Catatan Awal Pilkada Pandeglang 2020

0

Oleh: Suparta Kurniawan 

Pilkada Kabupaten Pandeglang tidak kalah penting dan menjadi sorotan banyak pihak. Bahkan, ada pendapat sebagian orang menganggap terasa hambar, lesu, tidak menarik, tidak dinamis dan seterusnya. 

Barangkali jauh berbeda dengan daerah lainnya di provinsi Banten seperti, Cilegon, Tangerang Selatan dan Kabupaten Serang. Dimana daerah tersebut terjadi dinamika, penuh intrik, penuh kejutan dan sangat menarik diperbincangkan. 

Barangkali pendapat itu muncul karena Pilkada Pandeglang bisa dipastikan hanya diikuti oleh dua paslon, apalagi ada yang beranggapan kekuatan penantang petahana tidak berimbang dengan kekuatan koalisi PKB dan PPP. 

Sah, saja anggapan itu ada dan muncul. Namun, bagi saya Pilkada pandeglang penuh energik dinamis dan menarik dengan beragam argumentatif sehingga mudah menakar polarisasinya.

Pertama, Saya akan mencoba menghadirkan sekelumit sudut pandang dari peran sentral partai politik. Pada sistem demokrasi saat ini parpol adalah saluran konstitusional untuk mencalonkan kepala daerah. 

Sejak awal parpol membuka penjaringan bacalon tak kurang dari 10 putra-putri terbaik Pandeglang telah ikut penjaringan dgn mekanisme parpol masing-masing. Alhasil, last minute diakhir batas penutupan pendaftaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) tanggal 6 September 2020 bisa dipastikan Pilkada Kabupaten Pandeglang hanya diikuti oleh dua bapaslon bupati dan wakil bupati. 

Keduanya yakni paslon incumbent Irna Narulita Dimyati-Tanto Warsono Arban diusung partai Golkar, PDIP, PKS, Demokrat, PAN, Nasdem, PBB, Gerinda, Perindo dan pasangan Thoni Fathoni Mukson-Imat Tamami diusung partai PKB dan PPP serta partai non parlemen Hanura, PSI, PKPI dan Garuda. 

Apapun keputusan parpol dan siapapun calon yang direkomendasikan. Tentu, sebagai warga yang baik, tidak boleh ngedumel. Mari kita hormati keputusannya, dan memberikan ruang apresiasi setinggi-tingginya kepada partai politik telah menjalankan fungsinya. 

Begitu pun, kita juga mesti mengapresiasi kepada kedua paslon dari jalur independen dengan segala ikhtiarnya. Sekalipun tak lolos dari tahapan verifikasi faktual. Hal ini menandakan, sesungguhnya betapa tingginya keinginan masyarakat ikut serta menjadi bagian dari kontestasi paslon.

Kendati pun, hanya ada dua paslon kita tak perlu berlebihan merespon kekurangannya. Apalagi marah atau kecewa. Sehingga menimbulkan tutur kata yang cenderung mengada-ada dan bombastis. Sebaiknya, kita nikmati dan kawal terus-menerus hingga tuntas.

Kedua, secara personality masyarakat memiliki hak menentukan sikap pilihan secara bebas, tanpa harus ada intimidasi oleh siapapun. Menentukan pilihan dukungan tidak mudah, pun tidak sulit. Kuncinya adalah pada keselarasan hati nurani dengan ide gagasan atau blue print dari calon maka akan bermuara pada kegembiraan dan kemaslahatan. 

Akan tetapi, person-person yang bakal terlibat aktif sebagai timses calon harus menghadirkan Pilkada Pandeglang gegap gempita yang gembira dengan cara menyuguhi keunggulan dan program kerja calon. Paslon sekaligus timses harus memiliki komitmen bersama untuk tidak menebar kebencian, mengadu domba dan menebar hoax

Silahkan para timses dari masing-masing paslon unjuk kebolehan strategi dengan citra rasa yang indah dan menarik agar mampu menggaet pemilih. Jadikan Pilkada 2020 di Kabupaten Pandeglang ini merupakan momentum konsolidasi kolektif dari ketertinggalan menuju bangkit berkemajuan.

Terutama elit partai harus menjadi titik balik  mampu memberi efek kesejukan dan kedamaian. Jika Pandeglang ingin lebih baik maka peran partisipasi masyarakat dalam memilih harus maksimal sebab masyarakat sebagai sumber dari kedaulatan demokrasi tidak boleh apatis apalagi golput. Ajak keluarga, saudara, kerabat untuk ikut andil memberikan hak pilihnya. 

Jika kemudian, Saya coba menakar peluang kedua paslon kontestan yang bakal keluar menjadi pemenang? Perspektif saya bulat, tidak membentuk sebab politik itu dinamis. Faktanya, tidak sedikit petahana kalah oleh penantang baru. Dan tidak sedikit petahana mampu bertahan menjadi pemenang. 

Artinya peluang kedua Paslon masih terbuka samarata. Tergantung model kampanye yang terukur pada segmentasi pemilih. Paslon Irna-Tanto selama satu periode tentu memiliki capaian keberhasilan, namun tak luput dari kekurangan. 

Sedangkan pasangan penantang, Thoni Mukson bukan orang baru di balantika politik lokal, beliau pernah menduduki posisi legislatif DPRD Provinsi Banten beberapa periode, tentu sangat pengalaman dalam kebijakan politik.

Pun demikian, wakilnya Imat, beliau daun muda potensial relatif usianya sangat muda. Potensi kaum milenial di Pandeglang cukup tinggi, bisakah paslon Thoni-Imat menggaet pemilih milenial? 

Selamat berjuang kawan-kawan jangan sampai persahabatan, duduluran gara-gara beda pilihan jadi retak bahkan bertikai tajam. Ciptakan Pilkada penuh damai dan gembira.

Pandeglang, 7 September 2020

)* Penulis adalah warga Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang