Menu

Mode Gelap
KPU Tetapkan Tiga Paslon Capres dan Cawapres Pemilu 2024 Kemeriahan Puncak Dies Natalis UPG ke-3, Dihadiri Artis hingga Pejabat Daerah  Politikus Gerindra Desmond J Mahesa Meninggal Dunia MK Tetapkan Pemilu 2024 Pakai Sistem Proporsional Terbuka, Waspadai Politik Uang  Pembangunan Tahap II Masjid Agung Ats Tsauroh Ditarget Rampung 2023

Opini · 18 Sep 2020 09:37 WIB ·

Adakah Kaitan Moral dan Politik?


 Adakah Kaitan Moral dan Politik? Perbesar

Renungan 7 Tahun Nicolo Machiavelli

Oleh: Agus Hiplunudin 

Adakah kaitan moral dengan politik, merupakan sebuah tanya yang mungkin menggelitik hati siapa saja, khususnya bagi mereka yang terjun secara langsung dalam politik. 

Pertanyaan ini muncul dalam pikiran Saya; setelah sekian lama saya amati praktik politik khususnya yang terjadi di sekitar Saya. 

Realitas politik sungguh berbeda dengan apa yang telah dikemukakan para teoritikus-teoritikus politik yang memaparkan politik secara ideal, mereka berbicara politik “sebatas apa yang seharusnya” bukan bicara “apa yang terjadi”. 

Dari hal tersebutlah mengingatkan saya pada Nicolo Machiavelli penulis buku Il Principe (Sang Pangeran). Dalam politik yang mana hoax, ujaran kebencian, fitnah, merupakan sesuatu yang kerap sekali ditemui bahkan pembunuhan dan intrik yang mahakejam terjadi dalam dunia politik.

Pada tulisan ini Saya hendak memaparkan kerakter politikus sejati. Bukan menurut Saya namun menurut Nicolo Machiavelli. Konon kabarnya, Il Principe merupakan sebuah risalah untuk para penguasa yang direnungkan Machiavelli selama tujuh tahun. 

Sebuah renungan yang cukup panjang tentunya sangat mendalam. Menurut Miachiavelli hal pertama yang harus dipahami seorang politikus yakni mengenai karakter dasar manusia, yang pada dasarnya memiliki watak buruk seperti serakah, tamak, tidak mau mengambil resiko, takut sengsara dan mendambakan kesenangan-kesenangan. 

Karena manusia takut sengsara maka seorang politikus harus berani menawarkan kebahagiaan kendati dengan cara menipu dan berbohong—ini semata dilakukan agar mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Tidak sampai di situ seorang politikus harus memiliki watak Rubah dan Singa agar dapat mengalahkan semua musuh-musuh dalam politik. Rubah memiliki kelebihan mampu mendeteksi bahaya yang mengancam dan Singa memiliki kelebihan dalam bertarung dan ditakuti semua lawan. 

Jika, politkus hanya memiliki watak Singa tanpa Rubah, memang ia akan ditakuti lawan-lawan namun ia tak akan mampu mendeteksi bahaya maka politikus semacam ini akan mudah tumbang. 

BACA JUGA   Tolak Demonstrasi Ciptaker, Gugatan Perppu Bisa Melalui MK

Sedangkan, politikus dengan bakat Rubah tanpa watak Singa ia akan menjadi politikus yang sangat berhati-hati dan dapat mengenali semua musuh-musuhnya namun ia tak akan berbuat apa-apa, politisi semacam ini akan tumbang diterkam lawan-lawannya.

Maka, seorang politisi harus mewarisi watak Singa dan Rubah tersebut.Mengenai kaitan moral dan politik silakan untuk disimpulkan sendiri.

Rangkasbitung, 18 September 2020

)*Penulis adalah Dosen Sistem Politik Indonesia di STIA Banten.

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

KPU Banten Tetapkan 100 Anggota DPRD Banten Hasil Pemilu 2024

2 Mei 2024 - 21:47 WIB

Dapil Cipocokjaya Kota Serang, Kursi Golkar dan Gerindra Digeser PDI Perjuangan dan PPP

29 Februari 2024 - 22:22 WIB

Peran Penting Pendidikan dalam Mencegah Radikalisme pada Generasi Muda

27 Januari 2024 - 16:49 WIB

Mewaspadai Politik Uang Digital Selama Pemilu

26 Januari 2024 - 19:24 WIB

UU Ciptaker Meningkatkan Perekonomian Nasional

25 Januari 2024 - 14:51 WIB

Teknologi Canggih untuk Pantau Hasil Hitung Pemilu

20 Januari 2024 - 16:08 WIB

Trending di Opini