Keberlanjutan Pendidikan di Masa Pandemi

0
Tokoh Pemuda Banten, Pujiyanto

Paradigma Baru dan Inovasi 

Oleh: Pujiyanto * 

Pandemi Covid-19 menjadi persoalan yang kompleks semua negara. Dampaknya begitu terasa signifikan menghantam semua sektor kehidupan. Tidak hanya sektor kesehatan, melainkan juga geliat ekonomi, sosial, dan budaya.

Belakangan sektor pendidikan menjadi salah satu sektor sentral yang merasakan dampak pandemi. Hingga saat ini, tercatat ada 159 negara di dunia yang tengah mengubah kebijakan pendidikan, dari yang semua menggunakan sistem belajar tatap muka menjadi sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dalam menjalankan PJJ, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah mengeluarkan surat edaran terkait pelaksanaannya. Surat Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Covid-19 tersebut, berisi empat hal yang menjadi cakupannya. 

Pertama, pembelajaran mandiri ditujukan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna tanpa dibebani untuk menuntaskan capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Kedua, para pelajar mesti dibekali dengan kecakapan hidup tentang pandemi Covid-19. 

Ketiga, guru memberikan tugas secara bervariasi dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan setiap individu, dan fasilitas belajar. Keempat, pemberian umpan balik (feedback) terhadap kinerja siswa mesti secara kualitatif.

Akan tetapi, implementasi kebijakan tersebut tak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang menyebabkan konsep PJJ menjadi tidak maksimal dilaksanakan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) sebagai leading sektor dan juga sekolah sebagai pelaksana teknisnya, banyak yang melupakan empat poin PJJ tersebut, atau tidak mampu mengejawantahkan secara praksisnya.

Akhirnya pelaksanaan PJJ yang semestinya menjadi solusi alternatif di masa pandemi, justru menjadi persoalan baru dalam dunia pendidikan kita. Mulai dari kurangnya fasilitas teknologi yang dimiliki para pendidik, peserta didik, dan wali murid. 

Kemudian, kurangnya kesadaran masyarakat akan konsep pendidikan, kurangnya kemahiran penggunaan IT para pendidik, belum siapnya tenaga pendidik untuk memberikan sistem evaluasi yang diberikan kepada siswa. Belum lagi, faktor ekonomi yang menghimpit sebagian besar masyarakat akibat terdampak wabah ini.

Hampir sebagian guru di jenjang pendidikan hanya memberikan tumpukan tugas untuk mengerjakan soal dari buku paket, LKS, dan membuat ringkasan materi tanpa ada penjelasan terlebih dahulu kepada siswa. Sistem evaluasinya pun tidak jelas, ada yang berkirim foto untuk memberikan tugas, ada pula yang tanpa dievaluasi sama sekali oleh gurunya.

Dampaknya, banyak orang tua siswa yang meminta kembali diberlakukannya kegiatan belajar dengan tatap muka. Alih-alih sebagai alternatif mempermudah proses kegiatan belajar mengajar, orang tua merasa terbebani dengan tugas-tugas PR yang menumpuk. Tak terkecuali, yang juga terjadi pada sebagian masyarakat di Kota Serang.