Anak Singkong di Masa Paceklik Pandemi

0

Oleh: Ken Supriyono *)

“Butuh cemilan mas? Itu di kulkas ada singkong, tinggal digoreng saja.” Tawaran istriku jelang senja tadi, sungguh menarik. Tanpa pikir panjang pun, saya langsung cus ke dapur, menggoreng singkong yang sudah siap saji. Nyus tenan, singkong goreng itu melengkapi kopi menjelang senja.

Singkong goreng yang memang masuk deretan cemilan favoritku. Selain nikmat, harganya pun terjangkau. Kata istri, Mang Ujang—tukang sayur yang biasa keliling komplek-menjual dengan harga Rp5 ribu/kilogram. Lawan sebandingnya, cemilan semodel pisang goreng, ubi goreng, kacang rebus, dan gembili yang masuk jenis polo pendem, yang sudah langka itu. Kalau di daerah Serang-Banten, boleh-lah disejajarkan sama gemblong. Soal harga, silahkan tanya Mang Ujang atau langsung ke Pasar Induk Rau.

Zaman kecilku, Mbah Putri kerap sekali menyajikan kudapan singkong. Biasanya digoreng, atau direbus. Singkong-singkong itu, hasil panen yang ditanam Mbah Kakung sendiri, dari pekarangan di belakang rumah. Masa itu, lumayan banyak. Sekarang? Entahlah.

Dari wejangan Mbah Kakung, tanaman singkong mudah ditanam. Cukup batang dipotong-potong sepanjang 10 sampai 20 centimeter, terus ditanam ke tanah begitu saja. Perawatannya juga gampang, tidak perlu neko-neko pakai segala pupuk pabrik yang mahal-mahal itu. Cukuplah dengan pupuk alami, hasil olahan kotoran hewan ternak dari tetangga yang ditabur ke pekarangan.

Kandungan singkong, jangan tanya. Akarnya yang jadi singkong itu kaya dengan karbohidrat. Daunnya pun sedap untuk sayuran. Asupan di dalamnya terkandung banyak protein, vitamin A, C, dan serat. Konon, kandungan lainnya, ada kalori, air, fosfor, zat besi, kalsium, dan lemak. Mungkin itu yang bikin rumah makan Padang, menjadikan daun singkong jadi sajian khasnya.

Nah, buat orang dari desa semodel awakku, hampir semua sudah tidak asing sama yang namanya singkong, alias ketela pohon atau ubi kayu. Tumbuhan yang di desa dikenal dengan nama bodin. Kalau di sekolah, guru-guru membahasakannya dengan istilah latin “Manihot utilissima.” Buat orang kota yang doyan di kafe, mungkin kenalnya cassava.

Penyebutan yang katanya keren, karena berbahasa asing—Inggris— Sajian itu biasanya sudah ditaburi macam-macam. Mulai dibalut tepung krispi, sampai ditaburi keju, susu, cokelat, dan lain sejenisnya.

Temanku pernah ngekek pol, saat nongkrong di salah satu cafe di daerah Tangerang. Dia pesan cemilan yang di daftar menu, dinamai fried cassava keju. Mungkin dia dipikir makanan apa. Rupanya, yang disajikan ya singkong goreng alias bodin. Makanan yang di desa cuma dijual Rp 500 sampai Rp1.000, lah kok jadi puluhan ribu. Malahan, ada cafe yang kasih bandrol sampai Rp100 ribu lebih untuk seporsinya.