Kumala Washilatul Falah Berbagi Bersama Anak Yatim

0
Pengurus Kumala Komisariat Washilatul Falah, foto bersama dengan Anak Yatim Piatu usai kegiatan. (Ist)

TIRTAYASA.ID, LEBAK– Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) Komisariat Washilatul Falah, Perwakil Rangkasbitung memperingati 10 Muharam 1442 H dengan menggelar santunan dan perlombaan anak yatim, di Pondok Pesantren Daarul Mubtadiin, Kampung Neglasari, Desa Sangkanwangi Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar, Sabtu (5/9).

Ketua Pelaksana, Madsari mengatakan,  selain acara santunan, kegiatan diisi perlombaan, diantaranya Lomba Adzan, Tilawatil Qur’an, Hifdzul Qur’an, dan lain-lain. “Alhamdulillah, Kumala bisa berbagi di tengah pandemi Covid-19, pada perayaan 10 Muharam 1442,” ujarnya melalui rilis. 

Madsari mengatakan, hanya beberapa anak dan perwakilan tiap Kampung yang mengambil santunan untuk dibagikan kepada anak yatim yang sudah terdata. “Karena ini ada wabah Covid -19, jadi kami tidak bisa mengumpulkan karena menghindari kerumunan massa dalam jumlah banyak,” katanya. 

“Kegiatan ini  memang masuk dalam program kerja departemen kerohanian dan semoga ini menjadi agenda rutin, ” tambahnya. 

Ia juga berharap anak yatim tetap bersemangat dalam menempuh pendidikan serta meraih cita-citanya. “Semoga bisa menjadi generasi-generasi yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Dan apa yang dicita-citakan mereka dan orangtuanya bisa tercapai,” katanya.

Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Mubtadiin, Ustad Kosim mengatakan, tahun Baru Islam merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam karena menandai peristiwa penting terjadi seperti tertuang dalam sejarah Islam. 

Kata dia, Muharam memperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW dari kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharam tahun baru bagi Kalender Hijriyah. “Tahun Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah itu diambil sebagai awal perhitungan bagi Kalender Hijriah,” katanya. 

Menurutnya, memperingati 10 Muharam atau bulan pertama di tahun Hijriyah untuk memaknai perjuangan dakwah daripada suri tauladan Nabi Muhammad SAW yang gigih dalam berdakwah dari Makkah ke Madinah dengan berbagai macam cobaan dan rintangan.

“Jadi, bagaimana kita mampu bertahan dalam ajaran-ajaran Islam tanpa terpengaruh oleh arus negatif yang kini kian deras menerpa dan tanpa kemungkinan akan menggoyahkan keyakinan kita,” terangnya. (rls)