adalah langkah dan tangga yang efektif menuju derajat Takwa.

Takwa akan mengasilkan kepribadian yang Independen, tidak tergantung dan mudah di intervensi atau di dominasi seseorang, sehingga kepribadian Takwa ia akan berani berbeda, karena berprinsip kebenaran.

Begitupun Takwa melahirkan kepribadian yang selalu merasa diawasi oleh Tuhannya, ada ketakutan teologis dan kesadaran ontologis, bahwa apa yang ia kerjakan meskipun tidak diketahui pihak lain, Allah SWT tetap memperhatikan, kepribadian ini adalah penopang dari integritas seseorang, nilai-nilai yang kita inginkan dari pelayan publik.

Takwa pula melahirkan kepribadian yang mandiri dan kreatif, karena ia hanya bersandar kepada Allah SWT. Singkatnya, Takwa telah menghimpun nilai nilai luhur, sehingga dengan tercapainya Takwa,maka adalah ikhtiar menghadirkan peradaban kehidupan yang lebih baik.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan, semoga Ibadah ini melahirkan keluruhan budi pekerti (Akhlaq Al Karimah) dalam kepribadian kita. (*)