Pengamat Medsos Kecam Pembajakan Situs Tempo

0
Ilustrasi

TIRTAYASA.ID-JAKARTA. Jumat (21/8) dini hari, situs berita tempo.co milik Tempo Media Group diserang pihak tak bertanggungjawab. Berdasarkan catatan tempo.co. Situs Tempo tidak bisa diakses dengan layar putih bertuliskan 403 forbidden. Awalnya, tampilan situs berubah menjadi warna hitam. Lalu, ada iringan lagu Gugur Bunga selama 15 menit.

Di dalamnya, ada tulisan “Stop Hoax, Jangan BOHONGI Rakyat Indonesia, Kembali ke etika jurnalistik yang benar patuhi dewan pers. Jangan berdasarkan ORANG yang BAYAR saja. Deface By @xdigeeembok.” Ketika diklik, maka akan beralih langsung ke akun twitter @xdigeeembok. Akun ini bergabung di twitter sejak Juli 2009 dan memiliki 465 ribu pengikut.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekurif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria mengecam prilaku pembajakan terhadap situs pemberitaan kredibel seperti tempo.co. 

“Pertama, di tengah sepinya pengawasan DPR terhadap pemerintah, Tempo dan media kredibel lainnya merupakan penyampai aspirasi masyarakat,  intelektual, ilmuwan, politisi, tokoh masyarakat, ormas dan lain-lain,” kata Hariqo, melalui rilis kepada awak media, Jumat (21/8). 

“Membajak akun media, sama halnya merugikan kepentingan masyarakat, merugikan kepentingan nasional,” sambung Hariqo.

Menurutnya, hampir semua perusahaan, termasuk media mengalami kesulitan bertahan akibat COVID-19 ini berdasarkan survei ILO dan Reuters. Tempo tetap bertahan, independen dan kritis di tengah sepinya pengawasan organisasi kepemudaan terhadap pemerintahan. 

“Namun mengapa diretas situsnya?. Bukankah kritik membuat seimbang, sedangkan puji-pujian bisa bikin tumbang,” katanya. 

Kata dia, website atau situs media kredibel adalah sebuah tempat dikumpulkannya berbagai berita hasil kerja keras para wartawan di lapangan, yang bebas diakses oleh pelajar dan siapapun juga untuk pendidikan, dan lain-lain. 

“Membajaknya merugikan banyak pihak untuk mendapatkan informasi dan melakukan penelitian,” katanya.

Terkhir, pengamat media sosial ini meminta agar aparat berwenang harus mengusut pembajakan ini agar demokrasi berwibawa dan kepercayaan masyarakat pada pemerintah bertahan.

“Sebab, kepercayaan adalah modal utama dalam menangai pandemi, ancaman resesi ekonomi,” katanya. (rls)