Abuya Uci, Ulama Paripurna

0

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq

Pagi ini saya mendapat kabar duka. Seorang ulama, Abuya Uci Turtusi, wafat. Innalilllahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga almarhum husnul khotimah dan keluarga diberi ketabahan. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu. Amin.

Almarhum merupakan seorang kiyai, pimpinan pondok pesantren Al-Istiqlaliyah Cilongok, Pasar Kemis, Tangerang. Selain rutin mengajar santri, secara berkala almarhum mengadakan pengajian setiap Minggu pagi. Jamaahnya ribuan orang.

Selain mengajar santri dan pengajian berkala setiap minggu, almarhum juga kerap menyampaikan tausiyah dalam acara peringatan keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Saking seringnya, kadang panitia menyesuaikan dengan jadwal ceramah almarhum.

Bagi saya, beliau merupakan sosok ulama paripurna. Isi ceramahnya bisa dicerna dengan mudah. Banyak menyoal perkara kehidupan sosial yang faktual. Dalam ceramahnya, kadang diselingi dengan guyon, dengan menggunakan bahasa Sunda khas Tangerang.

Mengapa saya semat beliau adalah sosok ulama paripurna? Karena selain amat dalam pengetahuan dan pemahaman agamanya, dengan referensi kitab-kitab klasik yang sering dikutipnya, juga adalah pribadi yang konsisten antara lisan dan tindakan. Bagi saya, beliau adalah panutan.

Walaupun saya belum pernah menghadiri tausiyahnya secara langsung, saya selalu mengikuti dan menyimak tausiyahnya lewat channel Youtube dan rekaman audio yang kerap dibagikan oleh jamaah pendengarnya. Dari situ, saya bisa mengetahui keluasan ilmu dan pengetahunnya.

Isi ceramahnya sejuk. Sering mengupas persoalan kehidupan sehari-hari. Adab dan akhlak menjadi tema utama. Walau kadang suka menyentil persoalan tata kelola negara, beliau sampaikan dengan luwes dengan ekspresi sejuk. Belum pernah teriak, menghujat, apalagi sampai kelihatan urat leher!

Parasnya tergolong enak dipandang mata. Putih dan bersih. Saya duga, kala muda nampak handsome. Bisa jadi banyak yang terpikat karenanya. Jangankan dulu, sekarang saja saat beliau sudah berumur, masih saja ada yang berkenan dan bersedia menjadi istrinya. Selain karena parasnya, tentu saja karena faktor keulamaannya.

Wajahnya teduh. Bawaannya sejuk. Murah senyum, gesturnya kalem. Kalau sedang ceramah, sering membuat jamaah tertawa. Menertawakan kekonyolan perilaku kita, dan kadang menertawakan diri sendiri. Tertawa bersama, sebuh ekspresi yang sarat dengan muhasabah atau otokritik.

Walau beliau berilmu dan berpengetahuan tinggi, juga dalam, dan karenanya jamaah amat hormat padanya, yang dimanifestasikan dengan bersalaman cium tangan bolak balik, beliau kadang menolak. Isyarat bahwa beliau tak ingin diperlakukan berlebihan. Apalagi dikultuskan.

Kekaguman saya pada beliau bermula pada suatu acara pernikahan saudara sepupu saya. Beliau bertindak sebagai “naib” sekaligus memberikan tausiyah nasehat perkawinan. Usai acara, biasanya sohibul hajat menyampaikan wujud terima kasih dengan memberikan simbol berupa “berekat”.

Saat itu, beliau menolak. Bahkan tanpa diduga, beliau merogoh saku dan mengambil belasan lembar uang seratus ribuan, dan membagikannya kepada hadirin, juga hadirot. Juga beliau bagikan kepada anak-anak, parawali, dan petugas keamanan. Subhanalllah.

Saya amat jarang menemukan tokoh agama yang mau bertindak demikian; berkenan hadir memberikan restu dan doa, menyampaikan tausiyah berupa nasehat perkawinan, lalu membagikan uang kepada yang hadir. Itulah awal kekaguman saya pada beliau. Itulah mengapa saya semat dengan sebutan ulama paripurna.

Walau demikian, dari sekian isi tausiyahnya, ada dua hal yang membuat saya berbeda cara pandang dengannya. Dua hal ini sejatinya pernah saya rencanakan akan langsung konfirmasi dengannya. Dua perkara itu tentang “keunggulan dzuriat nabi”, dan prediksinya tentang akan munculnya tokoh “ratu adil” dari Gunung Karang.

Sayang, sebelum keinginan saya terwujud, beliau sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Selamat jalan Abuya. Saya bersaksi, bahwa engkau bukan saja pribadi yang baik, tetapi juga teladan, sehingga engkau layak disebut sebagai ulama paripurna.

Kepergiannya, merupakan kehilangan besar bagi umat dan negara. Banyak narasi bertebaran, bahwa ini pertanda mendekati akhir zaman. Ini merupakan bukti, bahwa demikian cintanya umat pada almarhum. Semoga kepergian beliau, Allah ganti dengan sosok-sosok warosatul anbiya lainnya, yang mirip dengannya, ulama paripurna.

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu. Amin..