Merdeka Dari Despotisme Agama

0
Ketua PW GP Ansor Banten, Ahmad Nuri

Oleh : Ahmad Nuri *

Saat ini di bulan kemerdekaan penyakit Gastristis atau Mag penulis mendadak kambuh kembali, akibat salah makan dan kecapean dengan gejal badan lemas, mual dan kepala sedikit pusing. Namun di tengan merasakan indahnya getaran sakit mag, cape badan, kepala terasa nyut-nyutan, mata berkuang-kunang, tangan di infuse, ada kegelisah nalar-pikir melihat bagimana entitas bangsa memeriahkan bulan kemerdekaan ini.

Kegelisahan penulis bukan tentang nalar pikir ikut sakit tapi tentang keterpanggilan nalar dan pikiran melihat kondisi objektif kebangsaan dan keagamaan di Indonesia dalam kaitannya dengan upaya memaknai hakekat kemerdekaan ini, terutama tentang adanya fenomena destruksi dan despotisme relasi umat beragama.

Kegelisan ini juga, berangkat dari keteladanan para pemikir terdahulu yang telah meletakan fondasi berbangsa, dan bernegara. Mereka para pahlawan bangsa, para pemikir bangsa selalu bergerak untuk berjuang melawan penjajah meski diterpa sakit pada dirinya, sebut saja misalkan Jendral Sudirman, meski beliau sedang sakit tapi semangat juang beliau tetap menyala-nyala untuk kemerdekaan bangsa ini, sampai-sampai kondisi sakitpun ikut melakukan perang griliya ditengah hutan.

Belum lagi pemikir dan pejuang kemerdekaan seperti Tan Malaka dan Soekano bukti teladan bagi bangsa ini, dimana beliau-beliau ini meski dalam keadan sakit semangat juang untuk kemerdekaan selalu dilakukan dengan cara perlawanan baik lisan maupun tulisan.

Ada beberapa buku perlawanan dan pencerahan yang di tulis oleh Tan Malaka dan Soekarno ketika beliau dalam keadan sakit. Keteladanan Tan Malaka, sosok revolusioner yang sering menderita, kesepian dan sakit-sakitan teutama sakit bronkitis tetap selalu menyempatkan menulis sebuah buku.

Mereka menuliskan apa saja, yang penting tentang Indonesia. Salah satu Buku hasil tulisan Tan Malaka dalam keadaan sakit yang terbit pada 1924 dengan judul Indonezija; ejo mesto na proboezdajoesjtsjemsja Vostoke (Indonesia dan tempatnya di Timur yang sedang bangkit).

Setelah itu Tan Malaka melakukan pengembaraan dalan Istilah Tan Malaka sebagai Rantau. Dan proses rantau ini bagian dari anti tesis dari tanah kelahiran yang kelak menemukan sintesis dari hasil dialektika kehidupan itu yaitu kesadaran untuk merdeka.

Tan Malaka selama puluhan tahun periode pelariannya itu dia tetap menulis buku dan diterbitkannya di Canton dalam keadaan sakit pada 1924 yaitu Naar Repoebliek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia) dalam bahasa Belanda dan Melayu yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Ratusan buku hasil pemikiran dan kesadaran untuk merdeka dari Tan Malaka tersebut diselundupkan ke nusantara dan diterima oleh para tokoh pergerakan, termasuk Soekarno sebagai referensi perjuangan. Sementara Soekarno pun tetap produktif menulis dalam kondisi apapaun termasuk kondisi sakit.

Buku Soekarno dengan judul Dibawah Bendera Revolusi yang ditulis dalam kondisi beragama baik kondisi fisik maupun tempatnya belum lagi kobdisi tekanan penjajah tapi nalar pikir Soekarno dan Tan Malaka serta Tokoh revolusioner lain tetap tidak pernah sakit terus digunakan untuk menulis dan melawan demi Kemerdekaan bangsa ini.