Momentum Kebangkitan Ekonomi Kreatif di Banten

0

TIRTAYASA.ID, SERANG – Forum Ekonomi Kreatif Banten (Fekraf Banten) bersama Rumah Dunia menggelar acara bertajuk ‘Kongres Kreatif: Bersatu, Bangkit, dan Tumbuh’ di Rumah Dunia, Kampung Ciloang, Kecamatan Serang, Kota Serang, pada Kamis (28/10).

Kegiatan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-93 itu diawali dengan upacara peringatan sumpah pemuda kemudian pameran kreatif pelaku ekraf. Kemudian dilanjutkan diskusi-diskusi kreatif yang diantaranya menghadirkan Fajar Nugros, sutradara film “Balada si Roy”. 

Selanjutnya kegiatan diisi diskusi panel dengan tema ‘Kritis, Kreatif, Berbahaya’ yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumi, Staf Khusus Menteri Koperasi UKM sekaligus Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Fiki Satari, dan Staf Khusus Menteri Pertahanan Dahnil Anzar Simanjuntak.

Ketua Pelaksana Kongres Kreatif Muhamad Nur saat mengungkapkan, Kongres Kreatif ini melibatkan 45 organisasi dan komunitas ekonomi kreatif se Banten untuk melakukan aktifasi dalam bentuk pameran, diskusi maupun aksi kreatif sebagai wujud pembuktian eksistensi kepada publik dan para stake holder. 

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengatakan Ekraf memiliki potensi yang besar dalam penguatan pendapatan daerah. Dari 17 subsektor ekraf di Provinsi Banten, hampir semuanya memiliki potensi yang besar.

Dari data Kementerian Pariwisata, kita (Provinsi Banten) menyumbang ekspor ekonomi kreatif terbesar ketiga (nasional), setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Itu 15 persen. 
Namun, Andika melanjutkan, partisipasi generasi milenial di Provinsi Banten pada sektor Ekonomi Kreatif masih relatif rendah yakni baru sebesar 17,8 persen.

Senada dengan yang diungkapkan Andika, Fiki Satari mengungkapkan bahwa ekonomi kreatif yang merupakan sektor kesepuluh dari 13 sektor perekonomian di Indonesia adalah ekonomi hari ini dan ekonomi masa depan.

Fiki menyampaikan, ekonomi kreatif menjadi salah satu kekuatan utama perekonomian di Provinsi Banten. Masyarakat Banten dinilainya sangat urban dengan society yang sangat kuat.

The best menurutnya berbicara subkulturnya anak muda di Indonesia, itu Tangerang Selatan. Di situ, local champion dari industri kreatif Indonesia berkumpul di sana. Tinggal di sana. 

Dahnil Anzar Simanjuntak mengapresiasi digelarnya Kongres Kreatif yang digelar FEKRAF Banten dan Rumah Dunia. Pasalnya, kegiatan ini dianggapnya sebagai salah satu upaya anak muda dalam merawat nalar kreatif.

Dahnil menuturkan, di masa penjajahan Belanda, eksistensi anak muda Indonesia harus merawat nalar kritis. Namun, pasca kemerdekaan, nalar kritis harus tetap dirawat sebagai pengawasan. Tetapi dominasi nalar kritis harus diimbangi dengan nalar kreatif.

Sumpah Pemuda itu eksistensi nalar kritis. Untuk mengisi kemerdekaan itu tidak enggak cukup nalar kritis, semua harus merawat nalar kreatif.

Pada kesempatan itu juga, kepengurusan Fekraf Banten yang baru didirikan pertama kalinya itu dikukuhkan secara langsung oleh Wakil Gubernur Andika Hazrumi. Pendirian forum yang mewadahi pelaku ekonomi kreatif di Banten itu, disebut Andika, sebagai momentum kebangkitan ekonomi kreatif di Provinsi Banten.

Sementara itu Ketua Fekraf Banten Andi Suhud Trisnahadi mengatakan, saat ini ada 17 subsektor ekonomi kreatif di Banten yakni periklanan, arsitektur, penerbitan, desain komunikasi visual, fotografi, seni pertunjukan, televisi dan radio, desain interior, seni rupa, dan desain produk. 

Selain itu, ada subsektor unggulan di bidang kuliner, fashion, kriya serta subsektor prioritas yakni pengembang permainan, musik, film, animasi dan video. Fekraf Banten berperan sebagai aktor penggerak untuk mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif di Banten agar bisa diperhitungkan. (rls)