PB HMI, ISYEF dan BSIMuda Berkolaborasi Wujudkan Gerakan Sosial dari Masjid

0

TIRTAYASA.ID, JAKARTA – Di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia yang terus meningkat, pemerintah melakukan upaya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak 12 Juli hingga 9 Agustus mendatang.

Selama berjalanya aturan PPKM ini menimbulkan kekhawatiran dampak yang signifikan terhadap ekonomi masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah dan kaum dhuafa yang masih perlu keluar rumah untuk mendapatkan pemasukan. 

Aturan itu juga berdampak pada menurunya pendapatan UMKM dan juga pemasukan uang amal masjid karena terjadinya pembatasan hingga penutupan sementara.

Melalui semangat untuk membantu masyarakat dan masjid di tengah pandemi, Indonesia Islamic Youth Economic Forum (ISYEF) diwakili oleh Sekretaris Jenderal, Andi Ashadi serta pengurus lainya Aii, Deddy, Vinto, dan Thufeil menjalin kolaborasi dengan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) Muda. 

Kolaborasi ini dalam agenda ‘Kotak Berbagi’ yakni berbagi Nasi Kotak Murah seharga Rp2.000 di sekitar masjid, yang hasil uangnya akan diberikan kepada masjid sebagai infaq. Kolaborasi ini diadakan di dua provinsi yakni DKI Jakarta tepatnya di masjid Cut Meutia dan Sulawesi Selatan di masjid Darul Muttaqin.

Ketua Umum ISYEF, Atras Mafazi menyatakan bahwa selama ini PPKM  mempengaruhi pendapatan masyarakat yang semakin menurun setiap harinya, bahkan tidak hanya masyarakat, Masjid pun ikut terdampak dengan menurunnya pemasukan dari infaq dan sedekah jama’ah masjid. 

“Saya banyak mendengar kabar beberapa masjid ada yang sampai kesulitan uang untuk membayar kebutuhan dasar operasional seperti listrik. Maka dari itu kami dari ISYEF ingin memberikan terobosan suatu gerakan sosial yang dapat membantu, masyarakat, UMKM, dan masjid sekaligus. Terciptalah kotak berbagi ini,” ujarnya melalui rilis, Sabtu (7/8). 

Mengenai skema gerakan yang buat Sekretaris Jenderal ISYEF, Andi Ashadi mengungkapkan, pihaknya mencoba membuat program yang anti mainstream dengan dampak yang lebih luas. 
“Kalau biasanya berbagi nasi jumat itu gratis, di kami ini berbayar. Jadi, kita beli makanan melalui UMKM terdekat dengan masjid, lalu kita jual dengan harga murah senilai Rp2.000 kepada masyarakat,” katanya. 

“Kemudian hasil penjualan tersebut kita serahkan kepada masjid sebagai dana infaq dan sedekah. Kami rasa ini win-win solution antara masyarakat, UMKM, dan juga masjid,” tambahnya. 

Dari tempat yang sama pengurus Masjid Cut Meutia, Hatta mengucapkan banyak terimakasih kepada Isyef, PB HMI, BSI Muda yang telah menginisiasi program kotak berbagi ini. 

“Saya bersyukur sekali bisa lihat masyarakat merasa senang dan terutama kami dari pihak masjid merasa sangat terbantu dengan adanya sumbangan ini. Saya berharap program kotak berbagi oleh ISYEF ini bisa rutin berjalan,”kata Hatta.

ISYEF berharap gerakan kolaborasi kebaikan bisa di contoh di daerah lain, Sehingga dampak manfaat dalam membantu masyarakat, UMKM, dan masjid bisa semakin besar. 

Karena melalui langkah nyata peduli terhadap sesama akan menimbulkan ketentraman dan kesejahteraan di masyarakat. Hal ini juga tentunya membantu program pemerintah dalam pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Ketua Pemberdayaan Umat PB HMI Ali Zakiyuddin mengungkapkan perpanjangan masa PPKM ini sangat mempengaruhi daya beli masyarakat yang semakin menurun setiap harinya. Bahkan, untuk kebutuhan makan setiap harinya masyarakat kesusahan. 

“Gerakan Kolaborasi Bersama ISYEF dan BSI Muda ini juga ditargetkan dapat membantu UMKM dalam hal ini warung kuliner kakilima, sebab nasi kotak yang di jual dengan harga Rp. 2.000 itu dipesan di UMKM warung kuliner kaki lima,” katanya. 

“Sehingga gerakan ini tidak hanya membantu kaum dhuafa tapi juga berupaya mengaktivasi perputaran ekonomi di masyarakat  dalam hal ini masyarakat pelaku UMKM Warung kuliner kaki lima,” ujar pria yang akrab disapa Ali ini. 

Kata Ali, hasil penjualan nasi kotak itu kemudian diserahkan ke teman-teman ISYEF untuk disalurkan ke masjid-masjid yang memenuhi kriteria untuk menerima sumbangan. 

Ali berharap gerakan kolaborasi ini memiliki umur yang panjang. Sehingga tugas seberat apapun akan mudah terselesaikan selama kita solid menanganinya. 

Ali juga mengajak para pihak lainnya, tanpa terkecuali, baik pemerintah maupun per-orangan yang sekiranya berkecukupan untuk sama-sama turun tangan membantu masyarakat kecil yang saat ini benar-benar membutuhkan uluran tangan. 

“Spirit gerakan kolaborasi ini adalah dari masyarakat lecil (warung kuliner kaki lima) untuk masyarakat kecil (kaum dhuafa),” katanya. (rls/red)