Kebijakan Pendidikan Butuh Kajian Matang

0
Ilustrasi

Diskusi Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 Kota Tangsel

TIRTAYASA.ID-TANGSEL. Pandemi Covid-19 menuntut kerja keras Pemkot Tangerang Selatan. Di bidang pendidikan misalnya, Pemkot dituntut mampu membuat skema pembelajaran efektif berdasarkan dari hasil kajian yang matang. 

Hal tersebut terungkap dalam acara Webminar bertajuk ‘Dilema Dunia Pendidikan pada Masa Pandemi Covid-19 di Tangerang Selatan’ yang digagas  Pengurus Daerah (PD) Bidang Kebijakan Publik (BKP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim  Indonesia (KAMMI) Tangerang Selatan, Selasa (25/8) malam. 

Ada tiga narasumber inti dalam webminar tersebut. Yakni, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan Taryono, Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Selatan Mustofa dan Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Tangerang Selatan Fikron Al Choir. 

Dalam sambutannya, Ketua Umum PD KAMMI Tangsel Arsandi, mengatakan, Pemerintah Kota Tangsel untuk mengawal pelaksanaan Permendikbud No.19 tahun 2020 Tentang Penggunaan Dana Bos Reguler. “Pemerintah kota Tangsel mesti serius membuat skema yang berpihak kepada pendidikan,” katanya. 

Menurut Arsandi, Pemkot Tangsel selalu menggaungkan moto cerdas, modern, dan religius. Di tengah pandemi Covid-19 saatnya membuktikan moto tersebut. “Pertama harus mampu memberikan askses zona internet gratis di berbagai titik yang ada di Tangsel,” katanya. 

“Selanjutnya, Pemkot harus mampu mengawal penggunaan dana BOs, dan memberikan perhatian kepada anak-anak mengingat mereka merupakan aset yang ternilai harganya sehingga memang harus benar-benar diberikan perhatian secara khusus,” tambahnya. 

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel, Mustofa mengatakan, persoalan pendidikan kini mulai hadir di saat pandemi Covid-19. Menurutnya, suasana seperti ini menuntut semua elemen harus tetap produktif, kreatif dan inovatif. 

“Banyak sekali problem yg terjadi ditengah masyarakat mengenai hal ini (pendidikan), mulai dari sarana dan prasarana penunjangnya sampai faktor ekonomi yang menjadi penghambat,” katanya. 

“Saya contohkan ada handphone tapi bermasalah dengan kuota, dikasih handphone malah dijual buat kebutuhan ekonomi. Jadi memang harus diperhatikan efek kebijakan dari hulu sampai hilirnya,” imbuhnya. 

Sementara itu, Ketua IGI Kota Tangsel, Fikron Al- Choir mengatakan, tantangan pandemi Covid-19 harus mampu dilalui secara bersama-sama. Termasuk di dalamnya membuat terobosan dalam dunia pendidikan. 

“Kondisi ini tidak boleh kita jadikan hambatan untuk mencetak generasi masa depan, saya berharap anak-anak muda khususnya mahasiswa mempunyai gagasan yang melahirkan solusi untuk kita bersama,” katanya. 

“Mengingat pendidikan anak bukan hanya tugas kami sebagai guru akan tetapi juga orang tua, maka dari itu jadikanlah rumah  sebagai sekolah, orang tua sebagai guru dan jadikanlah lingkungan sebagai referensi,” ujar Fikron.

Kepala Dindikbud Kota Tangsel, Taryono mengatakan, kondisi pandemi ini memang dunia pendidikan mengalami ujian yang berat, akan tetapi bagi Dindikbud Kota Tangsel kondisi kesehatan harus lebih diutamakan. 

“Meski sekolah-sekolah belum bisa kembali normal, pembelajaran harus tetap berjalan salah satunya dengan metode daring,” katanya. 

Namun, kata Taryono, metode daring bukan merupakan satu-satunya cara dalam proses belajar mengajar mengingat betapa banyaknya kendala yang dihadapi saat daring. “Perlu adanya peran orang tua dan lingkungan semua berkerjasama dalam pelaksanakan proses belajar mengajar,” katanya. (rls)